Posted in Just For Fun

Fermented Cassava


Tape. Sebuah kata yang udah ngga asing lagi di telingaku. Secara, tempat aku tinggal sekarang dekat dengan daerah yang memproduksi tape. Banyak sekali jenis tape yang kita ketahui, ada tape ketan, tape piyem, tape Gembong, and teman-teman tape lainnya. Pada tau, kan? Ngga tau ya udah. Derita lo! *peace* Kali ini, aku akan bercerita tentang pembuatan tape.

Pembuatan tape ternyata ngga sesusah yang kita kira kalo kita bisa *yosuweleh -_-*. Aku n teman-teman sekelas belajar membuat tape beberapa waktu lalu. Acara ini dalam rangka mempelajari bioteknologi konvensional (Conventional Biotechnology). Apa itu bioteknologi? Biotechnology is the utilization of organisms to solve problems or to make useful products. Hehehe, nggaya sithik pake inggris! Atau dalam bahada Indonesia lebih dikenal sebagai pemanfaatan prinsip-prinsip ilmiah yang menggunakan makhluk hidup untuk menghasilkan produk dan jasa guna kepentingan manusia.

Bioteknologi terbagi dua, yaitu conventional biotechnology and modern biotechnology. Yang kami pelajari kemarin adalah bioteknologi konvensional. Yaitu bioteknologi yang memanfaatkan mikroorganisme untuk memproduksi alkohol, asam asetat, gula, atau bahan makanan lainnya.

Tape dibuat dari bahan dasar ketela pohon dengan menggunakan sel-sel ragi. Ragi menghasilkan enzim yang dapat mengubah zat tepung menjadi produk yang berupa gula dan alkohol. Microorganisme yang digunakan dalam hal ini adalah Saccharomyces cerevisae.

Pembuatannya mudah. Secara sederhana, kita hanya perlu 1 kg ketela pohon yang sudah dikukus terlebih dahulu (ini jumlah yang aku pakai waktu percobaan), ragi, besek/ceting, dan daun pisang. Prosedurnya:

  1. Potong-potong ketela yang sudah dikukus
  2. Haluskan ragi secukupnya
  3. Setelah halus, lumurkan (balutkan) pada potongan ketela. Jangan terlalu tebal, jika tebal akan membuat rasanya kecut
  4. Setelah itu, lapisi besek/ceting dengan daun pisang
  5. Masukkan ketela yang sudah diberi ragi dan tutup lagi dengan daun pisang. Usahakan rapat
  6. Diamkan beberapa hari (2-3 hari), and ready to serve.

Gampang, kan?!! Eits, tapi jangan lupa, tangan dan hati harus bersih ketika membuat tape. Masyarakat membuat tape berdasarkan pengalaman dan mereka mempunyai kepercayaan. Mereka percaya, jika tidak dibuat dengan tangan dan hati yang bersih, tape akan berasa kecut. Maka dari itu, sebelum mebuat tape cuci tangan kalian dan bersihkan hati kalian. Niscaya, tape kalian akan seenak yang kami buat! Hohoho😮. Tape buatan kami manis lho, walaupun sedikit berbeda dengan tape yang dijual di tukang keliling. Tapi tak apalah, yang penting enak dan bisa dimakan!😉

Selamat Mencoba!

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s