Posted in Fanfiction, Oneshoot

[Oneshoot] Love Story


Title      : Love Story

Author : Kira

Cast       :

  • Main cast        : Park Sanghyun (Thunder – MBLAQ), Song Ji Hyun (OC)
  • Support Cast : Lee Hong Ki (FT Island), Lee Gikwang (B2ST), Kang Min Hyuk (CN BLUE).

Genre   : School, Romance

Rating  : PG15

Disclaimer: This story is inspired by Japanese Manga with title “Houkage Love Age.”

*****

Annyeong haseyo… Saya kembali! Kali ini dengan sebuah fanfict yang nggak tahu gimana bentuknya -.-v Masih pemula. Ini ff pertama aku. Jadi maklum ya kalo ceritanya jelek, nggak rapi, banya typo. Semoga aja ada yang mau baca and syukur di komen🙂 ah, ne. ceritanya dapat ari komik jepang berjudul sama. jadi alau kalian merasa pernah baca cerita kayak gini, erarti dari komiknya. dan korban pertama yang jadi pemeran ff saya adalah… si sipit Thunder!!😄 Okey. selamat membaca. Gamsahamnida.

*****

Istirahat pertama, kelas 2A.

JI HYUNPOV

Ahh… Aku bosan!! Sedari tadi aku hanya memandang Min Ah membaca novelnya. Sungguh tidak ada kerjaan. Aku lupa membawa uang tadi. Jadi tidak bisa pergi ke kantin. Meminjam uang? Aku sudah sering melakukannya… Aku tidak mau merepotkan lagi. Jadilah aku terdampar di sini.

“Min Ah…” aku merajuk.

“Hm? Jangan mengangguku, Hyun. Mian. Deadline ini.” Katanya sambil tetap membaca novelnya.

Deadline apaan? Deadline pengembalian buku?! Biaya sewa novel sekarang kan murah. Masa nggak mau memperpanjang, sih? Pelit sekali.

Kupandangi seisi kelasku. Sebagian dari isi kelas sedang istirahat di luar kelas, entah ke kantin atau sekedar jalan-jalan. Sisanya hanya ada aku, Min Ah, 3 namja yang sedari tadi ribut bermain, Jessica dan beberapa teman perempuanku yang sibuk berdandan. Kembali ku arahkan pandanganku ke Min Ah, yang sekarang sudah sampai di pertengahan novelnya. Cepat sekali ia membacanya. Terakhir aku lihat baru sedikit.

“PENALTY GAME!! PENALTY GAME!!” Ramai lagi. Aku pikir tadi sudah cukup berteriaknya. Siapa lagi kalau bukan 3 namja di pojokan itu, Lee Gi Kwang, Kang Min Hyuk, dan– Park Sang Hyun.

“Aish… Mereka berisik lagi,” kata Min Ah kesal. Kegiatan membacanya jadi terganggu gara-gara mereka. Entah apa yang mereka mainkan, aku dan Min Ah tak tahu. Yang aku dengar dari mereka hanya hitungan angka dan kemudian berteriak. Tidak jelass… -__-

“YA!! Kalian bisa diam tidak?!” Jessica dan teman genknya juga terlihat kesal oleh tingkah mereka.

Aku yang sedari tadi hanya melihat Min Ah membaca novelnya membalikkan badan dan memandang sekumpulan teman kami yang berisik itu. Tidak hanya berteriak, sekarang mereka malah saling dorong satu sama lain. Tidak kami hiraukan. Min Ah kembali sibuk membaca, dan aku kembali sibuk memandanginya. Tiba-tiba Gi Kwang memanggilku.

“YA! SONG JI HYUN!!” teriaknya.

Aish. Jinjja. Masih dalam satu kelas dia terima berteriak?! Mentang-mentang suaranya bagus begitu?!

“Mwo?” ucapku malas-malasan sambil menoleh ke arahnya.

“Thunder bilang dia menyukaimu!!” teriaknya sambil tertawa. Min Hyuk yang berada di sampingnya pun ikut tertawa.

Eh? Apa dia bilang? Thunder? Sanghyun maksudnya? Menyukaiku? Aku hanya bisa memasang wajah cengo.

Pletak! Sanghyun memukul kepala Gi Kwang.

“Ya!! Appo!!” kata Gi Kwang sambil mengelus-elus kepalanya.

“Bodoh!! Bukan begitu juga!!” kata Sanghyun pada Gi Kwang.

“Ara ara. Mianhae.” Gi Kwang hanya meringis sambil kembali ke bangkunya.

“Ige mwoya?”

“Mereka masih memainkannya? Kekanakan sekali. Tak ada kerjaan lain apa?”

Kata Yoona dan Gyuri sambil menghampiriku. Mereka sudah kembali. Sudah bel ternyata. Aku pun kembali ke tempat dudukku. Yoona yang tempat duduknya di depanku pun sudah duduk manis. Aku yang penasaran kemudian bertanya pada Yoona. Permainan?

“Permainan? Apa itu?”

“Bukankah mereka tadi sedang bermain? Mereka sering memainkannya. Berhitung. Semacam Do-Mi –Ka-Do gitu. Kalau mereka kalah, mereka disuruh menyatakan rasa suka pada seorang gadis yang jarang disukai,” terang Yoona.

Ah… Gadis yang jarang disukai? Aku? Jahat sekali… memang sih. Aku tidak terlalu popular di kalangan namja. Tidak masalah bagiku. Lagi pula tidak ada yang menarik menurutku, kecuali satu. Park Sang Hyun. Yap. Teman sekelasku yang tadi katanya menyatakan suka padaku. Bodoh sekali karena aku sempat senang mendengarnya. Ternyata hanya permainan. Aku pikir sungguhan. Jantungku bahkan sudah bekerja lebih keras ketika tadi mendengarnya. Tapi aku penasaran, kenapa namaku yang disebut? Bukankah lebih banyak yeoja lain yang tidak terkenal sepertiku? Aish! Molla molla! Seperti orang bodoh saja aku ini.

*****

Jam istirahat kedua. Aku masih saja terkurung di dalam kelas. Kali ini karena committee meeting. Kelasku sudah biasa digunakan untuk acara semacam ini. Sekolah kami akan mengadakan semacam Bazaar untuk meramaikan HUTnya. Dan kami, siswa kelas 2, mendapatkan tugas untuk mendekor suasananya. Tidak semua, hanya beberapa siswa dari tiap kelas. Dan beruntungnya, aku termasuk. Menyebalkan. Aku malas sekali. Lapar lagi. >,<

Beberapa teman seangkatan yang bernasib sama denganku pun memasang tampang yang muram. Mereka memutuskan untuk membuka jendela, meletakkan pekerjaan mereka, dan memandang lapangan yang sedang berlangsung pertandingan kasti antara kelas ku dan kelas 2B. Aku ikut memandang ke jendela di sampingku, kemudian membukanya.

“Ji Hyun-a!”

Ada yang memanggilku? Ah? Hong Ki sunbae?

“Ah, ne, sunbae. Waeyo?” Jawabku malas. Hong Ki itu kakak kelas kami. Dia sering ke kelasku. Tentu saja untuk menemuiku. Dari kabar yang beredar, sepertinya dia menyukaiku. Aku tau itu, tapi tak kupedulikan. Karena kau tau kan, aku hanya memandang seorang saja.

“Oh. Wajahmu terlihat mengenaskan,” sindirnya.

“Mwo? Katakan intinya. Aku sedang malas.”

“Araa. Ini. Band kami akan tampil di acara bazaar amal itu. Kuharap kau mau menonton. Sudah ku berikan tiketnya.”

Menonton bandnya? Ah, ne. Aku lupa. Dia punya band, dan dia vokalisnya. Aku tidak suka menontonnya. Bukan karena jelek. Bagus. Aku suka musiknya. Mereka termasuk band terbaik yang pernah aku tonton. Lalu, kenapa aku tak suka menontonnya? Alasan sepele. Karena Hong Ki sunbae menyukaiku, banyak yeoja yang memandang sinis tiap aku menontonnya. Bahkan ada yang berani melabrakku. Itulah yang aku tidak suka. Aku tidak terlalu mendengar apa yang dia bicarakan. Aku kembali memandang jendela. Ada Sanghyun disana. Dia ikut bermain.

*****

Sudah jam 4 lebih. Melewati jam pulang sekolah kami. Committee meeting itu sungguh menyebalkan. Seenaknya saja mengulur jam pulang ku. Aduuh~ Perutku lapar sekali. Aku ingin segera pulang dan makan. Hong Ki sunbae tadi menawari untuk mengantarku pulang. Aku menolak. Tentu saja karena alasan itu.

Ah, ne. Aku lupa. Sepertinya aku harus menunda makanku lagi. Barang-barang ini harus ku taruh loker dulu. Dengan langkah super malas, aku berjalan ke lokerku di ruang loker. Sudah sepi sekali. Tentu saja, sudah jam berapa ini?! Mana ada siswa yang mau menghabiskan waktu sesore ini di sekolahan?!

Aku menutup pintu lokerku, dan berbalik.

“Ommo!” bisikku kaget. Sejak kapan Sanghyun berada di sampingku?! Dia tidak berbicara apa-apa. Hanya mengambil payungnya, kemudian berbalik, hendak pergi. Sepertinya dia tak menyadari keberadaanku. Yah… kami hanya bertemu dan tidak berbicara satupun? Kasihan sekali kau, Song Ji Hyun… Aku menunduk tambah lesu.

“Kau tak mau pulang?” kata seorang namja.

Mwo?  Siapa yang berbicara? Dengan siapa dia bicara? Aku mendongak. Park Sanghyun, kah?

Dia belum pulang ternyata. Berdiri di depan pintu, menatap ke arahku, dan terlihat seperti sedang menunggu. Menunggu siapa? Aku?

“Ayo pulang,” ajaknya. Mwoya?! Dia mengajakku pulang? OMG!! Mimpi apa kau semalam, Ji Hyun-a?! Seorang Park Sanghyun berbicara padamu dan mengajakmu pulang!! ><

“Ah, ne.” saking senangnya aku tak sengaja menendang rak payung di samping hingga posisinya bergeser. Mati aku! Wajahku pasti sudah semerah kepiting rebus sekarang! Jangan sampai Sang Hyun melihatnya!

“Ah, hehehe. Mungkin kakiku ada magnetnya sampai rak payung pun menempel padaku,” kataku ngeles. Sang Hyun menatapku, tersenyum, dan menghampiriku. Dia memindahkan rak payung itu ke pojok ruangan.

“Kau tak apa kan?” tanyanya sambil menghampiriku lagi.

“Ne. Gomawo.” Kataku malu.

“Kajja,” ajaknya.

*****

Ini mimpi. Aku pulang bersama Sang Hyun. Aku pikir dia hanya mengajakku pulang, tidak mengantarku pulang. Walaupun kami tak saling bicara satu kata pun, aku sangat senang bisa pulang bersamanya :3 Aku tak tahu maksud Sang Hyun mengajakku pulang. Apa karena memang ingin mengajakku bersama, atau karena sudah terlalu sore, jam pulang sudah berlalu? Takut akan ada seorang penculik yang menculik gadis kecil nan imut sepertiku? *hueek* Entahlah. Tidak penting. Aku terlalu senang. Sampai tak menyadari kalau Sang Hyun yang berjalan di depanku berhenti. Aku pun menabraknya dari belakang. Memalukan.

“Mi..mian,” ucapku.

“Ji Hyun ah, kau lapar tidak? Mau makan di sana?” tanyanya sambil menunjuk warung kecil di pinggir jalan. Dia tidak menghiraukan tabrakanku tadi.

Eh? Makan? Tentu saja mau!! Perutku lapaaarrr!! Ehmm… Tidak-tidak. Kalau aku langsung bilang iya, nanti aku terkesan gadis gampangan. Jual mahal dikit lah, hehe.

“Aniyo. Aku sudah makan tadi. Masih kenyang,” kataku meyakinkannya. Bohong sekali! Sedari tadi cacing di perutku sudah meronta-ronta minta makan >.<

“Jinjjayo?” tanya Sanghyun.

Saat aku hendak menjawabnya, tiba-tiba terdengar suara dari perutku. KRUYUUK… Ampuun… Memalukan… Kenapa kau harus bersuara?! Pabo! Kutundukkan kepalaku. Aku tak berani menatap Sanghyun. Demi apapun, aku malu!! >///<

Ku dengar Sanghyun terkekeh. Aku yakin dia pasti sedang menertawakanku.

“Ya! Perutmu sudah menjawabnya! Lagipula kuperhatikan tadi sepertinya kau tidak makan sama sekali. Jangan berbohong. Kajja,” katanya sambil masih terkekeh kecil. Aku tetap menunduk dan tidak menghiraukan ucapannya. Karena terlalu lama menunggu reaksiku, dia langsung menarik tanganku menuju warung di pinggir jalan itu. Apa lagi ini?! Sanghyun menggandeng tanganku?! Aigoo… Bisa mati berdiri aku karena terlalu senang! >,<

*****

Sambil melanjutkan perjalanan, aku memakan makanan hasil traktiran Sanghyun tadi. Hmm… Enak sekali!! Kau memang mengerti perasaan perutku Sang Hyun-a!!

“Mmm! Mashitta! Gomawo, Sanghyun-a!” kataku sambil masih memakan makananku. Dia tidak menghiraukanku. Masih berjalan sambil ikut memakan makanannya.

Kami tidak makan di warung itu. Setelah sampai di sana, ternyata warungnya penuh. Jadilah kami membukusnya. 2 buah roti buaya. Roti buaya yang dijual di sini katanya beda. Kabarnya rasanya sangat enak. Berbeda dengan roti buaya lainnya. Dan sudah terbukti, ini enak sekali!! Kami makan sambil berjalan dalam diam. Seperti biasa. Aku heran, biasanya, jika ia sudah berkumpul dengan 3 idiots itu dia jadi ramai, kenapa sekarang diam? Tiba-tiba dia memanggilku.

“Ji Hyun,”

“Ne?”

“Aku minta maaf, atas kejadian istirahat tadi,” katanya sambil menunduk. Ah, soal itu ternyata.

“Gwenchana. Aku mengerti. Itu hanya permainan, kan? Jangan dipikirkan,” ucapku sambil memasang wajah yang sengaja kubuat senang. Yap. Itu hanya permainan, Ji Hyun. Jangan menganggapnya lebih… Ucapku dalam hati.

“Tapi…” ucapan Sanghyun terhenti karena aku langsung memotongnya.

“Itu tidak benar, kan? Tenang saja. Aku tak tersinggung, kok. Aku sungguh mengerti,” kali ini ku pasang senyum manisku dan juga wajah yang meyakinkan. Aku yakin dia takut aku merasa tersinggung karena permainan konyol itu.

“Kau salah. Kau tidak mengerti,” ucapnya pasrah pada akhirnya.

“Hah?” Aku menghentikan makanku, langkahku, dan menatapnya.

Sanghyun ikut menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku.

“Permainan itu. Yang kalah bukan disuruh untuk menyatakan perasaannya pada seorang gadis yang tidak terkenal, tapi menyatakan perasaan pada gadis yang benar-benar disukai,” ucapnya sambil menatapku.

Eh? Apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Ani, aku mengerti tapi tidak ingin salah mengerti. *apadeh ribet*

“Menyatakannya tanpa paksaan,” jelas Sang Hyun lagi karena melihat ekspresi wajahku yang seperti orang tolol pastinya.

Aku hanya terdiam. Jadi maksudnya….

“Jadi maksudnya, tadi itu benar. Itu kenyataan. Aku memang menyukaimu.” Kata Sang Hyun sambil menatapku. Kembali menjelaskan padaku agar lebih jelas.

Ige mwoya? Apakah ini mimpi (lagi)?! Aku tak bisa berkata apa-apa. Ditambah lagi Sang Hyun yang terus menatapku. Membuatku grogi.

“Be.. begitu ya? Itu… bagus sekali.” Kataku gugup. Keluar begitu saja. Tanpa pemikiran. Polos. Asli. Murni.

Mwo? Apa yang ku katakan? Ya Ampun. Blak-blakan sekali. Aku hanya bisa meringis tak jelas. “Hehehe.” Aku terlalu salah tingkah sampai tak menyadari ada sepeda berkecepatan tinggi yang berjalan ke arahku.

“AWAS!!” Sang Hyun berteriak di depanku. Ada apa? Aku menoleh ke belakang, dan…

“Hehehe. Mian, Nuna!!” kata bocah itu sambil berlalu dengan sepedanya.

“YA!! Hati-hati kalau bersepeda!! Lihat depan!!” teriak Sang Hyun ke bocah tadi.

Kesadaranku belum sadar semua. Aku masih kaget. Saat sadar, ternyata aku berada dalam pelukan Sang Hyun.

“Gwenchana?” tanyanya cemas.

“Ah, ne. Nan gwenchana. Gomawo.” Kataku sambil melepaskan diri dari dekapannya. Tapi lenganku masih dia genggam.

“Mi.. mian.” Ucapnya sambil melepas genggamannya. Aku hanya tersenyum. Kemudian dia melanjutkan berkata, hal yang membuatku terkejut.

“Mian,, tapi, bolehkah aku menggangdengmu?”

Tanpa sadar, aku segera mengulurkan tanganku. Haha. Kekanakan sekali aku ini. Song Ji Hyun BABO!! Malu sekali!! Wajahku kembali memerah. Dan dengan segera aku menarik tanganku lagi kembali ke tempatnya. Tapi  terlambat. Sanghyun sudah menggenggamnya dulu dan tersenyum. Kami pun melanjutkan perjalanan pulang sambil bergandengan tangan.

*****

— A few days later, bel pulang sekolah, kelas 2A  —

JI HYUN’s POV lagi

“Ji Hyun-a, ayo kita pulang. Mampir ke warung roti di pinggir jalan itu yuk. Pengen…” ajak Min Ah padaku.

“Ah, mianhae. Masih ada laporan yang harus ku selesaikan. Kau pulang saja duluan,” kataku sambil masih sibuk membereskan kertas-kertas laporan committee meeting tadi.

“Baiklah. Aku duluan ya. Jangan capek-capek,” katanya sambil melambaikan tangannya padaku. Menatapku kasihan.

“Ne. Mianhae,” ucapku menyesal. Sudah dua kali aku mengingkari janjiku untuk menemaninya ke warung pinggir jalan itu. Warung yang menual roti buaya super lezat itu. Dia sudah menginginkannya sejak dulu, sedangkan aku, yang tidak mengetahui apa-apa malah sudah merasakannya. Berkat Sanghyun pastinya.

“Bye, Ji Hyun!! Duluan yah!!” kata teman-temanku yang lain. Aku hanya membalas melambaikan tanganku. Dan kini, tinggallah aku sendiri di sini. Mengerjakan laporan yang benar-benar menyebalkan. Untung tinggal 5 lembar. Belum lagi mengembalikannya ke loker Kim Seonsaeng dan memberikan kuncinya ke kantor. Haahh… Lelah sekali.

Tiba-tiba pintu terbuka. Nugu?

“Hei,” sapanya.

Ah, Sang Hyun ternyata. “Kau tidak pulang?” tanyaku.

Ini obrolan pertama kali kami sejak peristiwa bergandengan tangan. Setelah kejadian itu, dia masih saja jarang berbicara denganku. Sepertinya dia hanya mengajakku mengobrol jika kami sedang berdua saja. Dan selama ini, dia tak pernah jauh dengan genk 3 idiotsnya itu, dan aku pun tak jauh-jauh dari Min Ah, Yoona, dan Yuri. Dan beginilah jadinya. Moment setiap kami hanya berdua saja selalu menjadi moment berharga bagiku.

“Kau juga. Apa yang sedang kau tulis?” tanyanya sambil menghampiriku.

“I… itu. Committee Log kemaren,” jawabku gugup. Gimana nggak gugup? Dia bertanya sambil menatap wajahku lekat. “Hanya tinggal sedikit. Menyalin yang tahun kemarin.” Jelasku ketika ia mengamati hasil pekerjaanku.

“Ah… Boleh aku menyalinnya?” tanyanya. Lagi-lagi sambil menatapku.

“Eh? A… Aniyo. Aku bisa mengerjakannya. Tinggal sedikit saja kok,” kataku setelah paham apa maksud ucapannya. Dia ingin membantuku menyelesaikannya. Aku tidak ingin merepotkannya.

“Geurae. Karena itu, aku akan menyelesaikannya. Dan setelah itu, kita pulang bersama,” katanya santai. Mwo? Pulang bersama lagi? Aku senang sekali… Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Sambil menyerahkan sisa tugasku pada Sanghyun.

Sementara Sang Hyun mengerjakan tugasku, aku hanya memandanginya. Sungguh, dia tampan sekali. Dalam keadaan serius pun tak terlihat kekurangan apapun. Aku semakin menyukainya. Tapi hei,, sebenarnya bagaimana status kami ini? Sang Hyun sudah pernah bilang kalau dia menyukaiku, tapi hanya segitu saja. Aku tak berkata apapun. Apakah kita termasuk berpacaran? Atau hanya sekedar teman? Aku tak mengerti…

Saat asyik menatap Sang Hyun, tiba-tiba dia mendongakkan wajahnya dan menatapku. Kontan mukaku langsung memerah. Aku langsung mengalihkan wajahku. Aku ketauan sedang memandanginya langsung!! AAAH!! Maluuu sekali!!

Sang Hyun tersenyum. “Sudah selesai. Ada yang harus dikerjakan lagi?” tanyanya.

“Aniyo. Hanya mengembalikannya ke loker Kim Seonsaeng dan memberikan kunci itu padanya,” jawabku.

“Kalau begitu, kajja!” katanya .

*****

AUTHOR POV

“Kalau begitu, kajja.” Sang Hyun beranjak dari tempat duduknya dan membantu Ji Hyun merapikan barang-barangnya. Kemudian dia menggandeng Ji Hyun ke ruang penyimpanan loker. Sebelah tangannya ia gunakan untuk membawa separuh dari tugas Ji Hyun.

“Yang mana lokernya?” tanya Sang Hyun setelah mereka sampai di tempatnya.

“Nomor 2021,” jawab Ji Hyun sambil mencari tempat loker itu berada.

Mereka berdua mencari mengelilingi loker-loker sampai akhirnya Ji Hyun menemukannya.

“Chajatta!! Sang Hyun-a,, yeogi!” katanya sambil memanggil Sang Hyun. Sang Hyun segera kesana dan membuka kuncinya.

“Bisa, kah?” tanya Ji Hyun cemas. Mengingat keadaan kunci itu yang sudah sangat berkarat. Kim Seonsaeng juga sudah mengingatkannya agar berhati-hati karena keadaan kuncinya memang sudah keterlaluan reyotnya.

“Ji Hyun-ah! ottoke?!” tanya Sang Hyun. Wajahnya pucat. Panik.

“Waeyo?” tanya Ji Hyun ikutan panik.

“Ini… kuncinya…” kata Sang Hyun tambah panik.

“Kucinya kenapa?!!” Ji Hyun nggak kalah panik.

“Ini… Kuncinya… Aku… Aku… Aku bisa buka! Taraa!” kata Sang Hyun sambil tertawa. Ji Hyun melongo.

“Kau mengerjaiku?!” tanya Ji Hyun tak terima.

“Haha. Mian. Kau tau, wajahmu saat panik lucu juga.” Kata Sang Hyun sambil memasukkan kertas-kertas laporan tadi ke loker. Tak lupa senyum masih menghiasi wajah tampannya.

“Nggak lucu.” Ji Hyun ngambek. Dia berbalik memunggungi Sang Hyun.

“Ya… Mianhae. Aku hanya bercanda…” Sang Hyun berusaha meminta maaf pada Ji Hyun yang sedang ngambek. Ji Hyun hanya membuang muka. Tanpa sengaja, tangan Sang Hyun menyenggol kunci loker usang  yang masih tertancap itu dan… patah.

“OMMO! Ottoke?!” tanya Sang Hyun panik. Kali ini sungguhan. Tapi Ji Hyun yang terlanjur ngambek tak menanggapi.

“Ji Hyun-a!! Ottoke?!” tanya Sang Hyun, masih panik. Bukan karena dia takut disuruh mengganti kunci yag patah, tapi karena takut pemilik kunci itu marah. Semua orang tahu, Kim Seonsaeng terkenal sebagai orang yang nggak suka kalau barang-barang miliknya kembali tidak seperti keadaan awalnya.

“Wae?” jawab Ji Hyun ketus.

“Ji Hyun-a~! Kuncinya… kuncinya patah!” kata Sang Hyun. Kali ini sambil merengek.

“Jangan bercanda,” kata Ji Hyun masih tak menganggapnya serius.

“Sungguh! Aku tak bohong. Bagaimana ini?!!” tanya Sang Hyun. Kali ini nada rengekkannya lebih terdengar.

“Kau pikir aku akan tertipu— Eh?!” jawab Ji Hyun sambil berbalik dan dia terkejut mendapati kunci yang menadi tanggung jawabnya patah. Yang satu di dalam lubang loker, yang satu dalam genggaman Sang Hyun.

“Maafkan aku…” kata Sang Hyun menyesal.

“Ottoke…?!” Ji Hyun hanya bisa memasang wajah pasrah. Tak pantas juga menyalahkan Sanghyun. Bisa saja ini memang karena kuncinya yang sudah jelek, kan?

*****

Mereka berdua kini berada di ruang guru. Mendengar ceramah Kim Seonsaengnim.

“Kau ini bagaimana Ji Hyun? Kau tau kan, ini kunci satu-satunya,” kata Ji Hyun tegas sambil menatap ke arah Ji Hyun yang sedari tadi hanya menunduk.

“Maafkan saya, Seonsaengnim. Saya…” belum selesai Ji Hyun berkata, Sang Hyun sudah memotongnya.

“Ini salah saya. Maaf. Saya yang mematahkannya,” kata Sang Hyun sambil membungkukkan badannya.

“Sang Hyun-a,, tapi…” Ji Hyun mencoba menghentikan pembelaan yang dilakukan Sang Hyun, tapi, lagi-lagi Sanghyun memotongnya.

“Saya lah yang melakukannya, Mianhamnida,” kata Sang Hyun sambil membungkuk lagi. Kim Seonsaengnim menatap tajam pada kedua anak di depannya. Sang Hyun menunduk. Sedangkan Ji Hyun bersembunyi agak ke belakang tubuh Sanghyun dan meringis ketakutan. Mereka sudah siap apabila menerima kemarahan dari salah satu guru ter-killer di sekolah ini.

Tapi yang mereka bayangkan tidak terjadi. Tiba-tiba Kim Seonsaengnim malah tertawa cekikikan.

“Hahaha. Kalian ini lucu. Hanya kunci. Tak apa. Bisa buat lagi,” katanya di sela-sela tawanya.

Sang Hyun dan Ji Hyun hanya bisa melongo.

“Gimana caranya?” pertanyaan polos itu meluncur begitu saja dari mulut Ji Hyun.

“Kau lupa ada pembuat kunci?” jawab Kim Seonsaeng sambil menatap Ji Hyun.

“Tapi, kan, separuh kuncinya ada di lubang. Bagaimana bisa?” kali ini Sang Hyun yang bertanya dengan tampang bodoh.

“Kalian pikir tukang kunci bodoh seperti kalian?! Hahaha!” ucap Kim Seonsaeng sambil tertawa. Perkataan yang menyakitkan memang. Tak selang beberapa lama mereka akhirnya sadar,

“AH?” mereka berpandangan, lalu tertawa. Babo!! Bagaimana mungkin seorang tukang kunci yang jenius tak bisa mengatasi masalah sesepele ini?! Masalah seperti ini sudah sering mereka temui pastinya. Akhirnya Sang Hyun dan Ji Hyun pun menertawai kebodohan mereka.

“Sudah, sana pulang. Sudah sore,” kata Kim Seonsaeng akhirnya.

“Maaf sebelumnya, Seonsaengnim,” kata Sanghyun. Guru berumur lanjut itu hanya mengangguk.

“Permisi,” balas Ji Hyun.

Baru beberapa langkah mereka berjalan, panggilan Kim Seonsaengnim menghentikan mereka.

“Ya! Park Sanghyun!”

Sang Hyun menoleh. Begitu juga Ji Hyun yang penasaran kenapa Kim Seonsaeng memanggilnya.

“Ne?” jawab Sang Hyun.

Kim Seonsaeng diam sejenak menatap mereka berdua sebelum akhirnya kata-kata polos itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

“Park Sanghyun,… Apa kau berpacaran dengan gadis di sampingmu itu?”

Mwo? Keduanya bergeming.

“Song Ji Hyun,… apa kalian berpacaran?” tanya Kim Seonsaeng lagi.

Mereka berdua hanya menatap satu sama lain dan tak bersuara sepatah kata pun.

*****

— A few days later (again), Ji Hyun’s room —

Ji Hyun POV

Aku teringat perkataan Yoona, Gyuri, dan Min Ah kemarin. Apa yang harus kulakukan? Aku sudah cukup senang bisa dekat dengan dia. Menjalin hubungan yang lebih? Entahlah.

“Kalian berpacaran?” tanya Yoona padaku.

“Nugu?” Aku balik bertanya. Polos.

“Kau dan Thunder, cantiiik…” jawab Gyuri gemas sambil mencubit pipiku.

“Ah… Aniyo… Kami tidak berpacaran,” jawabku ragu. Aku bahkan tak tau bagaimana statusku di mata Sang Hyun.

“Benarkah? Tidak asyik… Bukankah kalian sudah dekat? Kenapa kau tak berusaha lebih keras lagi?” Kali ini Min Ah yang bersuara.

“Berusaha apa?” tanyaku tak mengerti.

“Mendapatkan dia. Kau tahu, semua orang  beranggapan kalian berpacaran. Padahal kenyataannya tidak. Apa kau tidak ingin itu menjadi kenyataan?”

“Ah,, aku… hanya mengikuti berjalannya waktu,” jawabku akhirnya. Aku sendiri tak tau apa yang harus ku lakukan.

“Kalau kau hanya mengikuti, kau akan menyesal nanti.”

“Eh?”

“Banyak yeoja yang mengincar pangeranmu itu. Kau tidak takut kehilangan dia? Kau tak takut kalau Thunder hanya menganggapmu teman saja?”

“Eh?” benar juga. Kalau mereka tahu kami tak berpacaran, pasti para fansnya itu kembali mengejarnya. Dan aku terpaksa akan kehilangan dia lagi.

“Maka dari itu, berusahalah menjadikan dia menjadi milikmu!! Hahaha!! Buat dia menyatakannya padamu!” Min Ah kembali bersuara.

“Menyatakan apa?”

“Menyatakan cinta, Ji Hyun…” jawab Gyuri. Lagi-lagi gemas melihatku seperti anak kecil begini. Tak mengerti apapun.

“Ih… Memintamu menjadi kekasihnya, pabo!!” Min Ah menjelaskan lagi.

Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku pertanda mengerti maksudnya.

Tapi tiba-tiba Yoona berkata, “Kenapa tidak Ji Hyun saja yang mengatakannya duluan? Bukankah hal itu sudah biasa sekarang? Seorang yeoja menyatakan cintanya pada namja terlebih dahulu.”

“Tidak boleh begitu… Aku tidak setuju dengan teori itu. Harga dir! Mana harga diri?!” kata Min Ah. Aku tak terlalu memperdulikan selanjutnya. Karena mereka hanya mempeributkan masalah harga diri, cinta, dan persamaan gender. Entahlah…

Sekelebat peristiwa itu kembali menyadarkanku dalam kenytaan. Sebenaranya apa arti aku di matanya? Sebatas teman? Atau kah lebih?

“Aish…. Molla molla molla…” aku mengambil selimutku sambil bersiap masuk ke alam mimpi.

*****

— the next day, Paran High School —

Still JI HYUN’s POV

Aku sedang berjalan menuju kelasku saat tiba-tiba aku mendengar ada yang memanggilku.

“Selamat pagi!” sapa seseorang di balikku.

Ah? Siapa yang menyapaku? Aku berbalik dan menemukan sesosok namja tampan yang akhir-akhir ini mengisi pikiranku.

“Ah, ne. Pagi, Sang Hyun-a,” jawabku sambil tersenyum. Bisa kebetulan ya. Aku bertemu dengannya di depan gerbang. Ah… Semakin hari dia semakin tampan saja. Sang Hyun~~ Bagaimana bisa ada namja yang setampan dirimu… :3

“Wae?” tanya Sang Hyun, heran. “Apa ada sesuatu di wajahku?” tanyanya. Ternyata sedari tadi aku tak sadar terus menatapnya.

“Ah,, aniyo,” jawabku gugup. Ketauan memandangnya lagi. Song Ji Hyun! Neo jinjja…! Dia hanya tersenyum. Ah… Nggak tahan~~ >///<

“Aku duluan ya. Ada urusan dengan seonsaeng,” katanya padaku sambil tetap tersenyum. Aku hanya mengangguk. Kemudian dia berlalu.

“Yeobo~~ Yeobo~~” Suara Gikwang terdengar dari belakang. Aku menoleh.

“Aku duluan ya, yeobo~~ Hati-hati!” Kali ini ganti Minhyuk.

Hah?? Apa maksudnya? Yeobo? Siapa yeobonya siapa? Aku tak mengerti.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Ya! Sejak kapan kalian berkencan?” Gikwang ganti bertanya sambil merangkul pundakku dari kanan.

“Si…siapa yang berkencan?” tanyaku gugup. Aku tahu maksudnya itu pasti aku dan Sanghyun. Tapi aku tak ingin mengatakannya. Sepertinya Sanghyun tak ingin kalo 2 orang temannya tahu tentang semuanya.

“Ya,, tak perlu menyembunyikannya lagi. Kami sudah tahu… kau dan Sang Hyun!” Min Hyuk menyahuti. Kini dia juga merangkulku dari samping kiri. Kenapa aku jadi terkurung begini?!

“Hey,, bagaimana kehidupan pernikahan kalian?” tanya Gikwang padaku. Pernikahan?! Nglantur sekali.

“Berterimakasihlah pada kami. Kami ini cupid kalian. Seharusnya kalian …” gantian Min Hyuk.

Pernikahan? Ini sudah berlebihan. Kami bahkan belum berpacaran.

“Hentikan. Perkataan kalian sama sekali tak lucu! Kalian tahu?! Semua itu sungguh mengganggu! Ini bukan seperti yang kalian pikirkan, kami tak punya hubungan apapun!” kataku sedikit membentak, menyela Gikwang yang hendak berbicara lagi. Mereka terdiam. Karena ucapanku, kah? Tapi wajah mereka terlihat ketakutan. Kenapa?

Ah, bukan ternyata. Pandangan mereka ada di belakangku. Aku menoleh kebelakang, dan, ommo! Sejak kapan Sang Hyun ada di sana?! Apa dia mendengar semua?! Dia menghampiri Gikwang dan Min Hyuk. Kemudian menyentil dahi mereka, seperti biasa.

“Ya!! Appo!!” jerit Gikwang tak terima.

“Aish…” Dahi Minhyuk pun tak terselamatkan.

“Berhenti meledekku,” bisik Sang Hyun pada mereka berdua. Aku tak bisa mendengarnya. Tapi sepertinya itu menakutkan. Karena setelah itu mereka berdua langsung pergi begitu saja dari hadapanku. Setelah mereka berdua pergi, ganti Sang Hyun menghampiriku.

“Mianhae… Jika semua ini membuatmu terganggu,” katanya, kemudian dia pergi meninggalkanku.

Ani. Bukan begini maksudku. Aku tidak terganggu. Sungguh. Aku hanya tidak ingin Sang Hyun merasa terganggu karena ia dekat denganku. Aku tidak ingin teman-temannya mengerjainya karena aku. Aku takut dia merasa terganggu karena teman-teman yang menganggap kita berpacaran padahal kenyataannya tidak. Sanghyun-a! Kau tak mengerti! Rengekku dalam hati. Air mataku sudah hampir keluar. Aku berusaha kuat menahannya sambil terus mengejarnya.

“Sang Hyun!!” Panggilku sambil berusaha mengejarnya yang telah pergi. Namun terlambat. Aku malah menabrak seseorang di depanku.

“Mianhamnida. Aku tak sengaja,” aku meminta maaf sambil menunduk.

“Ji Hyun?”

Eh? Aku kenal suaranya. Ternyata Hong Ki sunbae.

“Kenapa? Kau seperti ingin menangis?” tanyanya sambil menatapku. Tak ada waktu menjelaskan. Aku harus mengatakannya pada Sang Hyun.

“Aniya. Gwenchanha, sunbae. Mian, aku sedang buru-buru,” kataku sambil hendak berlari meninggalkannya. Namun tangannya menahanku.

“Hei, penampilanmu tak bisa berbohong. Kau terlihat kusut. Rambutmu, berantakan. Tak seperti biasa. Ada apa?” katanya sambil merapikan rambutku yang memang jadi berantakan gara-gara berlari tadi.

“Aniyo. Gwenchanhayo, sunbae,” kataku, berusaha menyingkirkan tangannya dari rambutku. Tapi percuma. Tanganku tidak cukup kuat melawan tangannya yang besar itu.

“Tapi aku suka. Kau terlihat lebih imut dengan rambut berantakan seperti ini, biarkan aku merapikannya sedikit,” katanya sambil tetap merapikan rambutku.

“Sunbae,,” aku masih berusaha melepaskan tangannya. Tiba-tiba, ada tangan yang menghindarkan lengan Hong Ki sunbae dari rambutku.

“Jangan pernah menyentuhnya.”

Aku menoleh. Sang Hyun? Dialah yang menghindarkan tangan Hong Ki sunbae dari rambutku. Hong Ki sunbae terlihat tak terima.

“Mwo? Ada apa denganmu? Kau anak kelas dua berani padaku?” tanyanya. Dari suaranya aku tahu dia sangat terganggu.

“So, what?” berbalik dengan Hongki, Sanghyun malah menjawabnya santai.

“Chakka, chakka. Ji Hyun, dia ini siapa? Apakah dia kekasihmu atau semacamnya?” tanya Hongki sunbae padaku. Dia mengalihkan fokusnya padaku. Menghiraukan keberadaan Sang Hyun. Sepertinya dia tak ingin terjadi pertengkaran. Aku tahu Hongki Sunbae bukan tipe orang yang suka berkelahi.

Aku tak menjawa pertanyaannya. Karena aku sendiri bingung sebenarnya aku siapa.

“Aku bukan kekasihnya,” Sang Hyun yang menjawab pertanyaan dari sunbae.

Eh? Jadi aku… ada sedikit rasa sedih di hatiku. Jadi dia menggapku hanya teman?

“Ya! Kau bukan kekasih Ji Hyun atau semacamnya. Lalu ada apa denganmu? Kenapa kau melarangku? Ah… aku tahu. Jangan-jangan kau suka pada Ji Hyun, tapi bertepuk sebelah tangan ya? Kau bilang Jangan menyentuhnya. Itu aneh…” Hong Ki sunbae terus memojokkan Sang Hyun. Sudah banyak murid lain yang menonton kami. Ini tak baik. Kenapa dia tak membela diri?! Sang Hyun, Babo!! Kau dengan suka rela dipermainkan di depan banyak orang begitu?!

“Geumanhe!” Aku tak tahan lagi.

“Dia adalah… namja yang ku sukai,” kataku akhirnya. Membuat semua mata ganti mengarah padaku. Hong Ki sunbae terbengong.

“Mwo? Kau bercanda, kan, Ji Hyun? Apa yang terjadi denganmu? Kenapa tiba-tiba begini?” tanyanya sambil menguncang tubuhku. Masih tidak terima dengan apa yang ditangkap indera pendengarannya.

“Lihat. Semua orang melihatmu! Dan kau menyatakan rasa sukamu di depan umum?! Kau bercanda kan Ji–” kata Hongki Sunbae. Ucapannya terhenti ketika lagi-lagi Sanghyun menghindarkan tangan Hongki sunbae yang terus menguncang-nguncangkan kedua lenganku. Sanghyun menarik lenganku dari genggaman tangan Hongki sunbae.

“Kau sudah mendengar semuanya. Langsung dari Ji Hyun. Jadi, jangan pernah kau, selama sisa hidupmu, selamanya, menyentuhkan tanganmu lagi di dirinya. Tolong,” ucap Sang Hyun tegas di depan Hongki sunbae. Memberi penekanan pada setiap kata yang dia ucapkan.

Mwo? Apa yang barusan Sanghyun katakan? Aku tak bisa mencerna maksud dari setiap perkataannya.

Setelah mengatakan itu, dia langsung menarikku pergi, meninggalkan siswa lain yang terbengong, dan tentu saja Hong Ki sunbae yang masih tak terima.

“Ji Hyun?! Ji Hyun?!! Bagaimana kau bisa melakukan ini padaku?!! Ji Hyuuun!!” rengek Hongki Sunbae tak terima. Dia meraung memanggil namaku. *lebayy* Aku tak bisa berkutik. Karena Sanghyun sendiri masih menarikku entah kemana.

*****

“Sanghyun-a! Appo! Lepaskan…” ucapku. Sedari tadi dia masih menarikku tanpa merenggangkan genggamannya di lenganku sedikitpun. Membuatku kesakitan. Sampai di depan perpustakaan, akhirnya dia melepaskan ku.

“Ji Hyun-a . . .” panggilnya. Tanpa berbalik menghadapku.

“Apa?!” tanyaku kesal. Tanganku sakit tau. Dia pikir tidak sakit apa? Tangan sebesar miliknya menarik kuat lengan kecilku!

“Yang kau katakan tadi, apa itu benar?”

“Itu…” belum selesai aku menjawabnya, Sanghyun membalikkan badannya dan langsung memelukku. Ommo! Jantungku!

“Aku… sangat senang mendengarnya,” katanya sambil tetap memelukku. Aku hanya terdiam. Tak tau harus melakukan apa. Kemudian aku tersadar. Aku hendak menjelaskan kejadian tadi pagi itu. Yang membuat Sang Hyun salah paham.

“Mianhae, tadi pagi itu, bukan maksudku berkata begitu. Aku—” lagi-lagi. Belum selesai aku menyelesaikan ucapanku Sanghyun langsung memotongnya.

“Gwenchana…” katanya sambil melepaskan pelukannya dan ganti menatap wajahku.

“Karena aku sudah mendengar kata-kata yang sangat aku ingin dengar dari mulutmu, aku tidak butuh apa-apa lagi,” lanjutnya. Perlahan dia mendekatkan wajahnya padaku. Dan kurasakan sesuatu yang hangat menempel di bibirku. Dia menciumku lembut.

Ommo! Apa aku bermimpi?! Sanghyun menciumku! OMG! Aku hanya bisa memejamkan mata dan larut dalam kelembutan yang dia berikan.

“Bersediakah kau menjadi kekasihku?” tanyanya setelah melepaskan ciuman kami.

“Eh… Urutannya salah,” Ucapku polos.

“Mwo?” tanyanya bingung.

“Dari novel yang aku baca, kalau seorang namja hendak menyatakan perasaannya pada yeoja dia–” lagi dan lagi. Penjelasanku terpotong oleh perkataannya. Sepertinya dia mengerti maksudku.

“Ah… begitu. Jadi, apakah aku harus menciummu lagi setelah kau mengatakan jawabannya?” tanyanya.

“Bukan.. bukan begitu maksudku…” Babo! Kenapa aku jadi terlihat menginginkan dia menciumku lagi?! Kau bodoh, Song Ji Hyun!

“Baiklah. Aku tak memerlukan jawabanmu. Aku sudah tahu. Ku anggap itu sebagai jawaban ya. Dan… begini, ‘kan, yang benar?” katanya sambil mendaratkan bibirnya di bibirku lagi.

Aku hanya bisa terdiam. Malu tau!!

“Ah. Tidak penting bagaimana urutannya. Yang jelas sekarang kau kekasihku,” kata Sang Hyun sambil memelukku lagi.

Aku tak terima! Masa’ hanya aku yang terlihat bodoh?!

“Memang aku mau jadi kekasihmu?” tanyaku polos. Sanghyun langsung melepaskan pelukannya dan menatapku heran.

“Kau yang mengambil kesimpulan sendiri. Padahal sebenarnya—” aku sengaja menghentikan perkataanku. Sanghyun terlihat sangat panik.

“Ji Hyun-a, jangan bilang kau…” tampangnya memelas kali ini.

“Haha! Babo! Aku kan sudah bilang! Aku menyukaimu, Sang Hyun-a! Lihat tampangmu!” kataku sambil mencubit pipinya gemas.

Sanghyun hanya melongo.

“Ya!! Kau mengerjaiku?! Awas kau, Song Ji Hyun!!!” katanya sambil berlari mengejarku!

***** THE END *****

Gimana gimana gimana?? Jelek ya?😦 maklum… Makasih buat yang udah mau baca. kasih komen dong, biar bisa memperbaiki diri. Gamsahamnida…

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s