Posted in Fanfiction, Oneshoot

[One Shoot] What is it?


Judul     : What is it?

Author  : Kira

Pemain : Cho Jino, Son Naeun

Genre   : Romance, School

Rating   : PG 13

*****

Annyeong. Berbagi FF kedua saya. FF ini adaptasi dari komik Jepang judulnya Kirai Kirai Mo. Jadi kalau kalian baca ceritanya mirip, emang terinspirasi dari situ😀

Jino dan Naeun punyanya grup dan agencynya. FF ini milik saya, cerita aslinya milik komik. jangan jadi plagiat yah😀

*****

Aku tak terlalu mengerti kenapa. Yang jelas setiap kali kami bersama, kami tak pernah bisa akur. Dan aku benci fakta ini.

*****

— Jam PE. Lapangan indoor —

Kim Seonsaengnim menyuruh kami mengambil bola basket untuk latihan dribble. Dengan segera aku melangkah ke kerangjang tempat bola basket disimpan. Saat aku sudah menyentuh salah satu bola, dan hendak mengambilnya, sepasang tangan lain mencegahku. Telapak tangannya ia sentuhkan juga di bola basketku, hendak mengambilnya.

“Eh? Ada apa denganmu?” tanyaku. Tanganku lebih dulu mengambil bola itu dari keranjang.

 “Ini milikku,” kata namja itu dingin. Dan, hei! Bolaku direbut! Apa-apan ini?! Aku mendongak untuk melihat siapa pelaku itu. Aish. Anak ini ternyata.

“Ya! Aku duluan yang menyentuhnya!” bentakku tak terima.

“Tak penting. Yang jelas bola ini milikku. Sudah daridulu ini menjadi milikku. Aku selalu memakainya saat latihan, jadi ini punyaku,” jawabnya santai. Mwo? Alasan macam apa itu? Tak masuk akal!

“Ya! Kau bodoh, hah?! Semua bola di sini sama! Mana mungkin kau bisa mengenali itu yang biasa kau pakai?!” jawabku tak terima. Sungguh menggelikan! Aku segera merebut bola ku dari tangannya.

“Kalau memang semuanya sama, kenapa tidak kau ambil yang lain saja?” tanyanya tenang sambil merebut bola itu dariku dan pergi begitu saja. Mwo?! Apa katanya?! “Ya!!!” bentakku kesal. Tapi dia tak menanggapi. Aish. Dasar namja sialan!!! Daripada tambah kesal, aku berjalan ke pinggir lapangan dan duduk di samping sahabatku, Seo Ahn Byul.

“Kalian bertengkar lagi. Sungguh tak bisa akur, kah?” katanya.

“Mwo?” kataku sambil menatap wajahnya tajam.

“Kau dan Jino. Selalu saja bertengkar jika bertemu,” katanya sambil balas menatapku. “Kau tahu, kami sudah sering melihat pertunjukkan begitu dari kalian. Lucu juga sih, tapi kan nggak baik kalau terusan,” lanjutnya nyengir.

“Ya, aku tak bisa apa-apa, dia yang mulai. Jadi ya kuterima saja!”

“Tapi ya, dilihat-lihat, kalian ini mirip. Sejenis gitulah. Pantes sering berantem!” kata Byul sambil terkekeh.

“Mwo?! Ya! Jangan samakan aku dengan dia! Dia itu hanya anak manja yang sukanya cari perhatian orang—aww!!” Saat aku sedang berbicara dengan Byul, kepala bagian belakangku terpukul oleh sesuatu. Dan saat aku menengok… ternyata itu jaket Jino yang sengaja dipukulkan ke kepalaku.

“Upps. Tak sengaja,” katanya santai sambil hendak melangkah menjauh. Apa katanya? Tak sengaja?! Semua orang juga tau kalau dia sengaja!! Dan parahnya, tanpa mengucapkan maaf, ia pergi begitu saja?! “YA!!” Jeritku. Aku sudah tak sabar dengannya. Kurebut bola dari tangan Byul dan melemparnya ke arah Jino. “MATI KAU!!” daann… kena!! Kau hebat Naeun! Tepat kena kepala! 100 point untukmu! Haha.

“Ya! Sakit, bodoh!” katanya sambil mengusap kepalanya yang terkena bolaku.

“Kau yang memulai duluan!!” balasku tak terima.

“Tapi aku tak memukulmu sekeras itu, bodoh!!” jawabnya tambah tak terima. Haha. Aku pikir ini memang berlebihan. Tapi salah sendiri dia yang mulai! Ya sekalian saja kubalas dengan lebih kejam!

Aku melihat Byul berjalan keluar dari lapangan ini sambil melambaikan tangan pada … ku? Eh? Aku ditinggal?

“Ya! Seo Ahn Byul! Tunggu aku!!” teriakku sambil berjalan mengejarnya. Tak memperdulikan Jino yang masih saja meminta pertanggung jawaban dariku karena bola yang tadi ku lempar.

*****

Cho Jino dan Aku, Son Naeun, terkadang chemistry kita tak terlalu baik. Jika bertemu, kami selalu mencaci satu sama lain, dan berakhir dengan pertengkaran. Ah, tidak-tidak! Bukan karena chemistry kita buruk, tapi karena Jino yang selalu memulainya duluan! Jadilah aku ikut menanggapinya. Seperti saat ini.

Ketika tak sengaja aku menoleh, Jino lewat di hadapanku. Dan kau tau apa yang dia lakukan padaku? Dia menjulurkan lidahnya ke arahku. Mwo?! Apa-apaan dia ini?!

“Haha! Wajahmu lucu sekali! Untuk siapa itu tadi?” kata seorang yeoja di sampingnya. Ternyata dia melihat Jino ketika menjulurkan lidah padaku.

“Untuk seorang yeoja yang sangat… bodoh,” kata Jino santai sambil berjalan melewatiku begitu saja.

MWO?! Bodoh?! Berani sekali kau mengataiku bodoh?! Kau tak sadar kalau kau juga bodoh, hah?! Nilaimu dan nilaiku hanya terpaut sedikit tau! Kau 94, aku 49! Itu terpaut sedikit kan? Hanya tinggal menukar letak angka saja ._.v Ah. Oke. Aku salah. Aku memang bodoh. Tapi, aku tak terima kalau terus-terusan begini!

“Arasseo. Cho Jino. Kau yang memulainya duluan. Kau terang-terangan mengatakan kalau kau membenciku. Baiklah. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Tunggu saja aksiku,” geramku pelan sambil meremas-remas kertas ulangan yang –entah kapan– ada di tanganku.

*****

Next Day~~

“Naeun~a! Aku duluan ya! Kutunggu kau di ruang OSIS! Jangan terlambat!” kata Byul sambil berlari menuju ke ruang OSIS. Aku hanya mengangguk malas sambil masih melanjutkan tugas piket harianku.

Byul adalah anggota OSIS. Aku? Tentu saja tidak. Aku hanya perwakilan dari eskul menyanyi. Hari ini OSIS dan perwakilan setiap eskul ditugasi mengatur acara ulang tahun sekolah. Acaranya tinggal sebentar lagi. Dan semua panitia harus mulai menyusun segala sesuatu yang diperlukan saat acara.

Kulihat lembaran yang diberikan Byul tadi. Kertas tentang pembagian tugas nanti. Siapa yang akan berpasangan denganku ya? Em.. “Kwan Yong Ha. Kelas 2A2. Ah… Dia… Dari klub dance itu ya,” ucapku sambil mengangguk mengerti. Aku pun mulai berjalan ke ruang OSIS yang berada di lantai 2 sekolah kami.

Sesampainya di sana, Aku segera duduk di kursiku. Sudah hampir dimulai. Untung aku tak terlambat. Tapi, hei, ternyata ada yang lebih terlambat dariku. Dimana Yong Ha?

Tanpa kusadari, kursi sebelahku sudah terisi oleh seseorang. Ketika ku menoleh,… mwo?! Kenapa dia yang duduk disitu?

“Ya, kenapa kau duduk disitu?! Itu bukan tempat dudukmu!” kataku pada orang yang duduk di sebelahku. Tak lain tak bukan adalah Cho Jino.

“Aku tahu. Aku datang untuk menggantikannya,” jawabnya santai.

“MWO?!!” jeritku tak terima. Apa dia bilang?! Jadi pasanganku untuk tugas ini adalah dia?! Andwee…

“Ya, walaupun kau membenciku, tak seharusnya kau membawanya ke tugas seperti ini,” katanya kalem. Arasseo. Tanpa kau beritahu pun aku sudah tahu itu! Ucapku dalam hati. Aku mendengus sebal. Ku palingkan tubuhku dari arahnya dan mulai memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh para guru. Tepatnya pura-pura memperhatikan.

“Untuk perayaan dengan kembang api, kita harus memilih yang tidak terlalu membahayakan. Jangan sampai….” Kim Seonsaeng masih sibuk memberikan penjelasan, namun tak satupun yang ku dengarkan. Aku masih sebal kenapa harus Jino yang menjadi partnerku.

*****

Setelah briefing usai, Byul menghampiri meja kami.

“Ya, Naeun! Aku mencarimu ternyata kau disini!” ucapnya riang. Aku hanya tersenyum malas. Namun kemudian senyumnya memudar ketika melihat orang yang duduk di sampingku. “Eh? Partnermu kenapa jadi Jino?” tanya Byul bingung.

“Ne,, dia menggantikan Yong Ha,” jawabku.

“Ah, benar juga. Yong Ha kan sedang sibuk berlatih sepak bola untuk kejuaraan” ucapnya.

Eh? Sepak bola? Bukannya Yong Ha dari klub tari itu ya?!

“Sepak bola?” tanyaku pada Byul. Bingung.

“Iya. Dia kan kapten tim sekolah kita. Masa’ kau tidak tau? Bukannya dulu dia pernah menyatakan suka padamu?” ucap Byul polos. Aku melongo. Jino menoleh ke arahku, menatapku aneh.

Aku menggaruk-nggaruk kepalaku yang tidak gatal. Byul bodoh! Kenapa mengucapkannya di sini?! Itu sudah lama sekali~~~ Jangan dibahas!! Eiiy,, walaupun aku ini bodoh, tapi banyak namja yang suka padaku… Termasuk Yongha itu. Namja tampan, kapten tim sepak bola sekolah. Jangan salahkan aku ya~~!

“Wae? Kau benar tidak tahu?” tanyanya lagi, tanpa dosa. Seolah apa yang ia ucapkan tadi adalah angin lalu baginya. Aku tersenyum kaku. “Ah. Ani… Bukankah yang menjadi partnerku disini itu Kwan Yong Ha, dari klub dance?” tanyaku.

“Bukannya Kwon Yong Ha? Lihat yang benar!” katanya sambil membaca ulang jadwalku. Yong Ha… Kwon? Ah. Babo. Salah baca. Salah orang. Kau bodoh Naeun! Aku hanya terkekeh.

“Dasar bodoh,” ejek Jino pelan. Namun aku masih bisa mendengarnya. Aku melengos. Ih! Menyebalkan.

“Sekarang waktunya kalian membawa barang-barang ke dalam!” teriak Kim Seonsaeng pada kami. Kami pun segera berdiri dan mengambil semua barang yang telah disiapkan.

*****

“Emm… mana barangnya?” gumamku pelan sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. “Eh?! Kenapa bagian terakhir ku banyak sekali?!” jeritku ketika melihat barang yang terakhir harus ku bawa adalah 1 kardus besar berisi air mineral dan satu kardus berisi peralatan seni. Aku mendesah sambil berjalan mendekati kardus itu. Ku pandangi kardus itu sejenak. “Pasti berat…!! Ahh!!” eluhku.

Aku menggeleng-geleng kepalaku. “Ani-ani. Kau pasti bisa Son Naeun! Semangat! Ini yang terakhir!”  kucoba mengangkat kardus itu dan… Beraat….!!!!

‘Aduh!! Mana lagi si Jino! Belum kembali, hah?! Awas saja kalau dia kembali nanti! Akan kusuruh dia membelikanku sekardus susu karena telah membiarkan tenangaku terbuang begitu saja!’ rutukku dalam hati. Namun begitu aku tetap berusaha membawanya sampai ke ruangan OSIS tadi.

“Ya, Naeun! Bawaanmu terlalu berat! Kenapa tak menyuruh Jino membantumu?” tanya Byul khawatir begitu melihatku membawa kardus yang bahkan besarnya menutupi kepala dan pundakku. Ku lihat bawaannya tak sebanyak milikku.

“Ah, dia dipanggil seonsaengnim tadi. Gwenchanha. Hahaha,” jawabku sambil tertawa tak jelas. Aku masih mempertahankan barang-barang dalam boks yang kubawa supaya tak jatuh.

Byul menaruh barang bawaannya. “Ah. Begitu. Kalau aku tidak akan kuat membantumu. Kau tau kan badanku seperti apa?” ucapnya nyegir. Geurae, gadis kecil sepertinya memang terlalu dini untuk masuk ke SMA. Ups. Mian Byul. Bukan maksudku menyindirmu, namun salahkan dirimu yang begitu imut dengan tinggi 155 centimu itu. Aku hanya balas nyengir.

Byul berpikir sejenak. “Panggil dia untuk membantumu! Atau, akan ku panggilkan kalau begitu!” Kata Byul sambil melangkah menjauh, hendak mencari Jino.

“AH, aniya! Nan gwenchanha. Dia sudah cukup membawa banyak tadi,” ucapku cepat sambil tertawa gaje.

“Bodoh!! Dia harus tetap membantumu! Dia kan namja!!” Haha. Aku sih mau saja dibantu. Tapi kan akhir-akhir ini sikapku padanya buruk sekali. Mana bisa aku meminta tolong padanya? Gengsi tauu…

“Tak usah, Byul. Aku tak ingin merepotinya,” kataku akhirnya. Byul menghentikan langkahnya dan kembali ke dekatku.

“Naeun-ssi, gwenchanayo?” tanya seorang namja. Aku dan Byul sama-sama menoleh ke sumber suara itu.

*****

Jino POV

                Aku baru saja kembali dari ruang guru. Kim Seonsaengnim memanggilku untuk membahas pertandingan lomba klub kami besok. Aku bilang saja aku tak tahu. Kan yang ngurus bukan aku, wkwkwk. Saat aku kembali ke kelas, aku mendengar seseorang sedang berdebat. Suaranya seperti… Naeun?

“Tak usah, Byul. Aku tak ingin merepotinya,” kata Naeun. Ah? Merepoti siapa? Aku menoleh ke arah mereka. Oh! Anak itu berlagak sekali. Terlalu banyak bawaannya. Apa dia tak sadar kalau tubuhnya kecil?! Masih kuat membawa barang segitu banyaknya?

Aku hendak membantunya. Walaupun kami sering bertengkar, setidaknya aku juga manusia, kan? Masih punya rasa perikemanusiaan.

“Naeun-ah–” belum selesai ucapanku, sudah terpotong oleh ucapan seseorang.

“Naeun-ssi, gwenchanhayo? Biar kubantu,” kata namja itu, yang membuatku menghentikan panggilanku pada gadis yang sekarang tengah memandangnya. Kim Sang Bum. Anak klub basket. Aku hanya menatap mereka. Kali ini Kim Bum berusaha membawakan semua barang Naeun. Bodoh. Seharusnya aku yang melakukannya, bukan namja itu! Setelah berhasil memintanya dari Naeun, namja itu pergi begitu saja. Baguslah. Aku mulai berjalan mendekat kea rah mereka dan berhenti tepat 1 meter di belakangnya. Apa mereka tak menyadari keberadaanku ya? Aku hendak mengagetkan gadis bodoh itu namun ku urungkan niatku saat mendengar apa yang diucapkan Byul.

“Hey, kau tahu. Sudah banyak rumor yang beredar kalau Kim Bum itu menyukaimu,” kata Byul di samping Naeun yang masih memperhatikan kepergian Kim Bum. Aku yang dari tadi berada di dekat mereka pun mendengar apa yang Byul katakan.

“MWOYA?!!” jerit Naeun, histeris. “Tidak mungkin!” lanjutnya. Benar. Itu tidak mungkin. Apa benar namja itu menyukainya?!

“Benar. Kau tahu, saat kita piknik kemaren, kan banyak tuh fotografer yang tanpa izin mengambil foto kita supaya kita beli. Dan kau tak satupun membeli fotomu. Tebak apa? Kim Bum membeli semua foto yang ada dirimu!!” kata Byul histeris. Apa? Tidak mungkin begitu. “Sepertinya memang benar rumor yang beredar itu! Hahhaha,” lanjutnya.

“Yayaya! Hentikan!!” kata Naeun malu. Wajahnya memerah sekarang. Apa-apaan dia? Apa dia juga suka pada namja itu?!

“Ya!” panggilku pada namja itu, refleks. Aku tak tahu apa yang mau kulakukan. Hanya refleks memanggil. Cemburu mungkin? Yah, sejujurnya, aku sudah menyukai Naeun sejak dulu. Waktu yang kami habiskan berdua sudah cukup banyak, tapi selalu dihabiskan dengan bertengkar. Dan aku membenci fakta itu.

Naeun dan Byul yang berada di depanku kontan menoleh ke arahku. Tapi tidak dengan namja itu. “Ya! Kau! Kim Sang Bum!” panggilku lagi. Dia menoleh. “Apa kau benar menyukai gadis ini?” tanyaku padanya, sambil mengarahkan daguku ke arah Naeun. Dia tampak kaget, “M..Mwo?!” katanya.

“Ya! Ya!! Cho Jino!!” Naeun berusaha menghentikanku. Aku tak peduli. Sudah terlanjur penasaran.

“Apa kau sungguh menyukainya? Apa yang kau sukai darinya?” lanjutku. “Dia galak, dia suka memakai kekerasan, dia juga tak seperti perempuan…” hei, hei. Kenapa aku berbicara begini? Sudah pasti yeoja itu akan menendangku. Dan benar saja. Dia langsung mendorong dadaku sampai aku sedikit terjungkur.

“GEUMANHAE!!” teriaknya sambil mendorongku. Aku kaget. Tapi masih kupasang wajah sok cool. Terlanjur cemburu sih.

“Dan.. dan kau juga! Apa kau mengenalku dengan baik?! Apa yang kau ketahui tentang diriku?! Aku tak tahu seberapa besar kau membenciku, tapi jika kau perlakukan aku seperti ini, aku juga bisa marah!! Dengarkan aku!! AKU MEMBENCIMU, CHO JINO!!!! SANGAT!!! Jangan pernah muncul di depanku lagi!!!” katanya berapi-api. Terlihat beberapa air mata menggenang di pelupuk matanya. Bodoh. Kau bodoh Cho Jino. Apa yang kau lakukan? Dia marah padamu. Byul dan namja itu hanya menatap kami. Tak berusaha melerai.

*****

Sudah setengah jam sejak pertengkaran kami. Dia benar-benar menjauhiku. Bahkan dia pindah tempat duduk di paling pojok, di sebelah Byul. Menjauhiku. Aku masih menatapnya dari tempat dudukku. Dia masih memalingkan wajahnya, tak mau, bahkan sedetikpun, bertemu wajahku.

“Kau dan Jino bertengkar lagi?” tanya Byul mendekatinya. Naeun tak menggubris.

“Ya, aku tahu kalian sering bertengkar. Tapi jangan seperti ini juga. Aku tak tahu mengapa ia berkata begitu. Kurasa punya alasan kenapa ia sampai mengatakan hal seperti itu.”

*****

Naeun POV

Byul masih saja menyuruhku berbaikan dengan Jino. Jelas saja aku menolak. Aku benci dia. Kenapa dia membenciku?! Seberapa besar rasa bencinya padaku sampai-sampai ia tega memperlakukanku seperti tadi?!

Aku benci Jino. Kenapa dia berlaku seperti itu padaku? Tak bisakah ia memperlakukanku seperti gadis-gadis lain? Kenapa hanya aku yang diganggunya?! Padahal aku mengharapkan seperti itu juga. Diperlakukan manis oleh Jino.

“Setelah gladi resik, kita akan mendiskusikan sesuatu yang menarik. Wajib bagi seluruh komite ini,” kata Kim Seonsaeng. Daritadi beliau masih sibuk memberi arahan. Aku tak tertarik lagi. Maaf, Seonsaengnim.

“Acara special ini diadakan setelah acara kembang api berlangsung! Bisa dibilang seperti pesta keberhasilan begitu. Para komite wajib mengikuti acara special yaitu… Test Keberanian.”

Apa yang dia bilang? Test keberanian? Jantungku langsung berdetak lebih cepat. Wajahku pucat. Aku langsung berdiri dari tempat dudukku. “MWO?!” berteriak kaget. Dan itu membuat seluruh penghuni ruangan ini menoleh padaku. Tak terkecuali Jino bodoh itu. “Mianhae,” kataku plengeh sambil duduk kembali.

“Test apa?” tanyaku pada Byul. Berusaha meyakinkan pendengaranku.

“Test keberanian. Kim Seonsaeng sedang membicarakannya Naeun… Ini acara special. Kau melamun??” tanyanya.

“Ahaha, tidak,” aku tertawa garing.

“Hei, bukankah ini mengasikkan?!” kata Byul senang. Mengasikkan apa?? Aku tambah tidak semangat. Aku paling benci acara begitu… Jujur. Aku… Aku takut gelap, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu.

*****

A few days later. After the firework party…

Acara ulang tahun berlangsung meriah. Semuanya lancar. Dan sekarang para anggota komite sedang berkumpul. Kau tahu, kan, waktu apa ini? Yaa… acara yang sangat tidak kuharapkan. Test keberanian.

“Perhatian semuanya! Kami akan menyediakan sepasang telur mainan untuk kalian semua. Yang perempuan mengambil yang atas, sementara namja yang bawah. Jika telur kalian cocok, kalian akan menjadi pasangan dalam test keberanian ini.” Park Seonbae, ketua OSIS kami sedang menjelaskan teknik permainan ini. Malas sekali…

“Di finish nanti, akan ada kotak. Masukkan telur kalian disana. Jangan lupa tulis waktu yang kalian habiskan untuk melalui semua tantangan, nama kalian dan pasangan kalian di selembar kertas. Masukkan kertas itu ke dalam telur. 3 pasangan yang beruntung akan mendapatkan hadiah menarik. Apa saja itu?” Park Seonbae masih semangat menjelaskan semuanya.

Hadiah? Sekalipun kau memberiku IPhone terbaru pun aku tak tertarik mengikuti acara ini, sunbae… Ucapku dalam hati. Lebih baik aku kau suruh membersihkan ruang kelas dari pada mengikuti acara konyol ini… Aku mendesah. Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru, sepertinya hanya aku yang tidak bersemangat. Tapi, hei! Sejak kapan namja sialan itu berada di sampingku?! Tersenyum tidak jelas lagi!

“Kupon Makan gratis 1 bulan di Starbucks dan Roti Boys? Lumayan juga…” ucapnya.

Oh? Makanan ya? Tentu saja. Aku hampir lupa kalau dia itu rajanya makanan. Aku yakin dia pasti akan berusaha memenangkannya. Kembali ku alihkan pandanganku ke Park Sunbae. Dia masih berceloteh ria di depan kami semua. Dari yang bisa aku cerna, hadiah bagi pemenang pertama adalah 2 tiket nonton film premiere box office, yang kedua adalah 2 tiket bermain ke Lotte World sepuasnya, dan 2 tiket yang disebutkan Jino tadi. Tidak tertarik untukku.

“Dan sekarang! Segera tentukan pasangan kalian dan mulailah bertanding!!!”

Segera setelah Park Sunbae mengatakannya, semua orang berbondong-bondong mencari pasangan untuk diri mereka. Hanya aku sendiri yang masih diam di tempat. Sampai akhirnya Byul menghampiriku.

“Ya! Kau tak mencari pasangan, hah?” tanyanya. Ide bagus! Aku bisa mengajak Byul sebagai pasanganku. Tak apa kan mengaku sebagai namja sekali-kali😄.

“Byul-a…” belum selesai aku mengutarakan niat baikku, dia sudah memotong ucapanku.

“Naeun-a, segeralah mencari pasangan. Aku hendak mengajak Cho Kyuhyun dari kelas sebelah. Ini kesempatan yang bagus bukan?!” katanya berseri-seri. Ah, ne. Aku lupa. Dia sangat menggilai namja kelas sebelah bernama Kyuhyun itu. Aku tak tau apa yang membuatnya tertarik. Menurutku tak ada yang bisa dibanggakan dari namja evil yang sok ganteng itu. Sama seperti Jino. Tapi… kalau Byul bersama Kyuhyun, berarti aku…

“Ya! Lalu aku dengan siapa?” tanyaku memelas padanya. Byul tampak celingukan ke kanan-kiri. Lalu dia tersenyum.

“Naeun-a. Sekarang waktunya. Sepertinya Kim Bum hendak mengajakmu. Lihatlah! Ia mengarah ke arahmu,” katanya. Benar juga. Namja itu terlihat berjalan ke arahku. Aku tersenyum.

“Nah, kalau begitu, aku duluannya, Naeun!” kata Byul sambil berlalu.

Aku membalikkan tubuhku ke arah datangnya Kim Bum. Aku tersenyum padanya. Namun, ketika hendak memanggil namanya, seseorang menarik tanganku dan merampas potongan telur dari genggamanku. Aku mendongak menatap siapa pelaku itu. Dan seharusnya sudah bisa ditebak. Cho Jino. Aku lupa kalau sedari tadi dia berada di sampingku -__-

“Ya! Apa yang kau lakukan?!” ucapku kesal padanya. Ini percakapanku yang pertama kali dengannya sejak kami bertengkar hebat. Kalian tau, kan?

“Hei, aku ingin hadiah ketiga. Bantu aku mendapatkannya,” katanya santai sambil memasangkan telur kami berdua. Ya!! Apa yang dia lakukan?! Aku tidak bilang mau menjadi pasangannya, kan? Apa dia sudah lupa kalau kami sedang masa bertengkar?! Ku alihkan pandanganku ke Kim Bum. Sedari tadi dia melihatnya. Dan dia berlalu begitu saja ketika melihat telurku sudah menyatu dengan milik Jino. Aish… Semua ini gara-gara namja sialan ini! Ku tatap dia sengit.

“Wae?” tanyanya. Sadar kalau aku terus menatapnya.

“Memangnya aku bilang mau menjadi pasanganmu?!” tanyaku ketus.

“Oh? Memang kau mau dengan siapa? Sudah tak ada orang lagi disini. Atau… kau ingin bermain sendirian? Baiklah…” katanya sambil hendak melepas telur kami.

Mwo?! Sendiri?!

“Andwee!!” jeritku menahan gerakan tangannya.

“Kalau begitu, jalani saja!” katanya sambil berjalan mendahuluiku.

*****

Jino POV

Hahaha. Aku berhasil menggagalkan rencana namja sok manis itu untuk menjadikan Naeun pasangannya. Maaf, kali ini kau gagal, Kim Bum-ssi. Naeun sudah kutawan lebih dulu, gyahaha. Ku perhatikan gadis yang saat ini berjalan di belakangku ini. Kenapa dia lambat sekali? Tak biasanya. Seperti ada yang beda dengan dirinya. Kenapa dia?

“Ya! Kau lambat sekali! Kalau begini kita bisa kalah nanti!” kataku. Dia sedikit terlonjak. Kaget. Kenapa dia?

“Ya! Salah sendiri kau memilihku! Aku ‘kan tidak memintamu!” katanya gugup. Sungguh. Kenapa dia? Apa dia takut? Karena penasaran, ku tanyakan langsung saja.

“Kau kenapa?” tanyaku. Dia menggeleng.

“Apa kau takut?” tanyaku.  Dia langsung menghentikan langkahnya. Sepertinya dugaanku benar.

“Aniya… Siapa bilang aku takut,” katanya berusaha meyakinkanku. Tapi di mataku itu malah seperti pengakuan tersurat.

“Jinjjayo? Kalau begitu, kau duluan,” kataku sembari membiarkan dia berjalan lebih dulu di depan. Tak selang berapa lama…

“HIIHIHHIIIHIII…” bisikku tepat di telinganya. Bermaksud untuk menakut-nakuti tentunya, dan berhasil! Dia menjerit ketakutan!

“KYAAAAA!!!” jeritnya sambil berusaha bersembunyi di belakangku. Dasar yeoja.

“Sudah ketauan takut kau masih berpura-pura berani!” kataku sambil berjalan mendahuluinya.

“Kalau begitu, tinggalkan saja aku!” katanya. Mwo? Meninggalkannya? Sendiri?

“Kau bercanda. Kau berani, hah?” tantangku.

“Aku kan sudah bilang tadi. Aku tidak mau menjadi pasanganmu! Aku tak mau kau menyalahkanku jika kau nantinya kalah dan itu gara-gara aku!”

“Bodoh. Itu tak penting. Yang penting sekarang, ayo cepat jalan.”

“Shireo,” ucapnya tegas. Sepertinya dia masih kukuh untuk tetap tinggal disini. Baiklah.

“Ya! Kalau kau tetap memilih untuk disini dan kembali sendiri, silakan saja. Aku hanya mau memberitahu, jika kau tetap tak mau melawan ketakutanmu, mereka hanya akan menekanmu terus. Selamanya kau akan terkurung dengan ketakutanmu itu. Oleh karena itu, jika kau tak ingin semua itu terjadi, cobalah melawannya.”

“Tapi…” ucapnya ragu.

“Kalau kau takut, bersembunyilah di belakangku. Tak ada yang melihat.”

“Arasseo,” katanya pasrah. Akhirnya ia menurut juga.

*****

                Baru beberapa meter kami melangkah, sudah terdengar suara-suara yang berusaha menakuti kami. Aku tak terpengaruh. Aku tahu itu hanya tipuan kakak kelas yang berusaha memperlambat jalan kami. Tapi tidak dengan gadis di belakangku ini! Sedari tadi dia hanya menarik-narik kaosku. Berusaha menyembunyikan dirinya dari apapun itu. Aku yakin kaosku sudah molor menjadi ukuran XXL sekarang -__-

                “Ya! Itu hanya tipuan…”

                “Aku takut, Jino-ah…” katanya gelisah. Terlihat sekali kalau dia takut.

                Ck. Merepotkan saja gadis ini.

“Ya! Sunbae! Keluarlah! Kami sudah tau kalian disana! Percuma kalian menakuti kami!” jeritku pada hantu jadi-jadian yang bersembunyi di belakang semak.

“Hei! Kalau kami kau suruh keluar, bagaimana dengan tugas kami?” kata salah seorang sunbae.

“Tugas kami kan menakut-nakuti kalian,” lanjut temannya tak terima.

Bodoh. Kalau tak terima kenapa bersedia keluar?! Pikirku dalam hati.

“Arasseo. Kalian takuti saja anak-anak yang datang setelah ini. Jangan kami. Percuma. Kami sudah tau tempat persembunyian kalian,” kataku berusaha meyakinkan. Sementara gadis di belakangku ini masih saja menarik kaosku. Ya! Bisa molor sungguhan nanti! -__-

“Aish! Kajja! Kita sembunyi lagi!” ucap seorang dari mereka sambil kembali ke tempat semula.

“Maaf, sunbae. Terima kasih,” ucapku sambil berlalu.

*****

Tidak berapa lama dari hantu jadi-jadian pertama, sudah muncul tipuan hantu kedua. Dan tentu saja kalian bisa bayangkan bagaimana reaksi gadis yang sejak awal tadi masih saja menempel di kaosku!

“Jino-a… itu apa? Aku takut…” katanya sambil bersembunyi di belakang kaosku.

“Mana? Itu? Itu hanya tipuan, Naeun-a….”

Selang beberapa detik, dua orang kakak kelas yang menyamar menajdi hantu melompat dari semak-semak, menuju ke arah kami. Naeun berteriak tidak karuan.

 “Jino-a!!! Aku takut!!!” jeritnya hampir menangis. Keterlaluan sekali sunbae-sunbae ini. Mereka malah tertawa.

“Kita berhasil!! Yayaya!” ucap mereka gembira. Aku berdecak kesal, tak tahan lagi.

“YA!! KALIAN TIDAK MALU, HAH?!”

*****

Naeun POV

“Jino-a!!! Aku takut!!!” jeritku. Aku hampir menangis. Aku yakin sebentar lagi Jino pasti akan meledekku. Ku lihat kakak kelas kurang ajar itu masih saja tertawa karena berhasil menakutiku. Tapi yang ku bayangkan tak terjadi. Jino malah memarahi kedua sunbae itu.

“YA!! KALIAN TIDAK MALU, HAH?!” bentaknya.

Apa-apaan dia? Apa tidak takut membentak senior?

“MENAKUTI SEORANG YEOJA ITU TAK ADA ARTINYA! ITU MEMALUKAN, SUNBAE! COBALAH MENAKUTI SEORANG NAMJA SEPERTIKU! JANGAN SEORANG YEOJA YANG MEMANG LEMAH!” bentaknya lagi. Dua orang kakak kelas itu hanya terdiam. Tidak memperdulikan lagi keduanya, Jino segera beranjak meninggalkan mereka. Aku segera menyusulnya.

“Ya, kau tidak takut nanti kena marah mereka?” tanyaku.

Dia menghentikan langkahnya. Berbalik menatapku.

“Apa? Kau mau meledekku karena aku ketauan ketakutan di hadapanmu?” sindirku. Aku yakin dia pasti akan tertawa setelah ini.

“Bodoh. Pegang tanganku,” katanya tenang.

“Mwo?” tanyaku tak mengerti.

“Pegang tanganku. Ketakutanmu akan menghilang sedikit-sedikit jika begini. Aku tidak mau jika setiap ada hantu jadi-jadian lagi kau menghentikan langkahku karena ketakutan. Lagipula, kaosku sudah cukup besar dari ukuran aslinya karena kau tarik terus-menerus.”

Aku terdiam. Dia tak menertawaiku, tapi malah membantuku, lagi? Karena aku tetap bergeming, dia menarik tanganku paksa, dan menggenggamnya. Kami berjalan menghabiskan sisa tantangan sambil bergandengan tangan. Tepatnya dia yang menarik tanganku.

Dia benar. Aku tidak terlalu takut jika tanganku berada dalam genggamannya. Aku merasa… kuat.

*****

“Akhirnya!! Selesai juga derita ku!!” ucapku gembira.

“Cih. Bandingkan ekspresimu sekarang dengan waktu kau berada di dalam tadi,” sindirnya.

“Ya!” aku tak terima. “Itu tak penting! Cepat tulis waktu kita!”

“Emm… kita mulai jam…. Selesai… Emm… Berarti 37 menit!” ku lihat dia sibuk dengan jam di HPnya dan mulai menuliskan angka di kertas kami. Mwo?! 37 menit?! Lama sekali!!! Padahal rata-rata waktu yang diperlukan hanya 10 menit.

“Jino-a… Mianhae… gara-gara aku waktumu jadi lama,” kataku menyesal.

“Tak penting, semoga saja aku beruntung.”

“Tapi, hei, bukankah tak ada yang lihat? Kau bisa ganti waktunya menjadi Cuma 17 menit kan?!” tawarku. Kulihat beberapa pasang temanku juga melakukannya. Tidak ada yang tahu kan? Tak apa.

“Shireo. Aku tak mau berbohong. Itu percuma,” katanya sambil terus asyik mencoret-coret kertasnya. Apa sih yang dia tulis? Karena penasaran aku menengok ke arahnya.

Ige mwoya? Dia menggambar seorang namja dengan membawa TOA, berteriak kalau dia menginginkan hadiah ketiga. Nama kami dia tulis di paling bawah. Dan total waktu yang kami butuhkan ia tulis besar sekali di pojok kanan atas. Dihiasi gambar bintang.

“Ige mwoya? Kekanakan,” kataku meledek.

“Biarin. Ini gambar seni tau,” katanya cuek sambil menggulung kertas tadi dan menyimpannya dalam telur. Tak lupa ia masukkan telur itu ke dalam kotak.

“Nah, sekarang kau harus membantuku berdoa, gadis penakut!”

MWO?!

*****

A few minutes later…

“Sekarang saatnya pengumuman! Siapa kira-kira pasangan yang beruntung??!!” teriak Park Sunbae. Balasan riuh dari para penonton semakin membuat suasana ramai. Jujur, aku jadi ikut deg-degan saat pengumuman ini. Aku tak mau usaha Jino untuk mendapat kupon makan gratis itu sia-sia karena aku.

“Pemenang pertama adalah… Cho Kyuhyun dan Seo Ahn Byul. Dengan waktu 19 menit!!”

“Wahh… Byul dapat! Senang sekali!” jeritku.

“Silakan maju ke depan,”

Ku lihat Byul melambaikan tangannya ke arahku. Aku ikut tersenyum.

“Pemenang kedua, dua tiket bermain sepuasnya di Lotte World! Jatuh kepada… emm… Song Joong Ki dan Nam Hye Ri! Chukkae! Dengan perolehan waktu 41 menit!!”

Eh?! 41 menit?! Ini artinya…

“Jino-a!! Waktunya tidak diperhitungkan! Ini berarti kau masih punya kesempatan!” kataku pada Jino. Namun yang aku ajak bicara tidak memperhatikan sama sekali. Dia masih serius berdoa. Melihatnya yang begitu bersemangat, aku pun ikut berdoa semoga kami yang mendapat hadiah ketiga itu.

“Dan terakhir… kupon makan gratis selama satu bulan. Jatuh kepada… euy… Unyuh sekali gambarnya! Mereka bilang kalau mereka ingin makanan gratis itu, Cho Jino dan Naeun! Chukka!!”

Apa aku tak salah dengar?!

“Jino-a!” ucapku tak percaya sambil menatap Jino. Pandangannya juga sama-sama tak percaya. Dan sepersekian detik kemudian, kami sudah berpelukan saking senangnya!

“Ya!! Chukkae!!” kataku.

“Yeee!! Akhirnya!!” katanya senang. “Gomawo,” lanjutnya sambil menatapku. Sesaat kami tersadar dan langsung melepaskan pelukan kami. Jino langsung berlari ke panggung untuk mengambil hadiahnya. Wajahnya senang sekali. Aku tak tahu mengapa, tapi melihatnya seperti itu, aku jadi tersenyum.

*****

The next day…

Naeun POV

“IGE MWOYA?!!” jeritku tak percaya. Bagaimana bisa aku piket lagi hari ini? Dengan Jino lagi! “Ya! Aku sudah piket kemarin!” ucapku tak terima.

Teman-teman sekelasku malah Cuma tertawa.

“Itu special untuk kalian,” kata Gikwang.

“Mwo?! Wae?” tanyaku.

“Hei, kudengar dari anak kelas sebelah, kalian bergandengan tangan sewaktu test keberanian kemarin ya?” tanya Minhyuk.

Eh? Bagaimana dia bisa tahu?

“Aniyo, bukan begitu sebenarnya. Itu karena…” jawabku gugup.

“MWO? Jadi itu benar, Naeun-a? Tak kusangka!” Naeun bodoh! Kau terjebak sekarang.

“Ku pikir itu hanya bohongan, ternyata kenyataan.”

“Jino, bocah itu. Diam-diam curang ya? Mencari kesempatan dalam kegelapan!”

“Padahal sehari-hari mereka sering bertengkar, tapi ternyata… Peringkat satu di kelas kita menyukai peringkat satu dari bawah yah! Sulit dipercaya…”

“Tapi mereka cocok juga ya? Bertengkar terus sih…”

Tidak. Bukan begini seharusnya. Jino tidak seperti itu. Dia hanya ingin membantuku. Aku harus mengatakan yang sebenarnya.

“Aniya. Sebenarnya bukan begitu… Jino hanya…” belum selesai ucapanku, tiba-tiba pintu kelas kami terbuka.

“Kalian semua ini berisik ya,” Jino muncul dari balik pintu. Sepertinya dia mendengar semuanya dari balik pintu.

“Hei, apa kalian benar-benar bergandengan tangan?” kali ini Gikwang yang merecoki Jino dengan pertanyaan tak penting itu. Jino sama sekali tak memperdulikannya. Dia tetap berjalan santai ke bangkunya.

“Siapa yang memegang tangan siapa duluan? Apa itu kau, Jino? Apa kau melakukannya karena keinginanmu sendiri?” Minhyuk gantian merecoki Jino.

“Ne,” jawab Jino. Ige mwoya?! Ya! Bukan begini seharusnya! Aku harus menjelaskan semuanya. Tapi, Jino yang sama sekali tidak menatapku saat ini, membuatku sakit. Ini lebih menyakitkan daripada perlakuan kasarnya padaku. Dia seperti… menjauh. Sepertinya dia marah padaku. Aku begitu bodoh tak bisa membantunya. Padahal, selama ini, yang dia lakukan adalah membantuku.

*****

After school, kelas Naeun…

“Ya! Son Naeun!”

Panggilan itu menghentikan langkahku yang hendak keluar kelas, menuju gerbang. Ada yang memanggilku? Siapa? Aku menoleh, dan mendapati senyum manis itu ditujukan padaku. Cho Jino. Apa dia selalu begini? Apa dia lupa, tidak ada 5 jam yang lalu, dia dibuat malu oleh teman-temannya gara-gara aku. Kenapa dia masih bisa tersenyum padaku?

“Jino-a…” jawabku lemah.

“Ya, kupon kemarin itu, separuhnya milikmu juga kan. Ayo kita gunakan bersama,” katanya bersemangat.

Apa? Dia masih memikirkan jatahku juga? Cho Jino, neo jinjja…

“YA! Kalian berdua semakin akrab! Apalagi ini? Makan bersama dengan bergandengan tangan?” lagi-lagi anak itu. Gikwang mencoba mericuhkan kami lagi?

Sepertinya Jino mulai jengah dengan semua ini. Wajahnya kembali muram, dan nafasnya tak teratur. Tiba-tiba dia langsung menggenggam tanganku dan memperlihatkannya ke semua orang.

“Bagaimana jika kita memang melakukannya? Kau bermasalah?” tantangnya. Semua orang di kelasku terdiam. Dia langsung menarikku keluar dari ruangan itu.

Sepanjang perjalanan pun tak sedikit siswa yang memperhatikan kami.

“Cho Jino bodoh!! Aku tak bisa mempercayai ini!! Bagaimana bisa kau melakukan sesuatu yang bisa membuat orang lain salah paham?!!!” ucapku kesal. Aku hanya bisa menundukkan wajahku. Takut mendapat tatapan mematikan dari para fans bocah di sampingku ini.

“Salah paham apa?” tanyanya polos sambil terus menarik lenganku. Entah ingin membawaku kemana, aku tak tahu.

“Apa kau tidak mendengar perkataan mereka tadi pagi? Kau tidak tersinggung, apa?!” ucapku dengan nada putus asa. Sepertinya namja satu ini memang sudah tak punya harga diri.

“Kalau kau tak suka, lepaskan saja genggaman tanganku,” katanya santai.

Aku menghentikan langkahku. Benar juga. Kalau aku tak suka, kenapa aku masih terima saja ia menggandengku? Jino ikut berhenti, dan menatapku.

“Pada kenyataanya, kau tidak membencinya kan? Kau menyukai aku menggenggam tanganmu, kan?” tanyanya retoris.

“Mwo??”

“Kau menyukai aku menggenggam tanganmu, kan?” katanya lagi.

Aku tergagap. “Apa maksudmu, hah?”

“Maksudku? Kau tidak mungkin balas menggenggam tanganku kalau kau tidak suka padaku, kan?”

EH?!! Benar juga?! Kenapa aku balas menggenggam tangannya?! Naeun PABO!!! Buru-buru aku melepas tanganku dari genggamannya, namun tangan itu justru menarikku lebih dekat. Aku menatapnya heran. Tapi dia malah tersenyum.

“Sudah terlanjur. Aku suka menggenggam tanganmu. Untuk ke depannya, biarkan aku menggenggam tanganmu lebih lama. Arasseo?” ucapnya santai sambil tetap tersenyum. Aku semakin dibuat tak mengerti. Apa yang dia ucapkan tadi? Maksudnya apa?

“Kau…” tanyaku bingung.

“Kajja. Kau harus menemaniku ke Starbucks mulai sekarang!” ucapnya senang sambil menarik tanganku menuju ke gerbang sekolah.

“YA! YA! YA! Cho Jino! Apa maksudmu, hah? Kau menyukaiku?” tanyaku asal sambil masih berlari mengikuti tarikan tangan Jino di lenganku.

“Pikirkan saja sendiri, katanya kau pintar…” jawabnya santai.

Aku tersenyum dan balas menggenggam tangannya. Karena aku pintar, hanya ini yang bisa aku lakukan. Hahaha.

***** THE END *****

Gimana? Gaje ya? Mian, baru pemula .___.v Kasih koment donk biar bisa tambah baik😀

Terimakasih yang udah mampir baca …

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

2 thoughts on “[One Shoot] What is it?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s