Posted in Fanfiction, Oneshoot

[KaSoo] Let’s Just Love


Let’s Just Love

Title       : [KaSoo] Let’s Just Love

Author  : Kira

Cast       : Kim Myungsoo (Infinite), Yang Kahee (OC)

Genre   : Romance, School

Length  : One Shoot [4700 words approximately]

*****

Annyeong… FF oneshoot lagi. Entah bagus apa nggak saya ndak tau .__.v Mian kalau ceritanya jelek, kecepetan, nggak dapet feel, atau apalah. Banyak typo juga. Lagi pemula soalnya. Mohon dimaafin😀

Kali ini aku coba bikin FF one shoot tapi ada sekuel-sekuelnya gitu. Tokoh utamanya kali ini Kim Myungsoo *si sipit yang unyuh itu* sama Yang Kahee *ini OC bikinan aku*. FF ini bagian pertama dari series KaSoo Couple. Semoga aja masih ada lanjutannya😀 Dan pertama kali juga aku bikin coer buat FF. Mian. Jelek yah? Asal-asalan soalnya…

Oke. Terimakasih buat yang mau baca. Tolong dong kasih komen biar aku bisa instropeksi diri, hehehe. Sekian dari saya, selamat menikmati ~~

This story belongs to my self. My own idea. Myungsoo belongs to Infinite, His band, his family, and God. Kahee belongs to me. Thanks for reading.

DON’T BE A PLAGIATOR!!!

RESPECT OUR STORY BY GIVE SOME COMMENT, PLEASE…

*****

“Kahee-ya~ Ayo ke kembali…” ucap Jiyeon sambil menarik-narik seragamku.

“Sebentar lagi, Jiyeon-a. Dia masih disana,” jawabku sambil tetap memperhatikan pemandangan di depanku. Saat ini aku dan Jiyeon sedang berada di pinggir lapangan basket. Memandangi Myungsoo sunbae dan teman-temannya berlatih. Bel masuk 5 menit lagi akan berbunyi. Tapi aku masih saja betah di sini. Lebih enak menonton basket, kan, dari pada memperhatikan pelajaran?! Hehehe.

“Sampai kapan kau mau memandangi Myungsoo sunbae, hah?? Sebentar lagi bel…” keluhnya lagi. Aku tak memperdulikan ucapannya dan tangannya yang masih saja menarik-narik seragamku. Aku hanya focus pada pemandangan di depanku. Yap, memandangi Kim Myungsoo, kakak kelasku. Sudah 1 tahun lebih aku menyukainya. Tepatnya sejak Yoseob Oppa memperkenalkannya padaku.

*****

Tin ton. Tin ton.

Suara bel pintu itu mengalihkan konsentrasiku dari beberapa soal matematika yang sedang berusaha ku pecahkan. “AISHH!! Belum ketemu jawabannya juga!! Bel sialan!” umpatku kesal.

“Oppa~~!! Ada tamu!!!” teriakku kesal. Gara-gara suara bel itu aku jadi tak bisa konsentrasi lagi! Sebenarnya aku bisa saja membukakan pintu itu langsung. Tapi sudah kukatakan tadi, kan? Aku sedang memecahkan soal-soal ‘lucu’ milikku. Jadi aku malas untuk bangun. Biarkan saja Yoseob Oppa yang membukakan.

“Ya!! Aku sedang mandi! Kau saja yang buka! Paling itu temanku!” Yoseob Oppa balas teriak dari kamar mandi. Aku menggembungkan pipiku kesal. “Aish, merepotkan saja! Temannya yang datang kenapa aku yang repot membukakan pintu?!” gerutuku sambil tetap beranjak dari tempat dudukku dan berjalan malas ke arah pintu.

Tintoon– beberapa saat setelah bel berdering lagi aku sudah membukakan pintu rumahku kasar. “Ne, ne! Chakkamanyo!!” ucapku kasar. Memang tak pantas gadis sepertiku menerima tamu dengan kasar seperti itu. Tapi salah siapa mengganggu acaraku!

“Ah. Mianhae. Aku pikir tak ada orang,” ucap tamu itu merasa bersalah. Mungkin dia melihat ekspresi kesalku. Jadi dia berkata begitu. Tapi, kalau dia pikir tak ada orang, kenapa dia tadi terus membunyikan bel?! Menyebalkan! Tak kuperdulikan ucapannya dan tanpa melihatnya aku langsung membalikkan badan dan hendak kembali masuk ke dalam.

“Masuklah. Yoseob Oppa sedang mandi,” kataku sambil menggelandang masuk kembali ke ruang tamu. Meninggalkan tamu itu tanpa memandang wajahnya sedetikpun. Aku kembali sibuk dengan soal-soal yang belum terpecahkan tadi.

“OH? Darimana kau tahu aku ingin bertemu Yoseob?” tanya tamu yang ternyata seorang pria itu, bingung.

“Hanya aku dan Yoseob Oppa yang tinggal di sini. Tak mungkin ada tamu mencariku. Jadi pasti mencari oppaku,” jawabku ketus. Berusaha membuat tamu itu menjauh dari dekatku. Tapi sepertinya tamu itu tak mengerti arti nada suaraku. Dia tetap saja berada di dekatku. Eiuuh… Tak tahu kah kalau aku sedang tak ingin diganggu?!

“Oh begitu. Kau adiknya Yoseob?” tanyanya lagi. Aku berdecak kesal. Gara-gara dia usahaku memecahkan soal-soal ini jadi tertunda semua. Errr…

“OPPA!!! PPALLI WA!!! TEMANMU SUDAH DATANG!!!” teriakku lagi, berharap agar Yoseob Oppa segera keluar dan membawa temannya yang mengganggu ini menjauh. Namja itu terperangah melihatku. Mungkin baru kali ini ia bertemu gadis yang tak segan-segan berteriak keras di depannya, dan parahnya dengan maksud mengusirnya menjauh.

“Kau sedang apa?” tanyanya lagi-lagi lagi. Aku membanting pensilku ke atas buku-buku soalku dan beralih menatapnya kesal. Pandanganku seketika berubah menjadi pandangan terpana ketika mengetahui siapa yang berada di hadapanku saat ini. Teman Yoseob oppa ini, namja pengganggu ini, ternyata adalah namja yang tampan!! KYAAA!!! Kenapa aku tak sadar dari tadi?! Yang KAHEE!! Kau tidak peka!!! Kemana indera ke tujuhmu!!! Biasanya kau langsung bisa mengenali namja yang tampan tanpa perlu menatapnya lama. Kenapa sekarang malah kau tak sadar ada namja setampan dia di sampingmu?!!

“Ya, bukankah kau masih kelas 3? Kenapa kau mengerjakan soal SMA?” tanyanya sambil mengarahkan buku soal yang sedari tadi berusaha kukerjakan tadi. Aku tersadar dari kegiatanku menatapnya. “Eh?” ucapku tak sadar.

“Kau kelas 3, kan? Kenapa mengerjakan soal SMA? Seingatku pelajaran SMA ku juga tak mengharuskan mengerjakan bab ini. Jadi tak mungkin Yoseob yang menyuruh, kan?” jelasnya lagi sambil menunjuk ke soal-soal lucu itu. Entah sejak kapan bukuku bisa sampai di tempatnya, aku tak sadar.

“Ah… Pantas saja aku tak bisa mengerjakan. SMA, ya?” ucapku spontan sambil mengangguk-nganggukkan kepalaku mengerti. Pantas soal-soal ini sulit. Namja itu menatapku tak mengerti. Aish!! Aku bisa mimisan kalau ditatap seperti itu terus!! Tatapannya sungguh…. Kyaaa!! Siapa namanya??!!

“Ya!”

Aku tersentak kaget. Tiba-tiba saja Yoseob oppa sudah berada di belakangku sambil menepuk pundakku keras. Aish. Mengganggu saja. Kenapa saat aku ingin berdua menatapnya oppaku ini malah datang?!

“Yang Kahee! Kenapa kau tak kedip menatap Myungsoo? Jangan bilang kau juga naksir dia!” ucap Yoseob oppa sambil menoyor kepalaku. Aku meringis. Ah… jadi namanya Myungsoo?

“Sudah lama? Maaf, adikku memang seperti itu kalau melihat namja tampan,” kata Yoseob oppa pada Kim Myungsoo. Aku mendelik. “YAA!!” bentakku tak terima.

“Hahaha, begitukah? Jadi kau mengakui aku tampan?” ucapnya PD. Yoseon oppa melengos. Aku terkekeh. Ternyata bisa begitu juga? “Jadi ini adikmu? Siapa namanya?” tanya Myungsoo lagi.

“Kahee. Yang Kahee. 16 tahun. Tinggi 160 cm. Berat badan 16×2 kg tambahan 16:2 kg. Total 40 kg. Sekarang kelas 3, mau masuk SMA. SMA kita tentunya,” jelas Yoseob Oppa tak singkat, tak padat, dan tak jelas. Aku menoyor kepalanya pelan. Oppa memalukan!

“Lalu, kenapa dia mengerjakan soal SMA? Bukan kau yang suruh, kan? Kita tak sampai ini,” tanya Myungsoo lagi sambil masih membawa buku soalku. Kali ini ia juga merebut pensil yang ada di genggamanku dan mencoret-coret bukuku. Mau apa lagi kali ini?

“Aku belum bilang, ya? Dia ikut tim olimpiade. Makanya dia mengerjakan soal seperti itu,” tutur Yoseob oppa sambil menatap temannya yang sedang mencoret-coret bukuku antusias. Myungsoo sunbae hanya mengangguk pelan. Dia masih sibuk menatap dan mencoreti bukuku. Aku ikut memandangnya. Memandang wajahnya tentu. Bukan memandang bukuku yang saat ini tengah diberi oret-oretan apa olehnya. Aku tak tahu. Hehehe…

*****

Author POV

Tak lama kemudian…

“CHA! Selesai!” ucap Myungsoo senang sambil mengembalikan buku itu ke Kahee. Kahee menatap bukunya takjub. Yoseob ikut menatap buku itu juga, tak mau kalah.

“YA! Myungsoo-ya! Kau mengerjakannya?! Hebat… Memang murid pandai. Aku aja ndak bisa,” ucap Yoseob kagum. Kahee hanya bisa melongo.

“Sunbae! Kau menyelesaikan semua yang tak ku bisa! Aku hanya berhenti sampai disini!” ucap Kahee kagum.

“Paham tidak? Ini begini…” ucap Myungsoo sambil menjelaskan jawannya pada Kahee. Kahee hanya mangut-mangut mengerti. Yoseob sendiri tak mengerti apa yang mereka bicarakan memilih pergi ke dapur membuatkan minum.

“Orang pintar bertemu orang pintar, ya~” rutuknya kesal. Dua orang terdekatnya termasuk jajaran murid pintar semua. Tapi dirinya hanya masuk jajaran pas-pasan. Hiks. What a pity…

Sejak saat itu, Kahee dan Myungsoo menjadi dekat. Setiap Myungsoo bermain ke rumah, pasti Kahee langsung mendekatinya dan memintanya untuk mengajari dia. Padahal tujuan utamanya tentu saja bukan itu. Kalian tau lah . . .

*****

“Kalian sedang apa?” tanya Joon padaku dan Jiyeon, salah satu teman sekelas kami. Ah. Sepertinya lebih tepat kalau ku sebut kekasih Jiyeon. Ne. namja itu kekasihnya. Aku tak memperhatikannya. Masih sibuk memandangi Myungsoo sunbae pastinya, kekeke. Paling Joon juga mau mencari Jiyeon saja!

“Bukan kalian, tanya saja Kahee,” jawab Jiyeon kesal. Joon kemudian mengikuti arah pandanganku. Ia melengos.

“Ah, ne. Kau benar, Jiyeon-i. Seharusnya aku tak perlu bertanya. Apalagi yang akan dilakukan seorang Kahee selain ini,” sindirnya. Aku hanya melengos ke arahnya.

“Ya! Sampai kapan kau mau memandangi Myungsoo sunbae terus? Guru Kim sudah datang tau! Kena marah mati kau!” ancam Joon tapi aku tetap saja tak bergeming. Biar saja Guru itu memarahiku. Aku sudah kebal.

“Jeongmal?! Guru Kim sudah datang?!” tanya Jiyeon pada Joon, memastikan. Joon mengangguk sambil berjalan meninggalkan kami.

“YANG KAHEE!! AYO CEPATT!! Aku tak mau kena marah gara-gara kau!!” ucapnya panic sambil berlari menarik lenganku.

“Hei, hei. Tak perlu begini juga! Kau kena marah juga bukan salahku. Salah siapa kau tidur!” ucapku tak terima. Enak saja bilang karena aku. Kemarin Jiyeon kena marah karena dia ikut tertidur bersamaku saat Guru Kim mengajar. Padahal aku tak mengajaknya.

“Pokoknya aku tak mau kena marah lagi gara-gara kau!!” rengeknya lagi sambil tetap menarik lenganku. Aish… Anak ini sungguh…

*****

Yang Kahee. 17 tahun. Sekarang aku sudah kelas 1 SMA. Baru beberapa minggu kami diresmikan masuk ke SMA ini. SMA yang sama dengan Myungsoo sunbae bersekolah tentunya. Thanks to Yoseob oppa yang udah memperkenalkan aku dengan Myungsoo jadinya aku mau sekolah disini. Kalau bukan karena Myungsoo mah aku nggak bakal semangat sekolah di sekolah elit ini, wkwkwk.

Tapi beruntung juga aku masuk sini. Aku dan Myungsoo sunbae sama-sama berada dalam klub olimpiade, matematika tepatnya. Ternyata dia juga peserta klub. Pantas saja dia bisa mengerjakan soalku dulu. Tapi karena tingkatan kami berbeda, -aku kelas awal, dia senior- kami jadi jarang bersama. Menyebalkan.

Ah ne. Walaupun kami sekarang satu sekolah, Myungsoo sunbae jarang menegurku. Padahal kalau dia main di rumah dia sangat dekat denganku. Mungkin karena dia ingin jaga image. Kalian tahu, selain pintar, di sekolah dia juga termasuk jajaran murid paling popular dan most wanted lhoh!

Dan salahkan Joon gara-gara memberi berita palsu. Aku sudah sampai di kelas dan merelakan waktuku untuk memandangi Myungsoo sunbae hanya demi menerima pelajaran sejarah. Tapi apa hasilnya?! Kelas saja belum terisi penuh!!! Mana mungkin guru itu sudah sampai?!!

Daripada menunggu guru itu datang, lebih baik aku berkhayal. Ah. Sungguh mengasyikkan berkeliaran di dunia khayal. Aku bisa membayangkan aku dan Myungsoo sunbae menjadi sepasang kekasih dan berjalan-jalan bersama. Kekekeke.

*****

PLETAK!

“Ya! Appo!” teriakku. Aku sedang asyik dengan dunia khayalku saat tiba-tiba sebuah pukulan buku mendarat di kepalaku. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Jiyeon?!

“Salah siapa kau melamun! Lihat, Guru Kim sudah datang! Kau mau dimarah lagi, hah?!” ucapnya.

“Penyihir itu sudah ada?!” tanyaku setengah sadar. Aku terlalu mendalami dunia khayalku sampai tak sadar kalau Penyihir itu sudah datang!

“Hm. Makanya jangan melamun terus…” balas Jiyeon sambil mulai mempersiapkan buku pelajarannya. Kalau aku sih malas. Pelajaran ini sih! Menyebalkan!

*****

Hoaaahhmm… Membosankan. Entah kenapa setiap pelajaran sejarah aku selalu mengantuk. Padahal sebenarnya aku sangat tertarik dengan cerita-cerita yang ada dalam sejarah. Tapi entah kenapa tidak dalam pelajaran sejarah ini. Faktor gurunya mungkin?

Kalau saja guru yang mengajar bukan Penyihir ini, pasti aku akan betah memperhatikan pelajaran dari sebelum guru masuk sampai guru keluar kelas. Tapi kalau untuk Penyihir ini, eumm… tidak, terima kasih.

Aku kesal dengan guru itu. Ia selalu memojokkanku dan menyindirku. Padahal seingatku aku tak pernah bertingkah jahat padanya. Paling aku hanya sesekali meninggalkan pelajaran dan berkali-kali tidak mengerjakan tugas. Hei, itu masih wajar, kan? Hal seperti itu tak cukup untuk membuat seorang guru dendam pada muridnya, kan?

Tapi Penyihir itu begitu. Ia selalu memojokkanku karena alasan itu. Padahal sebenarnya itu bukan seratus persen kemauanku. Salahkan saja kepala sekolah! Kenapa menyuruh kami berlatih untuk lomba setiap ada pelajaran Penyihir ini! Kan aku juga yang kena getahnya! Padahal kalau boleh memilih, sebenarnya aku lebih memilih untuk tetap mengikuti bimbingan lomba daripada memperhatikan pelajaran Penyihir itu, haha!

Oke. Kali ini mataku tak bisa diajak kompromi. Masih satu jam pelajaran. Aku putuskan untuk tidur.

*****

Kalian pasti bingung kenapa dan siapa yang aku panggil Penyihir itu. Aku kenalkan ya. ‘Penyihir’ itu julukan yang ku berikan pada guru Kim. Guru sejarah yang sedang mengajar di kelasku ini. Nama aslinya Kim Young Ah, tapi kalau aku menyebutnya Penyihir. Terkesan tidak sopan ya aku memanggilnya seperti itu? Bodo amat. Salah sendiri dia menyebalkan seperti Penyihir di negeri dongeng!

Bukan karena wajahnya. Jangan kira penyihir ini sudah tua. Dia tergolong jajaran guru yang masih muda, lhoh! Umurnya saja baru 27an! Aku menamainya seperti itu karena dia menyebalkan. Dia duluan yang memulai gara-gara denganku! Aku tak tahu kenapa dia terlalu kejam denganku. Tanya saja pada teman sekelas, pasti mereka juga mengatakan kalau sikap yang Penyihir itu berikan padaku terlalu kejam. Padahal aku juga tak salah apapun. Paling-paling aku hanya meninggalkannya pelajarannya beberapa kali. Dan juga tidak mengerjakan tugas-tugasnya. Tapi jangan salah. Sudah ku katakan, kan? Ini bukan kemauanku. Aku hanya mengikuti bimbingan lomba dari sekolah. Ehm. Aku sombong yah. Aku ini masuk tim olimpiade untuk sekolahan. Padahal aku baru kelas satu. Karena prestasiku waktu SMP, aku langsung dimasukkan ke tim oleh pihak sekolah. Padahal seharusnya anak baru tidak harus masuk tim lomba. Dan yang paling penting. Mengikuti pembinaan bagi seluruh peserta olim hukumnya wajib. Jadilah aku harus sering meninggalkan pelajaran. Hehe.

Ada juga yang bilang bukan karena itu guru Kim membenciku. Temanku berkata kalau guru itu memang bersikap seperti itu pada muridnya yang cantik dan pintar. Gosipnya dia iri. Karena dia tidak bisa seperti kami. Bisa disimpulkan dari alasan ini, bahwa, teman-teman secara tak sengaja menganggapku pintar dan cantik. Iya, kan? Huehehe. Bukan aku yang bilang. Tapi teman-temanku lhoh ya!

Ehhmm,, tapi sepertinya aku tahu alasan yang lebih masuk akal. Mungkin dia seperti itu karena aku sering melamun dan tidur di setiap pelajarannya. Salah siapa pelajarannya membosankan! .__.v Aku tahu aku salah. Temanku yang lain juga begitu. Tapi kenapa mereka tak sampai dimarahin seperti aku?! Padahal nilaiku juga bisa lebih baik dari mereka yag memperhatikan *sombong*. Tapi kenapa selalu aku yang dapat masalah?! Menyebalkan!!

Karena itulah aku menamainya PENYIHIR, kekekeke!

*****

“Dan akhirnya, bangsa Portugis berhasil menjejakkan kakinya di Batavia pertama kali pada tanggal……” Ucapan guru Kim terhenti karena sesuatu. Pandangannya mengarah ke seorang gadis yang sedang tertidur lelap di bangkunya dan menatap gadis itu tajam. Semua siswa diam. Mereka merasakan aura penyihir sedang keluar saat ini.

Pandangan guru itu beralih pada Jiyeon yang duduk di samping gadis itu, menatapnya ngeri. Jiyeon yang takut disihir oleh Penyihir itu langsung menggoyang-goyangkan tubuh teman sebangkunya, mencoba membuatnya terbangun.

“Ya! Yang Kahee! Bangun!!” bisiknya tepat di telinga gadis itu. Yap. Gadis itu aku. Gadis yang tertidur itu aku, haha.

“Mmmwooyaa Jiyeoni~~ Aku ngantuk,” gumamku setengah sadar. Sepertinya guru itu mendengarnya. Karena setelah itu tatapannya semakin menusuk ke arahku.

“Bangun… Kim Seonsaeng sedang memperhatikanmu. Kau mau dimarah, ha?” bisik Jiyeon pelan. Sepertinya ia takut. Padahal yang seharusnya takut kan aku. Kenapa malah dia?

“Mwo? Penyihir itu memandangiku? Biarkan saja…” gumamku lagi. Jiyeon menelan ludahnya.

“Tapi kau harus bangun, Kahee…” Jiyeon masih berusaha untuk membangunkanku. Kenapa sih anak ini?! Biasanya juga ia tak ribut.

“Ya! Katakan saja pada Penyihir itu, aku ngantuk. Pelajarannya sangat membosankan…”

“MEMBOSANKAN, YA?”

Eh? Kenapa suara Jiyeon berubah jelek? Kenapa jadi mirip suaranya … “PENYIHIR?!!” jeritku tak sadar. Dan, gotcha! Penyihir itu menatapku dengan tatapan membunuhnya.

“Jadi pelajaran Penyihir ini membosankan, ya, Yang Kahee?” tanyanya dengan penekanan di setiap katanya.

Aku tersenyum polos lalu mengangguk. “Iya, sangat membosankan. Makanya aku tidur,” jawabku apa adanya. Aku tidak boleh bohong, kan?

“Kau itu!  Sudah berulang kali tidak mengikuti pelajaranku, kali ini saat ikut malah tidur! Kau mau jadi apa, hah?!”

Lagi-lagi mengomel. Terserah lah, yang jelas aku dulu sudah pernah menjelaskan alasanku, tapi kau saja yang tak mau mengerti. Aku bisa apa?

Aku hanya tersenyum tanpa dosa dan kembali melanjutkan tidurku saat guru itu sudah kembali ke pelajarannya. Untuk apa aku memperhatikan kalau saat aku memperhatikan saja aku masih tetap dimarah?! Lebih baik kan aku tidur. Sama-sama kena marah tapi aku juga untung, wkwkwk.

*****

“Ehem! Ehem! KAHEE~ MAEN YUK~~”

Oh? Ada apa sih? Kenapa ramai? Apa kelas sudah selesai? Apa Penyihir itu sudah pergi? Kenapa teman-temanku berisik sekali?

“KAHEE~~ KAHEE~~”

Ada apa sih? Kenapa mereka memanggilku?

Aku menguap. Dengan setengah sadar aku memperhatikan sekelilingku. Ku lihat semua teman sekelas memandangku penuh arti. Ada apa ini?

“Anak-anak, dengar! Ada pengumuman!”

Tiba-tiba suara Penyihir itu mengalihkan pandanganku. Dan seketika itu juga, mataku terbelalak. Bukan, bukan karena Penyihir itu. Tapi karena seseorang yang berdiri di sebelahnya, membawa sebuah gulungan kertas. Orang itu KIM MYUNGSOO!! Jadi karena ini teman-teman menyorakiku?!

Teman-teman sekelasku tahu kalau aku menyukai Myungsoo sunbae. Tentu saja bukan aku yang memeberitahu mereka. Tapi sikapku yang terlalu terbuka yang membuat mereka tahu, hehehe.

“KAHEE~~ KAHEE~~ SIAPA ITU~~ EHHMM~~~”

Aish… Mereka berisik sekali?! Kalau begini Myungsoo bisa tau! Aku tersenyum kecut. Berusaha membuat teman-temanku berhenti untuk menyorakiku. Aku tak mau Penyihir itu sampai tahu kalau aku menyukai Myungsoo sunbae! Bisa habis aku! Dulu saat ia tahu aku menyukai Minho saja aku hampir mati karena malu! Bukan karena ia mengetahui rahasiaku. Tapi karena dia membuatku malu di depan Minho dengan cara memberitahu namja itu tentang perasaanku di depannya langsung!! Menyebalkan!!

“Kahee? Kenapa Yang Kahee? Apa dia naksir pada Myungsoo juga?” tanya Kim Seonsaeng tajam. Mati aku. Kalau guru ini ikut campur, bisa runyam!

“Iya, BU! Kahee naksir!”

Aku menoleh, kaget. Berani sekali Jiyeon mengatakan rahasiaku ke guru Kim! Ku tatap dia tak percaya, namun gadis itu malah tersenyum tak bersalah. Pandanganku kembali ke arah guru. Kulihat ia tersenyum mengejek. Benar, kan, apa kataku!

“Ah, jadi begini. Setelah Choi Minho kelas sebelah, kau mengejar Myungsoo. Bagus sekali. Kali ini bukan hanya pemalas, tukang tidur, dan pembangkang. Tambah lagi mata keranjang, ya?”

MWO???!!!! Apa yang dia bilang?!

Seisi kelas terdiam. Termasuk Jiyeon yang tadi masih cekikan kini ikut terdiam.

“Pantas sekali. Kau itu niat sekolah tidak?” ejek guru itu lagi.

Oke. Aku sudah tak tahan. Ini keterlaluan. Aku tahu kau membenciku, tapi tak perlu seperti ini juga, kan?!

Aku berdiri menggebrak mejaku keras. Memandang guru Kim penuh amarah. Tak kupedulikan tatapan teman-temanku padaku, termasuk juga Myungsoo yang sedari berdiri di depan papan tulis. Aku membuang muka dan segera berlari keluar kelas. Ini sudah keterlaluan.

“Kali ini apalagi? Kabur?” guru Kim masih saja mengejekku. Oke, terserah kau saja, aku tak peduli. Terserah mau mengataiku apa! Aku tak mau dengar!!!

“Guru! Aku mau menyusul!” Jiyeon berkata panik.

“Untuk apa? Biarkan saja. Ayo, Myungsoo! Berikan pengumumanmu tadi,” ucap Guru Kim tanpa memperdulikan aku yang terus berlari. Masa bodoh denganmu!

*****

Aku mengusap kedua mataku pelan. Ku pandangi cermin yang berada di dinding kamar mandi ini, menatap sesosok gadis yang tampak kacau dipantulannya. Gadis dengan rambut berantakan dan mata sembab. Ya, gadis itu aku.

Setelah kejadian tadi, aku mengurung diri di kamar mandi ini selama kurang lebih  emm… 1 jam. Hanya untuk menangis. Bagaimana tidak? Aku malu! Myungsoo oppa sekarang sudah tahu tentang perasaanku, aku takut karena masalah ini hubunganku dan Myungsoo oppa merenggang. Padahal Yoseob oppa sudah susah payah memperkenalkanku padanya. Aku tak mau. Belum lagi masalah Kim Seonsaeng itu! Pasti mulai hari ini aku akan masuk daftar murid blacklistnya. Yang Kahee, murid pemalas, pembangkang, yang hanya memperhatikan namja tampan. Memalukan!

Aku berjalan pelan keluar kamar mandi ini. Mataku membelalak melihat sesosok namja yang sedang bersandar di dinding depan kamar mandi. Ia mengetuk-ngetukkan gulungan kertas yang ia bawa ke dinding. Sepertinya namja itu sudah berdiri dengan posisi itu dalam waktu yang cukup lama.

“Myungsoo Sunbae,” panggilku pelan. Namja itu menoleh kemudian tersenyum. Aku menoleh ke kanan, kiri, depan, belakang. Tak ada seorangpun di sini selain aku dan Myungsoo. Jadi kesimpulannya, Myungsoo sunbae tadi tersenyum ke arahku. KE ARAHKU?! Aku berjalan mendekati sunbaeku itu ragu.

“Kenapa kau disini?” tanyaku. Sepertinya ia tak kembali ke kelasnya sejak memberi pengumuman di kelasku. Gulungan kertas yang ia bawa itu sama persis dengan yang tadi ia bawa ke kelas. Apa dia menyusulku kemari dan menungguku selama ini? OH! Itu imposibble, Kahee!!

“Kau lama sekali! Hampir satu jam tau! Ada apa di dalam? Apa sedang ada pemutaran film?” tanyanya sambil masih tersenyum. Belum pernah aku melihat dia sesumringah ini. Kenapa dia tersenyum sesenang ini?

“Aku…” belum selesai aku menjawabnya, ia sudah memotong perkataanku.

“Aku menunggumu sejak tadi,” ucapnya. Ternyata benar. Dia menungguku di depan kamar mandi ini. Selama hampir 1 jam! Tapi untuk apa?!

“Aku ingin bertanya denganmu. Tapi karena sepertinya kau sedang sibuk di dalam, dan itu kamar mandi wanita, aku tak berniat masuk. Jadi aku menunggu di sini,” jelasnya sambil tetap tersenyum.

Aku tersentak. Aku belum bertanya tapi dia sudah menjelaskan semua. Apa dia bisa membaca pikiran?

“Bertanya apa?” tanyaku ragu.

“Yang Jiyeon bilang tadi, apa itu benar?” tanyanya pelan. Lagi-lagi aku tersentak. Kenapa membahas masalah ini lagi?! Aku tak tahu harus bersikap bagaimana di depanmu, sunbae! Pasti kau menganggap aku yeoja murahan sekarang. Aku hanya bisa menunduk menahan malu. Tak bisa berkata apapun.

Tiba-tiba Myungsoo berjalan mendekat kearahku dan menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajahku, membuatku terpaksa menatap wajahnya.

“Kau habis menangis?” tanyanya sambil mengusap bekas air mata di ujung mataku dengan ibu jarinya. Aku tersentak dan segera menjauhkan diri dari dirinya. Aku kembali menunduk, menyembunyikan wajahku yang memerah karena perlakuannya tadi.

“Kahee-ya? Kau tak apa?” ucapnya. Aku masih tertunduk, berusaha mengatur wajahku agar bisa menampilkan senyum seperti biasa.

“Nan gwenchana, sunbae,” balasku setelah berhasil memasang wajah dengan senyum seperti biasa. Myungsoo sunbae menatapku serius. Berusaha mencari kebohongan dari mataku.

“Ah, iya… Soal perkataan Jiyeon tadi, lupakan saja. Dia memang suka berbicara seenaknya. Jadi anggap saja tadi tak terjadi,” jelasku sambil tersenyum kaku.

“Jeongmal?” ucapnya tak percaya. Aku menggangguk-angguk yakin. Berusaha meyakinkan Myungsoo sunbae dengan senyuman pura-puraku. Aku memang tak menyalahkan Jiyeon karena hal ini. Ini bukan sepenuhnya salahnya. Ini kesalahanku karena tingkahku yang terlalu mencolok dan membuat semua teman tahu tentang perasaanku pada Myungsoo sunbae, dan tentang diriku yang justru menyembunyikan perasaanku di depan Myungsoo.

Lagi-lagi ia tersenyum. Namun kali ini berbeda. Senyum ini seperti senyum… putus asa? Ia menghembuskan nafas lelah. Ada apa ini?

“Ah, begitu. Padahal aku sudah berharap lebih,” ucapnya pelan, namun aku masih bisa dengar. Berharap lebih? Apa pendengaranku bermasalah?! Ada apa dengan Myungsoo sunbae? Aku menatap Myungsoo sunbae tak mengerti.

“Haha, kau tahu? Aku sebenarnya menyukaimu. Aku senang sekali Jiyeon bilang kalau kau juga suka padaku. Tapi ternyata itu tak benar, ya? Mau bagaimana lagi?” lanjutnya. Ada nada frustasi di setiap ucapannya. Dan, apa katanya tadi?! Menyukaiku?! Kau bercanda?!!!

“Sunbae…” panggilku pelan. Berusaha mencari kepastian setiap ucapannya tadi. Tapi bukannya mendengarkanku, dia malah terus berkata.

“Ah, ne. Mianhae. Gara-gara aku datang ke kelasmu, Kim Seonsaeng jadi mengataimu. Aku akan menjelaskan pada seonsaengnim kalau kau bukan murid seperti itu,” ucapnya lagi sambil hendak meninggalkanku.

“SUNBAE!” bentakku. Ia terperangah kaget. Namun bentakanku itu berhasil membuatnya memperhatikanku lagi.

“Wae?” tanyanya ragu. Sepertinya dia… takut? Hehe, mianhae. Aku memang seperti itu, suka berteriak. Jadi jangan heran kalau Myungsoo sunbae sampai takut.

“Apa benar kau menyukaiku?” tanyaku akhirnya. Ku lihat dia tersenyum dan menghela napas sekilas.

“Ne. Sayang kau tidak,” ucapnya pasrah. Apa-apaan ini?! Kenapa dia mudah sekali menyerah seperti itu?! Padahal aku kan tadi hanya berbohong!!

“Ani!” ucapku cepat. Myungsoo melongo.

“Mwo?”

Aku menelan ludahku sekilas, menghela napas panjang, dan menatapnya. “Aku juga menyukaimu. Semua yang dikatakan Jiyeon itu benar. Maaf, aku berbohong tadi, hehehe” ucapku pelan sambil tersenyum bocah.

“Jinjjayo?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk pelan. Senyuman mulai merekah kembali di wajahnya yang tampan. Melihat itu, aku ikut tersenyum.

“Jadi… maukah kau jadi yeojachinguku?” tanyanya sambil tersenyum menatapku. Aku mengangguk semangat.

Myungsoo sunbae tersenyum senang. Ia berjalan pelan ke arahku dan memelukku. Aku balas memeluknya sambil tersenyum.

“Saranghae,” bisiknya tepat di telingaku.

“Nado,” balasku pelan.

“Mulai sekarang, biarkan aku mencintaimu juga,” lanjutnya lagi. Aku hanya mengangguk dalam pelukannya dan tersenyum. Aku masih tak mempercayai apa yang terjadi sekarang ini. Tak kusangka. Impianku mempunyai namjachingu tampan seperti Myungsoo sunbae terwujud sudah. Gomawo sunbae… Saranghae…

*****

Myungsoo’s SIDE.

15 minutes before…

“Myungsoo-a!” panggil Yoseob saat kami sedang rapat tentang pencarian anggota ekskul yang baru. Aku mendongakkan wajahku malas. Tidur siangku jadi terganggu gara-gara panggilannya ini.

“Mwo?” ucapku pelan tanpa menatap wajahnya.

“YA!! Buka matamu!!” bentaknya. Aku melempar pensil di dekatku ke arahnya. Enak saja! Dia menyindirku, heh? Aku sudah membuka mataku tau! Memang dia pikir aku tidur sambil duduk?!

“MWO?” tanyaku ketus.

“Bagikan ini ke kelas 10,” ucapnya sambil menyodorkan padaku formulir-formulir itu. Aku menatapnya malas.

“Sireo,” tolakku.

“Jeongmal?” tanyanya tak percaya. Aku hanya mengangguk malas. “Sayang sekali. Padahal kau kebagian tugas membagikan ini di kelas adikku. Tak mau ya sudah,” lanjutnya.

Aku terbelalak. Apa katanya tadi? Adiknya?! Kalau begitu maksudnya…

“Andwae! Aku mau! Serahkan padaku!” ucapku cepat sambil merebut formulir itu. Yoseob melengos. “Kalau ada Kahee saja semangat,” cibirnya. Bodo amat. Yang penting bertemu Kahee, kekeke.

*****

Begitu masuk ke kelas Kahee, kelas tujuanku, aku langsung disambut oleh teriakan riuh dari teman sekelasnya. Kenapa ini? Apa mereka mengidolakanku? Arasseo arasseo. Aku tahu aku tampan. Tapi tak perlu sampai disorakin juga, kan? Huehehehe. Aku segera menuju ke guru yang sedang mengajar. Emm? Guru Kim ternyata. Guru galak ini.

Sementara Guru Kim menenangkan muridnya, mataku menjelajahi setiap isi kelas. Dimana gadis itu? AH! Itu dia! Eng? Tidur?? Aku tersenyum, tertawa dalam hati. Dasar gadis pemalas!

Tapi hei? Kenapa aku dengar namanya disoraki oleh teman-teman sekelasnya. Kenapa dengan dia? Padahal dia sedang tidur. Apa karena aku datang? Memang apa hubungannya dengan Kahee? Jangan-jangan… Aish. Jangan berharap yang tidak-tidak! Lupakan saja, Myungsoo!!

 “Kahee? Kenapa Yang Kahee? Apa dia naksir pada Myungsoo juga?” tanya Kim Seonsaeng tajam. Apa-apaan guru ini? Kenapa aku bisa dibawa-bawa?

Tiba-tiba, gadis kecil yang duduk di sebelah Kahee –yang kuketahui bernama Jiyeon­– berteriak. “Iya, BU! Kahee naksir!”

Aku menatap gadis itu tajam. Mwo?! Apa katanya?! Kahee menyukaiku?! Benarkah?? Jeongmal…? Jangan-jangan Kahee benar-benar menyukaiku? Kalau begitu….

Aku menghapus semua pikiran itu menjauh. Bodoh Kim Myungsoo! Bukan saatnya kau memikirkan ini!! Bukan masalah Kahee menyukaimu sungguhan atau tidak. Yang jadi masalah adalah guru di depanmu ini! Jangan sampai Kahee kena masalah karena—

“Ah, jadi begini. Setelah Choi Minho kelas sebelah, kau mengejar Myungsoo. Bagus sekali. Kali ini bukan hanya pemalas, tukang tidur, dan pembangkang. Tambah lagi mata keranjang, ya?”

Mataku membelalak. Bagaimana bisa seorang guru mengatai muridnya seperti itu?! Guru Kim, kau benar-benar…! Aissh! Kahee! Bagaimana perasaan Kahee?! Aku segera mengalihkan pandanganku kembali ke arah Kahee.

Benar, kan?! Guru ini terlalu kejam. Kahee sampai hampir menangis! Bisa-bisanya dia… EH?! Mau kemana dia?

Tiba-tiba saat aku sedang memperhatikan Kahee, gadis itu berlari keluar kelas. Hampir menangis tentunya. Jiyeon bermaksud untuk mengejarnya namun dilarang oleh Guru Kim.

“Ayo, Myungsoo! Berikan pengumumanmu tadi!” ucapan Guru Kim mengalihkan pandanganku dari Kahee yang sedang berlari.

“Ah, ne, seonsaengnim,” ucapku pelan. Sebenarnya aku bisa saja langsung memerikan pengumuman ini. Tapi pikiranku tak bisa menjauh dari wajah ingin menangis Kahee tadi. AH! Mianhae, Yoseob-a. Aku akan menyampaikan pengumuman ini besok saja.

“AH! Josonghamnida. Aku lupa. Ternyata bahan yang kubutuhkan bukan ini. Aku salah mengambil. Maaf, aku akan beri pengumuman besok saja. Saya permisi,” ucapku cepat sambil berjalan keluar. Berusaha mencari keberadaan Kahee. Tak kuperdulikan tatapan heran dari seluruh isi kelas dan Guru Kim tentunya. Pikiranku saat ini lebih berpusat pada Kahee!

*****

Di sepanjang pencarian, aku terus berpikir apa yang dikatakan guru Kim tadi. Apa benar Kahee menyukai Minho? Dia tak menyukaiku, kah? Kenapa Minho? Apa itu sungguhan? Atau hanya godaan Guru Kim saja?! Tapi kenapa tadi teman sekelasnya menyorakiku ketika aku masuk ke kelasnya? Pasti karena Kahee menyukaiku juga! Iya, kan?! Positive thingking, Kim Myungsoo!!

Eh? Bukankah itu Kahee?! Untuk apa dia ke kamar mandi? Ah… Arasseo. Mungkin dia ingin menyendiri dulu. Biarkan dia menangis dulu, Myungsoo.

Guru Kim itu memang keterlaluan! Awas saja dia! Berani sekali membuat gadis yang kucintai menangis! Akan kubuat dia membayar perbuatannya!!

*****

…EPILOG…

Author’s POV

 “Ya! Kenapa kalian saling menatap seperti itu?!” tanya Yoseob saat Myungsoo dan Kahee duduk bersama di ruang tamu.

Setelah pulang sekolah tadi, Myungsoo bermain ke rumahnya. Seperti biasa. Kali ini alasannya sih untuk mengerjakan soal lomba bersama Kahee. Tapi entah jika ada udang di balik batu.

Keduanya masih tak sadar akan kehadiran Yoseob dan justru malah semakin tersenyum saat menatap satu sama lain.

“YA!!!” bentak Yoseob tak sabar melihat kelakuan adik dan teman baiknya itu. Berkat bentakan Yosoeb itu, kedua orang itu akhirnya sadar dari tatapan mereka. Kahee menyembunyikan wajahnya malu sementara Myungsoo malah melengos pada Yoseob.

“Wae?” tanya Myungsoo singkat dan ketus. Ia merasa kesal karena kegiatannya menatap Kahee diganggu oleh Yoseob.

Yoseob menatap temannya itu heran. “Wae? Kau marah karena aku mengganggu kegiatan tatap menatap kalian?” tanyanya tak mengerti. Myungsoo mengangguk singkat.

“Oh… Maaf menganggumu,” ucap Yoseob sambil hendak beranjak meninggalkan keduanya. Namun kemudian dia menyadari ada sesuatu yang janggal. Ia berbalik lagi. Ia berpikir sejenak. Marah?

“Mwo?!! Kenapa kau harus marah?!!” tanyanya bingung. “Lagipula, kenapa kau menatap adikku seperti seseorang yang sedang jatuh cinta?!” lanjutnya lagi.

Namun, bukannya menjawab, Myungsoo malah kembali menatap Kahee begitu juga sebaliknya. Yoseob yang akhirnya menyadari sesuatu membelalakan matanya tak percaya.

“YA!! KIM MYUNGSOO!!! JANGAN BILANG KAU BERPACARAN DENGAN ADIKKU!!!” jeritnya tak percaya.

Myungsoo berdecak kesal. Lagi-lagi kegiatannya menatap Kahee terganggu gara-gara Yoseob. “Kalau iya kenapa? Jangan menganggu deh,” ucapnya kesal sambil kembali ke kegiatannya awal. Memandangi Kahee.

“MWORAGO?!! YA!! Beraninya kau tak meminta izinku dulu!! Awas saja kalau kau sampai membuat Kahee menangis!! Akan kuhancurkan kau!!” rutuknya sambil berusaha mengalihkan pandangan Myungsoo dari Kahee lagi. Namun usahanya sia-sia, karena kali ini, tatapan mereka tak terpisahkan, kekeke…

***** END *****

Gimana? Jelek ya? Hehehe, maklumi ajah yah. Amatiran nih… Thanks yang udah baca. Syukur-syukur mau kasih komen. ^^

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

2 thoughts on “[KaSoo] Let’s Just Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s