Posted in Constellation's Series

Oh My Minus! Would You Get Out of My Eyes?!


Oh My Minus! Would you get out of my eyes?!

Annyeong~! Another random posting again -__-

Yah. Kepikiran buat nulis ini waktu aku lihatin langit malam habis tarawih. Sebenarnya banyak bintang, tapi cuma keliatan titik putih kecil gitu di mata aku. Mungkin kalau mata aku normal, bintang di atas sana bisa lebih keliatan terang, nggak sekecil di penglihatanku. Huft… Nasib ya. Akibat nggak perhatiin nasehat orangtua ya gini deh jadinya .__.v

Ehm, pasti pada nggak mudeng aku ngomong apaan. Nggak apa. Memang nggak diwajibkan untuk mengerti apa yang aku tulis kok😀

Ini, begini lho, ceritanya kali ini aku hendak berkicau tentang perasaan aku melihat dunia ditemani mata minus nih, hehe.

Mata aku minus. Kanan 1 ¼, kiri 1, dan aku berharap jumlah itu tak bertambah, tapi berkurang. Amiin.

Tahu maksudnya minus, kan? Kalau nggak tau itu nama kerennya rabun jauh, atau biasa disebut juga hipermetropi. Sebenarnya salah juga kalau dibilang nama lain. Soalnya minus itu kan panggilan untuk nama kekuatan lensa yang dipakai, bukan nama penyakitnya! Okelah, nggak penting. Aku yakin semua yang baca udah tahu yang aku maksud minus di atas tadi.

Dan karena minus itu tadi, aku harus pakai kacamata biar bisa melihat seperti mata normal. Tapi, yah, namanya juga aku. Nggak mungkin kalau nggak ‘ndablek’! Kacamata yang harusnya dipakai tiap hari biar minusnya nggak tambah *kata temen sih* malah aku pakai cuma waktu lihat papantulis dan orang kece *eh.

Seperti yang pertama aku bilang tadi. Bintang di langit yang harusnya dengan mata normal bisa terlihat cantik hanya tampak seperti titik putih buyar di mataku. Dan bagi aku yang pecinta bintang *ceilah* ini sangat tidak menguntungkan… Sebenernya bisa aja bintang itu keliatan kalau aku pakai kacamata, tapi kan udah aku bilangin tadi, kacamata cuma aku pakai waktu lihat papantulis waktu pelajaran dan waktu lihat orang kece, wkwkwk. Lagian, masa solat bawa kacamata?

Selain lihat bintang nih ya, mata minus itu juga mempengaruhi cara aku nonton TV. Kalau dulu aku bisa sesuka hati guling-guling nggak karuan waktu nonton TV. Mau pakai posisi duduk lah, tiduran lah, tengkurap lah, jongkok lah, atau kayang sekalipun, TVnya masih bisa keliatan jelas dari jarak 3 meter lebih. Tapi sekarang, jarak satu meter dari TV tanpa kacamata aja subtitle film udah nggak keliatan .__. Apa lagi kalau mau nonton TV sambil tiduran, waduh, ribet banget kalau pakai kacamata. Tidak nyaman…

Kalau waktu pelajaran di kelas tambah parah lagi. Kalau aku lupa bawa kacamata habislah. Derita gue itu. Sering ketinggalan nyatet dari papantulis waktu aku ngambil kacamatanya lama. Aku biasa bilang sama teman aku, “Ngosek yo, tak njupuk kacamataku ndisik. Ora ketok.” Dan semua ekspresi temanku sama, mereka melengos, lalu berkata, “Mulane go kacamatane dinggo terus!” Dan (lagi) aku hanya bisa tertawa garing.

Nah, kalau yang ini bukan aku aja yang merasa, tapi rata-rata semua orang yang matanya minus ngerasain ini juga. Apa itu?

Yap. Orang minus (tanpa memakai kacamatanya tentu) tak jarang disebut sombong sama temannya. Begitu pula aku sendiri. Kenapa begitu? Alasannya, karena mereka tak memakai kacamata! *lhoh? Apa hubungannya?* Jadi begini lho maksud aku, coba kalian bayangin ya. Kalau mata kalian minus, dan kalian sedang tidak pakai kacamata, terus ada orang yang menyapa dari kejauhan, apa kalian langsung akan membalas salaman tersebut? Kalau aku sih nggak. Bukannya maksud sombong, tapi kita emang nggak mau kegeeran dulu. Kali aja tadi orang yang nyapa bukan maksud nyapa kita, tapi orang di belakang kita?! Nah lhoh! Kalo tadi kita ikutan balas nyapa kan malah malu -_-// Maka dari itu, orang minus kayak aku biasanya dianggep sombong karena kalau disapa jarang balas nyapa T__T

Tapi ya, ada hal penting yang mungkin ini nggak penting bagi kalian *plak😀 Orang minus tuh kalau lihatin orang ganteng tanpa kacamata itu pun masih jernih lhoh , huehehe. Apaan deh. Tapi beneran, rata-rata temenku yang minus walaupun nggak pakai kacamata masih bisa lihat orang ganteng, kok. Apalagi kalau itu gebetannya *eh.

Beneran nggak penting, kan?! Hehehe. Udahan ah curahan hati seorang minus. Lain kali disambung lagi. Daripada ngoceh tentang kerugian penderita minus, mending kita syukurin aja yang udah didapat. Iya, nggak, sob?😄

Demikian. Sekian. Dan terimakasih.

Wassalammualaikum Wb. Wb.

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s