Posted in Resensi

The Last Autumn in Paris


Judul Buku          : Autumn in Paris

Pengarang          : Ilana Tan

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Terbit                    : Juli 2007

Tebal                     : 272 halaman

*****

Tara Dupont menyukai Paris dan musim gugur. Ia mengira sudah memiliki segalanya dalam hidup… sampai ia bertemu Tatsuya Fujisawa yang susah ditebak dan selalu membangkitkan rasa penasarannya sejak awal.

Tatsuya Fujisawa benci Paris dan musim gugur. Ia datang ke Paris untuk mencari orang yang menghancurkan hidupnya. Namun ia tidak menduga akan terpesona pada Tara Dupont, gadis yang cerewet tapi bisa menenangkan jiwa dan pikirannya… juga mengubah dunianya.

Tara maupun Tatsuya tidak menyadari benang yang menghubungkan mereka dengan masa lalu, adanya rahasia yang menghancurkan segala harapan, perasaan, dan keyakinan. Ketika kebenaran terungkap, tersingkap pula arti putus asa… arti tak berdaya… Kenyataan juga begitu menyakitkan hingga mendorong salah satu dari mereka ingin mengakhiri hidup…

Seandainya masih ada harapan –sekecil apa pun– untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan itu….

*****

Seri kedua dari tetralogi 4 musim terlaris milik Ilana Tan, Autumn in Paris menjanjikan sebuah kisah cinta yang penuh perjuangan walau tanpa adanya harapan. Sebuah kisah haru antara seorang gadis pecinta Paris dan Musim Semi serta seorang pemuda yang membenci Paris dan Musim Semi.

Tara Dupont, gadis blasteran Indonesia-Perancis. Tinggal di Paris bersama ayahnya. Karena hobinya yang suka bicara, serta suaranya yang lumayan enak didengar, ia dipercaya sebagai salah seorang penyiar di stasiun radio terkenal di Paris. Ia menyukai segalanya tentang Paris.

Tatsuya Fujisawa, arsitektur Jepang yang mengunjungi Paris karena dua alasan. Pertama, karena memang ia ada tugas proyek kerja di sana. Kedua, karena dia ingin menemukan seseorang. Seseorang yang membuat hidupnya berubah mengerikan. Seseorang yang membuat dia membenci Paris dan segalanya yang berhubungan dengan Paris.

Namun sepertinya, anggapannya tentang Paris berubah ketika ia bertemu Tara. Gadis itu ternyata teman Sebastien Gierau, teman arsiteknya juga. Gadis yang suka berceloteh itu berhasil membuatnya tertarik kembali pada Paris. Segala masa lalu kelamnya tentang Paris, kini bercampur dengan kenangan indah tentang Paris yang ia buat bersama Tara. Lelaki itu jatuh cinta pada Paris, dan juga gadis Paris itu, Tara Dupont.

Too much love will kill you, man. Ungkapan Ari (Jingga dan Senja – Esti Kinasih) itu mungkin cocok buat Tatsuya. Saking cintanya sama Tara, dia sampai rela untuk melkukan apa saja demi membuat takdir yang memaksa mereka berpisah agar berubah. Tapi namanya takdir, tetap saja tak bisa dirubah.

Seri dari tetralogi yang menurut aku paling berkesan. Khas Ilana Tan yang membuat cerita berlatarkan kisah di balik masa lalu, Autumn in Paris menguak rahasia masa lalu yang paling kelam di antara seri-seri lainnya. Bagaimana Tara dan Tatsuya yang awalnya kisah cinta mereka berjalan mulus-mulus saja berubah drastis ketika rahasia masa lalu itu terkuak.

Bahasa yang mengalir mudah, dan jalan cerita yang tak mudah ditebak, membuat novel ini mengajak para pembaca agar terus membuka lembar demi lembar halamannya sampai ke titik terakhir. Dan jangan heran kalau setiap berganti bab berikutnya mulut kita akan berdecak tak percaya dengan lanjutan cerita yang dituturkan oleh Ilana. Kisah yang tak terduga dan… speechless. Siapkan juga beberapa tissue atau sapu tangan karena semakin menuju akhir semakin kisah Tara dan Tatsuya ini membuat kita meneteskan air mata.

Ilana Tan memang pandai merangkai kata. Sebenarnya, kalau kita jeli, penulis sudah beberapa kali memberi kita petunjuk tentang apa hal yang akan terjadi berikutnya atau pun rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi di kisah mereka. Namun, sekali lagi, bahasa dan pembawaan yang ia gunakan membuat pembaca tak sempat lagi untuk memperhatikan hal-hal itu dan hanya focus pada jalannya cerita.

Salah satu cerita tersedih yang pernah aku baca. Autumn in Paris cocok untuk para penggemar novel romance yang berlatar sedih. Ditangani oleh penulis metropop handal seperti Ilana Tan. Walaupun ini adalah seri kedua yang ia buat, tak membuat gaya bahasanya menjadi kurang disbanding dengan karya-karyanya yang kini. Kejutan di Autumn in Paris, membuat novel ini berhasil memasuki cetakan ke sebelas sampai terakhir kali aku membacanya. Salah satu novel yang wajib untuk dibaca oleh setiap pecinta metropop maupun novel romance lainnya.

 amouradilla@cassieva.wp.com

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

3 thoughts on “The Last Autumn in Paris

  1. Udah baca kok, punya ke empat serinya malah:mrgreen: tapi sayang salah satu edisi special yang limited malah gak kebeli karna keburu tutup po😥
    Btw, novel ini masih blom masuk ke jajaran novel yang mengharu biru sih😆 meskipun emang sedih dan bikin shock pas kebongkar rahasia masa lalu mereka🙄 kayaknya mesti baca novel punya andrei aksana yang abadilah cinta deh kalo emang pecinta novel2 romansa, dan tisu sekotak dijamin gak akan cukup😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s