Posted in Resensi

Canting Cantiq – Dyan Nuranindya


Judul Buku          : Canting Cantiq

Pengarang          : Dyan Nuranindya

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Terbit                    : Juli 2009

Tebal                     : 208 halaman

*****

Melanie Adiwijoyo punya hidup yang sempurna. Sebagai anak tunggal pengusaha ternama, sejak kecil Mel punya cita-cita jadi model internasional. Tapi impiannya hancur ketika perusahaan ayahnya bangkrut dan Mel terpaksa meninggalkan Jakarta untuk tinggal bersama Eyang Santoso di Jogja.

Siapa sangka, Eyang Santoso nggak tinggal sendirian. Ia tinggal bersama anak-anak kos yang punya penampilan aneh-aneh. Ada Dara, cewek tomboy dengan rambut di-highlight pink. Ada Saka, yang suka berpenampilan tradisional. Ada Ipank, anak gunung yang temperamental. Ada Jhony, yang punya rambut kribo. Juga ada Aiko, cewek berwajah oriental yang doyan banget pake minyak telon.

Nggak hanya mereka, ada juga Dido, cowok berkacamata tebal dengan rambut jigrak kayak Fido Dido, dan Bima yang sangat pendiam. Mel juga bertemu dengan desainer kebaya bernama Aryati Sastra yang getol mengajarinya menjahit.

Sanggupkah Mel bertahan di lingkungan barunya, meninggalkan shopping, salon, dan teman-teman cantiknya?

*****

Teenlit karangan penulis favorit aku nih, Dyan Nuranindya. Setelah terakhir mengeluarkan DeaLova dan Rahasia Bintang, kali ini Dyan kembali dengan sebuah Teenlit yang katanya akan mempunyai 2 sekuel. Dan benar saja, setelah Canting Cantiq ini, Dyan sudah meneruskan lanjutan kisah anak-anak kos Soda di 2 teenlit dia selanjutnya, yaitu Cinderella Rambut Pink, dan Rock ‘n Roll Onthel.

Canting Cantiq, bercerita tentang Melanie Adiwijoyo, gadis anak orang kaya yang bertindak semaunya sendiri, manja, dan segala keinginannya harus terpenuhi. Dia bercita-cita jadi model internasional. Cita-citanya itu didukung oleh financial ayahnya dan bakatnya dalam fashion yang udah keliatan dari sekarang.

Namun, segala keinginannya untuk menjadi model harus ia kuburkan, setelah ayahnya meninggal karena penyakit, hidup Mel yang mewah di Jakarta harus ia tinggalkan dan beralih ke kota pelajar, Jogjakarta. Tinggal di rumah Eyang Santoso, Mel tak menduga ternyata ia harus tinggal dengan anak-anak Kos milik Eyang Santoso yang dinamai Kos-kosan Soda. Mereka adalah Ipank, Saka, Aiko, Dara, Jhony, Dido, dan Bima. Dari ke-7 anak kos itu, Mel heran kenapa cuma Bima yang penampilannya bisa dianggap normal. Selain Bima semuanya kacau.

Belum selesai beradaptasi dengan lingkungan Jogjakarta yang sangat berbeda dengan rumahnya dulu, Mel kemudian bertemu Aryati Sastra, seorang desainer kebaya terkenal di Indonesia. Dari Aryati, Mel ditantang untuk mengubah mimpinya yang semula menjadi model kini menjadi seorang desainer. Mel yang awalnya hanya ingin mencoba-coba mengikuti ajakan Aryati, kini menjadi semakin bersungguh-sungguh dengan desainernya.

Apakah Mel berhasil mewujudkan mimpinya kali ini?

Dibalut cover berwarna putih dengan sisipan gambar batik serta gadis bergaun batik, Canting Cantiq cukup menarik perhatian pembaca. Ternyata konsep covernya berkaitan dengan isi cerita yaitu tentang Mel dan pengalamannya dengan desain batik.

Seperti novel Dyan yang lain, bahasa yang digunakan di Canting Cantiq ini juga mudah dimengerti. Dialog antar Mel Jakarta yang menggunakan aksen lo-gue dipadu dengan tokoh lain seperti Saka yang kental Jawanya tak membuat pembaca terganggu.

 Selain perjuangan Mel meraih impiannya, Dyan juga menyisipkan kisah cinta Mel yang tak diduga kelanjutannya oleh pembaca. Yah, walaupun pada akhirnya sedikit menggantung bagaimana kisah cinta Mel selanjutnya. Mungkin ini sengaja karena cerita lanjutannya akan dibahas pada sekuel novel ini selanjutnya, yaitu Cinderella Rambut Pink.

Canting Cantiq, menyuguhkan cerita yang unik dibalik para penghuni sebuah kos-kosan dan cucu pemilik kos-kosan tersebut. Disajikan dengan bahasa yang mudah diterima oleh siapapun, teenlit ini cocok untuk segala kalangan yang ingin ikut bergabung dalam dunia pertama kos-kosan Soda.

amouradilla@cassieva.wp.com

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

2 thoughts on “Canting Cantiq – Dyan Nuranindya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s