Posted in Fanfiction, Oneshoot

Just The Way You Are


just-the-way-you-arePoster by Sasphire

Title       : [MirJi’s Slice] Just The Way You Are

Author  : Kira (Park Narae)

Cast       : Jung Eunji (APink), Bang Cheolyong ( Mir MBLAQ)

Genre   : Romance, School, a bit comedy gagal -__-

Rating   : PG-13

Length  : 2000~ words.

 *****

Annyeong. Bawa fanfic lagi. Untuk mengisi ultahnya Mireu, bawa ff tentang dia. Ini MirJi Couple yah. Nggak suka couplenya? Nggak usah ribut kalau gitu. Anggep aja couple kesukaanmu. Yang penting ini Mir sama Eunji buatan aku.

Rencananya mau bikin oneshot yang berhubungan tentang couple ini. Tapi kali ini nggak sesuai kenyataan yah. Anggap aja mereka berdua sekolah di sekolah yang sama.

Maaf aja kalau nggak dapet feel, typo, atau apalah. Dari dulu masih pemula, hehehe. Eunji dan Mir punyanya grupnya. Ide cerita murni punyaku. Jangan diplagiat yah. Hargai sesama penulis. Happy reading^^

DON’T BE A PLAGIATOR. READ, COMMENT, LIKE Please ~

*****

School’s Café. 10.30 AM.

“Oii!!”

Teriakan keras gadis itu berhasil membuat seluruh penghuni meja cafe yang sedang makan itu tersedak. Gadis penyebab masalah itu hanya nyengir seraya mengambil tempat duduk paling pojok. Tanpa basa-basi ia mengambil semangkok jajangmyun yang nganggur di atas meja dan memakannya.

“YA! JUNG EUNJI!! Kau puas sudah membuat kami tersedak gara-gara suara melengkingmu itu?!” teriak Songju –salah satu korban teriakan Eunji– tak terima. Eunji hanya tersenyum kemudian melanjutkan menyantap makanan di hadapannya.

“Aish… Menyebalkan. Aku jadi tak selera makan,” rutuk Jiwon yang jajangmyunnya dimakan Eunji tadi sambil bangkit meninggalkan meja cafe diikuti oleh Songju dan yang lainnya. Kini hanya tersisa Eunji dan seorang gadis berambut panjang sebahu yang duduk mengelilingi meja cafe tersebut. Son Naeun, begitu yang tertulis di nametag yang dikenakan gadis itu.

“Eung? Kenapa mereka pergi?” tanya Eunji polos sambil tetap memakan jajangmyunnya.

“Mereka pergi karena ada kau! Siapa yang tak akan pergi kalau ada trouble maker mendekati mereka?!” jelas Naeun sambil menoyor kepala Eunji pelan. Eunji meringis.

“Ya! Kau tahu?! Sebelum kau datang kami sedang membicarakanmu lhoh! Pas sekali kau malah datang!” lanjut Naeun.

Mata Eunji melebar. “Jinjja?” tanyanya, mulai tertarik dengan topik yang dibicarakan Naeun. “Membicarakan tentang aku? Bagian apa? Apa karena aku cantik? Ah. Sudah pasti begitu, ya?”

Naeun terkekeh pelan. “Percaya diri sekali kau!”

“Mmmnn… Harusmm itu. Mmm…jadi seseorang… itu…mm…harusmm… percayaamm.. diri!” ucap Eunji tak jelas di sela-sela kunyahannya. Naeun menatapnya risih.

“Yah. Bagaimana mungkin aku mempunyai teman sepertimu? Jorok sekali!” rutuknya sambil mengulurkan beberapa tisu ke hadapan Eunji. Eunji sekali lagi hanya meringis.

“Telan dulu makananmu, baru bicara. Ja, banyak saus di sekitar mulutmu!”

Eunji segera mengambil tisu dari Naeun dan mengelap mulutnya yang belepotan saus. Naeun berdecak tak percaya. “Bagaimana mungkin kau memiliki seorang kekasih dengan sikapmu yang seperti ini?!”

Eunji melengos. Ia tak memperdulikan perkataan Naeun. Tangannya bergerak meraih segelas caramel mocha di hadapan Naeun dan langsung meminumnya. Naeun yang melihat mocha miliknya diminum habis oleh Eunji hanya menatapnya pasrah.

“Ah! Ne! Sampai lupa dengan yang tadi! Mereka membicarakan tentang sikapmu yang terlewat absurd itu!” ucap Naeun kemudian. Eunji mengernyitkan keningnya heran. “Absurd? Aku absurd apanya?”

“Ah, sebenarnya hanya sedikit aneh saja. Mereka menyayangkan sikapmu yang begitu tak peduli dengan penampilanmu. Kau jarang memakai make up, bahkan menyisir rambut sebelum ke sekolah pun bisa dihitung berapa kali seminggu. Kau kan hanya mengikat asal rambutmu.”

“Lalu, apa itu aneh?” tanya Eunji acuh. Ia masih asyik menghabiskn jajangmyun yang tersisa di mangkuknya.

“Emm… untuk ukuran seorang gadis SMA seperti kita itu aneh menurut mereka. Jung Eunji, siapa yang tak kenal kau? Siswa bersuara merdu tapi melengking, yang kalau berbicara seperti menggunakan sebuah TOA padahal tidak, cantik tapi tak pernah menyisir rambut, sebenarnya manis tapi sayang kelakuannya bahkan tak bisa dibilang kalau ia seorang gadis, dan hei, cara makannya tak beda jauh dengan tukang becak di depan sekolah. Ah! NE! Satu lagi! Kau itu jorok! Bagaimana mungkin dengan sikap seperti itu kau bisa disebut seorang gadis?!”

Eunji membelalakkan matanya tak percaya. Ia hendak memprotes perkataan Naeun tentangnya tapi ia urungkan setelah Naeun lebih dulu memotong ucapannya yang belum sempat keluar.

“Kau tau? Mereka takut kalau berada di dekatmu para namja incaran mereka akan ilfeel melihat mereka. Makanya mereka kabur tadi. Ya, Jung Eunji! Kapan kau merubah sikapmu, hah?!”

Eunji hanya mendengarkannya, tak berkomentar sepatah katapun.

“Apa mungkin gadis sepertimu akan memiliki kekasih?! Namja mana yang tahan dengan gadis seperti itu di sampingnya?! Semua namja menyukai gadis manis dan feminim. Bukan gadis seperti kau!” kata Naeun sambil mencubit pipi Eunji gemas. Eunji hanya melanjutkan makan. Walaupun diam-diam dia membenarkan perkataan Naeun. Tidak mungkin namja menyukai gadis sepertinya, kan?

Naeun menghela napas. Ia tersenyum. “Mereka pikir begitu. Aku pikir awalnya juga begitu. Tapi kemudian aku ingat si Jangsung itu! Bukankah kau sudah berpacaran dengannya hampir setahun ini?! Berarti mungkin juga kan gadis sepertimu memiliki kekasih! Menarik!” lanjut Naeun sambil terkekeh ringan.

Eunji masih diam.

“AH, ne! Eunji-ya?! Aku ingin tau bagaimana perasaan Mir memiliki kau sebagai yeojachingunya. Apa dia tak malu dengan gadis sepertimu?! Kau kan tak mirip seperti wanita!” sindir Naeun.

Eunji mendelik. “YA! Kau mengatai temanmu seperti itu?! SON NAEUN! BERANINYA KAU!” teriaknya tak terima. Naeun pun segera kabur dari hadapan Eunji dan meninggalkan Eunji sendirian di cafe.

Setelah kepergian Naeun, Eunji kembali terdiam.

“Benarkah begitu? Ya! Bang Cheolyong! Bagaimana perasaanmu? Apa seperti itu?!” tanya Eunji pelan.

*****

Gudang Sekolahan. 03.45 PM.

“Hatchii…!”

“Hatchii..!” Eunji mengelap ingus yang sedikit keluar dari hidungnya dengan lengan bajunya. Dilanjutkannya lagi kegiatannya yang sempat terhenti karena bersin tak berhentinya.

Entah sudah untuk ke berapa kalinya Eunji bersin sejak masuk ke ruangan ini. Ruangan yang sangat pantang untuk ia masuki tapi terpaksa harus ia datangi pagi ini; gudang sekolahnya.

Pagi tadi, ia kebagian jatah untuk mengambil peralatan olah raga di gudang ini. Beruntung ia segera menemukan apa yang diminta oleh gurunya dan segera keluar. Namun, setelah pelajaran selesai, ia baru sadar kalau cincin pemberian ibunya yang biasa ia pakai menghilang. Eunji pikir cincin itu terjatuh saat ia mengambil peralatan olah raga di gudang tadi.

Dan dengan terpaksa, setelah meminta ijin dari penjaga sekolah, ia memutuskan untuk masuk kembali ke tempat yang paling ia benci di sekolah, demi mencari cincinya. Namanya gudang, pasti tak jauh-jauh dari benda tak terpakai dan tentu saja… debu. Dan Eunji, sangat tidak menyukai debu. Ia alergi terhadap partikel-pertikel kecil yang berterbangan di mana saja itu. Beruntung seseorang bersedia menemaninya kali ini. Yah. Sekedar menemaninya sampai menemukan cincin itu, tidak membantunya. Orang itu tidak suka kotor, jadi hanya sekedar menemaninya, tak apa kan. Lebih baik dari pada sendirian.

“Hatchii…!”

Sekali lagi Eunji bersin. Kali ini ia biarkan sedikit ingus yang keluar dari hidungnya mengalir pelan ke permukaan bawah hidungnya. Tangannya terlalu sibuk untuk mendudah kardus-kardus dalam ruangan ini. Celah-celah kecil pun tak luput dari tangannnya. Demi mencari cincin yang terjatuh dalam ruangan berdebu ini, ia rela membiarkan hidungnya tersiksa.

Hampir saja ingus yang tadi keluar dari hidungnya menyentuh mulut gadis itu. Beruntung sebuah sapu tangan segera melintas di atasnya dengan kasar. Tak menyisakan setetes ingus pun yang tersisa.

“Sebegitu parahkah pertahananmu terhadap debu?!” sindir pemilik sapu tangan itu.

Eunji memandang sang empu tangan yang telah membersihkan ingusnya dengan sapu tangan tadi dan meringis bocah. Sesekali ia menyerot ingusnya yang hampir keluar lagi dari hidungnya. Namja pemilik sapu tangan itu hanya bergidik ngeri.

“Hatchu…!”

Lagi-lagi Eunji bersin. Mungkin ini yang terparah dari yang tadi-tadi. Dengan santai Eunji mengelap ingusnya yang sudah menjalar ke pipinya dan mengelap telapak tangannya ke pakaian yang ia gunakan. Lelaki pemilik sapu tangan itu berdecak kesal. Diusapnya lagi sapu tangannya ke hidung Eunji yang berair. Dibersihkannya ingus-ingus itu yang masih berkeliaran di wajah Eunji.

“Dasar jorok! Kapan kau berubah, hah?!” rutuk namja itu sambil beralih mengelap telapak tangan Eunji yang bekas ingus serta membersihkannya.

Eunji berhenti melakukan pencarian terhadap cincinnya dan mengalihkan fokusnya ke namja yang saat ini masih membersihkan telapak tangannya. Ditatapnya namja itu lekat.

Merasa ada yang memperhatikan, namja itu beralih menatap Eunji. “Wae?” tanya lelaki itu dengan masih sibuk membersihkan telapak tangan Eunji.

“Cheolyong-a,…” panggil Eunji pada namja itu pelan.

“Hm?” namja yang dipanggil Cheolyong itu hanya berdeham ringan kemudian kembali membersihkan telapak tangan Eunji yang lain.

“Apakah aku harus berubah?” tanya Eunji kemudian. Pertanyaan itu berhasil membuat Cheolyong mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Cheolyong menatap Eunji tak mengerti.

Eunji meringis. “Err…. Teman-temanku berubah feminim agar terlihat pantas di depan namja yang ia sukai. Mereka bilang dengan sikapku yang seperti ini takkan membuat seorang namja pun menyukaiku. Kau tau kan, apa maksudku? Jadi… Apa aku harus berubah demi kau?” tanyanya lagi.

Tak ada yang berucap setelah kata-kata terkahir dari mulut Eunji itu keluar. Hening menyelimuti mereka berdua.

Tak lama kemudian Cheolyong mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya dan tertawa terbahak-bahak. Tawa Cheolyong sontak membuat Eunji mengerucutkan bibirnya kesal. “Kenapa tertawa?!” bentaknya tak terima.

Masih dengan tertawa, Cheolyong menjawab pertanyaan Eunji. “Haha… Memang… Memangnya kau bisa berubah?!” tanyanya yakin sambil tertawa lagi.

Mata Eunji melebar seketika. Bagaimana mungkin saat ia sedang berusaha bersungguh-sungguh namja di depannya ini malah menyindirnya?! Kesal melihat Cheolyong yang terus tertawa, Eunji pun segera menendang kaki lelaki di depannya itu. “DIAM!” bentaknya. Cheolyong hanya meringis.

“Arasseo. Aku takkan tertawa,” ucap Cheolyong kemudian. Eunji hanya mencibir. “Tapi, hei, sejak kapan kau memperhatikan perkataan teman-temanmu? Biasanya kau tak pernah memperdulikannya. Kau salah minum obat, hah?!” tanya Cheolyong sambil pura-pura meletakkan telapak tangannya di dahi gadis itu.

“Ani ~ ~!!” rengek Eunji sambil menjauhkan tangan Cheolyong dari wajahnya. “Aku hanya berpikir perkataan mereka benar juga. Aku terlalu jauh dari kata gadis feminim ataupun gadis manis. Aku penasaran apa kau tak ingin aku berubah menjadi seperti gadis pada umumnya. Begitu saja,” jelasnya.

Cheolyong mendengus. Ditoyornya kepala gadis di hadapannya pelan. “Bodoh!” cibirnya.

Eunji mendelik. “Mwo?! Bodoh?! Kau mengataiku bodoh?!”

“Ne! Kau bodoh! Aku menyukaimu apa adanya. Untuk apa mendengarkan kata mereka?!” ucap Cholyong malas.

“Ne?” Mata Eunji melebar. Sepertinya ada yang salah dengan pendengarannya.

Cheolyong meletakkan kedua tangannya di pipi Eunji dan menatap gadis itu lekat. “Ya, Jung Eunji. Dengarkan. Aku menyukaimu apa adanya kamu. Tak peduli kau jorok, bodoh, ataupun tak mirip sebagai wanita, aku tetap menyukaimu. Karena kau Jung Eunji, makanya aku suka. I love you because… it is you. Just the way you are. Just stay be yourself, and I will love you” tuturnya pelan.

Eunji mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian tersenyum. “Cheolyong-a, aku tak tau kau bisa seromantis ini,” pujinya. Cheolyong tersenyum. “Kau tak salah minum obat, kan?! Atau tendanganku tadi merubah sarafmu sampai kau bisa seperti ini?” lanjut Eunji tak ayal membuat Cheolyong melepaskan tangannya dari wajah Eunji dan berdecak kesal.

“Sampai kapan kau seperti ini, hah?!” rutuk Mir.

“Molla~” balas Eunji tak peduli sambil melanjutkan pencariannya.

“Aish. Semoga saja aku tidak terlanjur gila menjadikanmu kekasihku!” lanjut Mir sambil menatap Eunji tak percaya.

*****

10 menit lainnya berlalu. Eunji masih tak menemukan cincinya.

Sesekali Eunji bersin lagi setiap ia membuka kardus-kardus yang berdebu itu. Tak tega melihat gadisnya seperti itu, Mir pun bangkit dari posisi duduknya dan menyeret Eunji ke pojok ruangan yang masih terbebas dari debu.

“Kau disini saja. Biar aku yang cari!” ucapnya sambil diserahkannya saputangannya ke gadis itu. Ia pun segera melanjutkan pekerjaan Eunji mencari di antara tumpukan kardus.

“Gomawo…” ucap Eunji pelan sambil kembali menyerot ingusnya yang hampir meler.

“Aish. Jangan diserot. Kau tak mau kena sinusitis karena itu kan?! Apa gunanya sapu tangan kalau kau masih menyerotnya?!” gerutu Mir di sela-sela pencariannya.

Eunji meringis. Kemudian ia pun segera mengeluarkan ingus di hidungnya hingga menimbulkan suara yang tak bisa dibilang pelan. Lagi-lagi ia meringis.

Mir menatapnya tak percaya. “Ya! Bukan berarti kau bebas melakukannya dengan suara sekeras itu! Kau itu seorang gadis! Tak malu apa?!”

Eunji merengut. “Bukankah kau yang mnyuruhku seperti ini tadi?!” protes gadis itu tak terima.

Mir berdecak kesal. “Bukan begitu juga! Aigoo… Apa salahku sampai bisa menyukai gadis sepertimu?!”

“Kau bilang kau menyukaiku apa adanya? Aku ya seperti ini!” balas Eunji. Mir menggeleng-gelengkan kepalanya tak peduli sambil masih tetap mencari cincin itu.

“Aish! Dimana cincin itu?!” keluh Mir setelah hampir 10 menit ini ia tak mendapatkan apa-apa. “Kau yakin menjatuhkannya di gudang?” tanya Mir.

Eunji mengangguk. Ia menatap Mir lekat. Demi cincinnya, lelaki itu rela berkotor-kotoran dengan debu-debu di ruangan ini.

Eunji baru saja akan mengambil tissue di tasnya untuk membersihkan lengan baju Mir yang terkena debu. Pandangannya teralihkan ketika mendengar suara dentingan logam dengan lantai. Gadis itu menoleh.

“Eoh? Cincinku?” bisiknya tak percaya. Ia segera mengambil cincin itu dan mengamatinya. Benar. Itu benar cincinnya yang hilang. Bagaimana mungkin cincinnya…? Kemudian ia memandang cincin dan tissuenya bergantian. Eunji meringis.

“Cheolyong-a…” panggilnya. Mir yang masih serius mencari hanya berdeham. Eunji menelan ludahnya sekilas. “Sepertinya kau bisa menghentikan pencarianmu sekarang,” lanjut Eunji pelan.

Mir menghentikan aktifitasnya dan menatap Eunji heran. “Wae? Jika karena kau takut aku kotor, aku tak apa,” tuturnya sambil kembali mencari.

“Ehm… sebenarnya cincinnya baru saja kutemukan,” ucap Eunji kemudian. Berhasil membuat Mir 100% menghentikan pencariannya. Matanya berbinar.

“Benarkah? Di mana kau menemukannya?” tanyanya antusias sambil mendekati Eunji.

Eunji meringis. “Di tasku,” jawabnya pelan. Mir mendelik. “MWO?! Di tasmu?! Kita mencari selama ini di gudang penuh debu tidak menemukan apa-apa dan ternyata cincin itu di tasmu?!” ucapnya tak percaya.

Eunji mengangguk. Ia meringis lagi. “Aku baru ingat. Sebelum mencari alat olah raga di gudang, aku menyimpan cincinku di antara tissue agar tak kotor. Maafkan aku,” jelasnya.

Mir menatapnya tak percaya. Ia sampai rela berkotor-kotoran tapi hasilnya…. “Aish!” rutukknya. “Kalau begitu ayo kita pulang. Alergimu akan semakin buruk jika terus berada di sini!” ucapnya sambil membereskan tasnya dan berjalan keluar gedung itu, meninggalkan Eunji yang masih terdiam.

“Cheolyong-a! Maaf!!!” teriak Eunji sambil berusaha mengejar Mir.

Mir berdecak. “Bagaimana mungkin kau bisa seceroboh itu. Sudah kubilang, kan, cari dulu di tempat lain sebelum mencari di gudang,” oceh lelaki itu saat Eunji sudah berjalan di sampingnya.

“Maaf ~~ Setidaknya kan aku jadi tau kalau kau sungguh menyukaiku…” ucap Eunji sambil tersenyum senang. Ia merangkul lengan Mir dengan maksud mengurangi kekesalan lelaki itu.

“Lupakan ucapanku tadi. Butuh perjuangan hebat untuk tetap berada di sisi seorang gadis sepertimu!” kata Mir tajam sambil melepaskan genggaman tangan Eunji di lengannya. Eunji terdiam, syok.

“Ya! Cheolyong-a!! Tak bisa seenaknya menarik kembali ucapan!!” jerit Eunji tak terima sambil kembali mengejar Mir yang sudah berjalan meninggalkannya.

***** END *****

Gimana? Gaje, kah? Kekekeke. Komennya dong :3

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

3 thoughts on “Just The Way You Are

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s