Posted in Resensi

Morning Light – Windhy Puspitadewi


morninglightJudul Buku          : Morning Light

Pengarang          : Windhy Puspitadewi

Penerbit              : Gagasmedia, Jakarta

Terbit                    : 2010 (Cetakan Pertama)

Tebal                     : 180 halaman

*****

Aku seperti bunga matahari yang selalu mengejar sinar matahari, hanya melihat pada dia: matahariku.

Aku mengagumi kedalaman pikirannya, caranya memandang hidup – malah, aku mati-matian ingin seoerti dirinya.

Aku begitu terpesona hingga tanpa sadar hanya mengejar bayang-bayang. Aku menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendongak sampai lupa kemampuan diriku sendiri.

Aku bahkan mengabaikan suara lirih di dasar hatiku. Aku buta dan tuli. Dan di suatu titik akhirnya tersungkur. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya: Apakah dengan menjadi seperti dia, aku pun akan dicintai?

*****

Bercerita tentang persahabatan 4 anak SMA yang sudah terjalin sejak mereka SMP. Devon, Sophie, Agnes,  dan Julian. Devon dan Sophie, bersahabat sejak mereka kecil, rumah mereka berdampingan, dan mereka satu sekelas sejak TK sampai SMA ini. Jadi tidak heran kalau mereka sudah mengenal kelebihan dan kekurangan dari teman mereka masing-masing. Agnes yang pindahan dari Jakarta dan Julian dari Surabaya menjadi bagian dalam persahabatan mereka sejak hari pertama masuk SMP.

Devon, pemain andalan sepak bola sekolahnya. Ayahnya yang mantan pelatih klub sepakbola membuat Devon menjadikan sepak bola sebagai salah satu tujuan hidupnya.

Sophie, gadis berkacamata ini putrid seorang penulis. Ia sendiri sudah berhasil menghasilkan novel karangannya sendiri. Mengikuti jejak ibunya, ia berharap bisa menjadi penulis terkenal seperti ibunya.

Julian, perfect. Menguasai apapun di bidang pelajaran, akademis maupun non akademis. Ayahnya seorang professor matematika, dan ia mempunyai seorang kakak yang tak beda jauh dengannya, sempurna.

Agnes, gadis penyuka kuliner. Ia memutuskan masuk ke SMK karena ia suka memasak. Masakannya pun tidak bisa dibilang tidak enak. Selalu enak. Orang tuanya dokter semua. Dan ia memiliki seorang kakak perempuan yang sudah meninggal beberapa tahun lalu.

Awalnya, keempatnya memiliki cara mereka untuk menjalani hidup dan menjalankannya secara bahagia. Tapi siapa sangka kebahagiaan itu hanya sebagai kamuflase yang menutupi sosok mereka sesungguhnya.

Devon yang memang menyukai sebak bola, kehilangan hati dan cara permainannya yang sesungguhnya saat sang ayah semakin memaksanya untuk berlatih keras dan mengharapkan permainan Devon selalu seperti yang ia inginkan. Devon seakan bukan menjadi dirinya saat sang ayah mengendalikan permainannya.

Sophie, kehilangan kepercayaan dirinya untuk menulis novel. Beberapa kali terakhir novelnya mengalami penolakan, ia rela jika naskahnya harus direvisi seluruhnya agar bisa diterbitkan. Selama ini ia menggunakan nama penanya dalam setiap novelnya. Alasannya? Ia tidak percaya diri dengan namanya yang mengandung ikatan dengan ibunya yang saat itu sudah menjadi penulis best seller.

Julian, yang dari luar terlihat sempurna dan tak memiliki masalah apapun. Capek karena mengejar seseorang yang menjadi panutannya selama ini. Ia berusaha menjadi seperti Daniel, kakaknya, yang selalu berhasil di segala lomba yang ia ambil. Ah tidak. Julian berusaha untuk melebihinya, melampauinya. Kalau Daniel juara 2 ia harus bisa juara 1. Kalau Daniel juara 1, ia juga harus bisa, bahkan kalau perlu menjadi peserta terbaik. Lama-lama Julian capek sendiri menjadi seperti itu. Julian harus menjauh dari baying-bayang Daniel.

Dan Agnes, dari keempatnya mungkin dia yang terlihat tidak memiliki masalah. Padahal ia juga memiliki masalah yang justru sangat menekannya. Kematian kakaknya, yang menjadi anak kesayangan papa-mamanya selama ini membuatnya tertekan. Ia berbeda dengan kakaknya yang pintar, ia hanya siswi SMA biasa. Orang tuanya mengharapkan kakaknya menjadi dokter seperti mereka, namun kematiannya membuat harapan satu-satunya orang tuanya hilang. Sejak itu, ia merasa kehadirannya di dunia ini tidak diperlukan. Seharusnya ialah yang mati, bukan kakaknya yang menjadi kebanggaan orangtua. Dan hobinya memasak pun semakin membuatnya terlihat bukan apa-apa dibandingkan kakaknya, di mata orangtuanya.

Keempatnya bagaikan 4 bunga matahari yang selalu berusaha mengejar cahaya matahari kesukaannya. Yang bahkan terkadang, tak segalanya bisa diraih sesuai keinginannya.

Morning Light, sekali lagi karya Windhy Puspitadewi yang patut diacungi jempol. Ia bisa membawa kita larut dalam ceritanya dan menyampaikan pesannya dengan caranya sendiri.

Cover depan yang bergambar bunga matahari dan synopsis yang menceritakan tentang bunga matahari membuat tertarik pembaca untuk memilihnya. Dan kita tidak akan tahu maksudnya sampai kita menyelesaikan halaman terkahir novel ini.

Memberitahukan kita, para bunga matahari yang masih mengejar mataharinya yang sulit diraih agar berhenti mengejarnya. Membiarkan kita melihat diri kita sendiri yang memiliki kecantikan di dalamnya, dan berusaha memilih jalan lain yang tidak membuat kita terluka.

Yap. Selain tentang bunga matahari, persahabatan ini juga dibalut dengan kisah cinta antara 4 sahabat itu. Dimulai dengan Agnes yang menjadi pacar pura-pura Devon dengan tujuan membantu lelaki itu agar terhindar dari fans-fans fanatiknya. Awalnya biasa saja, berjalan lancar. Namun siapa sangka hal sepele itu mulai membuat seseorang terluka.

Untuk kisah cintanya, menurut aku, sudah bisa ditebak. Seperti kebanyakan cinta dalam lingkaran persahabatan. Sudah tahu endingnya ini sama siapa, ini bagaimana. Tapi, berhubung inti cerita ini tentang bunga mataharinya (?) jadi nggak masalah kalau kisah cintanya ketebak. Secara itu hanya pelengkap, hehehe.

Kelebihannya : novel ini berlatar Semarang!! Yey! Kota yang setidaknya aku mengenalnya. Jadi aku bisa bayangin gimana suasana ketika cerita itu berlangsung. Bisa lebih masuk, lah. Biasanya kalau novel lain yang latarnya di tempat yang aku nggak kenal aku Cuma bisa membayangkan. Dan ini tidak. Apalagi ada Pecel Yu Sri diceritain. Aku juga suka ke sana lhoh *pamer*😀

Dan begitulah Windhy membuat kita larut dalam novelnya. Sepertinya aku harus mencantumkan nama penulis Morning Light ini sebagai penulis favoritku mulai saat ini, hehehe.

Bagi kalian yang masih menjadi bunga matahari seperti layaknya keempat sahabat tadi, novel ini bisa menjadi anduan agar kita melepaskan diri dari semua itu. Harus baca, deh. Nggak bakal nyesel.

credit : amouradilla@cassieva.wp.com

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s