Posted in Resensi

Loventure – Mia Arsjad


8081181

Judul Buku : Loventure

Pengarang : Mia Arsjad

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Terbit : April 2006

Tebal : 232 hal

*****

Putus lagi, putus lagi! Nina nggak pernah awet pacaran sampe lebih dari tiga bulan. Padahal dia benci banget jadi jomblo! Sekalinya sampe ke peringatan tiga bulan sama Beni… ARGGGHHH!!! Ternyata Beni manusia brengsek yang menyebalkan! Ooohhh… Nina patah hati lagi!

Siapa lagi yang ikut pusing kalo bukan Bintang dan Caca, sahabat Nina? Rutinitas menghibur Nina yang putus cinta selalu terjadi di kamar paviliun Bintang. Untung ada Bintang, sobat dalam susah dan senang, nangis dan ketawa… pokoknya komplet deh!

Bintang bilang itu salah Nina karena nggak tahan ngejomblo. Caca bilang mungkin Nina dikutuk sama mantan-mantan cowoknya jadi nggak pernah bisa pacaran lama. Hah? Masa sih? Tapi “kutukan” itu luntur sejak Nina ketemu Kinan, cowok tampan yang baik hati tapi penuh kejutan!

Yah, cinta kan nggak bisa ditebak, dan petualangan cinta Nina waktu SMA jadi kayak film layar lebar. Namanya film layar lebar, siapa yang tau ending-nya?

*****

Love is like an adventure. Mungkin kalimat itu pantas untuk menggambarkan keseluruhan isi novel Loventure ini. Perpaduan antara kata Love dan Adventure, novel ini menceritakan tentang kisah cinta Nina yang bagaikan sebuah film layar lebar, sebuah petualangan, yang tak diketahui akhirnya sampai kita menamatkannya.

Menceritakan tentang Nina, gadis kelas 3 SMA, yang setiap kali berpacaran pasti putus sebelum menyentuh angka 3 bulan. Berbeda dengan Caca, sahabatnya, yang walaupun baru dua kali ini berpacaran, hubungan dia dan Karel –kekasihnya– langgeng aja sampai sekarang. Karena kondisi percintaan Nina yang seperti itu, dia dan Bintang, sahabat Nina juga, harus rela menjadi tempat curhatan Nina setiap kali gadis itu habis putus dari pacarnya.

Mulai dari anak jadul yang rambutnya kayak jambul burung kakaktua sampai anak metal yang rambutnya bahkan bisa buat meletuskan sebuah balon, semua sudah pernah jadi kekasih Nina. Namun tak satupun yang bertahan sampai lebih dari tiga bulan.

Dedi, pacar pertama sekaligus pacar pura-pura Nina. Selalu berpakaian dan gaya rambut aneh yang menurut kacamata dia itu termasuk keren. Kemudian Bibong, drummer salah satu band metal yang punya tato di sepangjang lengannya dan beberapa tindik di tubuhnya. Berpindah ke Gian, cowok keren, macho, pecinta alam. Sebenernya nggak ada yang salah sama cowok ini. Cuma Nina nggak cocok aja sama gaya hidup Gian yang terlalu “menyatu dengan alam”. Dan terakhir Beni, cowok tajir, keren, baik, yang dikira Nina bisa jadi pacar terakhirnya. Pasalnya baru saat pacaran sama Beni Nina bisa sampai usia tiga bulan! Namun harapannya pupus ketika kebusukkan Beni terungkap tepat di malam perayaan tiga bulan aniiv mereka.

Nah, lhoh. Dari sekian banyak pria yang udah pacaran sama dia, pasti ujungnya putus. Bintang bilang itu karena Nina nggak pernah menyeleksi secara ketat siapa yang bakal jadi kekasihnya. Langsung terima gitu.  Harusnya dia cari cowok yang tepat. Kalau Caca bilang itu malah karena kutukan dari mantan-mantannya! Nina akhirnya memutuskan untuk menjomblo dahulu sampai menemukan lelaki yang tepat untuk menjadi kekasihnya.

Sampai akhirnya Nina ketemu Kinan. Drummer salah satu band jazz di kafe juga ketua klub music sekolah yang punya wajah manis , baik, tapi pendiam. Bersama Kinan, Nina merasakan apa yang sebelumnya tak pernah dia rasakan dengan mantan-mantannya dulu. Gadis itu merasa Kinan adalah cowok yang tepat buatnya. Dan itu terbukti, hubungan mereka berlangsung lebih dari 3 bulan! Rekor terpanjang selama masa pacaran Nina.

Namun, saat Nina mulai merasa nyaman dan ingin bersungguh-sungguh pada hubungannya dengan Kinan, takdir justru berkata lain. Ternyata Kinan juga bukan lelaki yang tepat untuk Nina. Lalu, siapakah lelaki yang tepat untuk menjadi kekasih Nina? Apakah akhirnya Nina berhasil menemukan Mr. Rightnya?

Jalan cerita yang unik serta penggunaan alur campuran antara masa sekarang dan masa flashback ketika Nina dengan mantan-mantannya tak membuat pembaca bingung mencerna ceritanya. Dikisahkan dengan kalimat yang mudah dimengerti dan sesuai dengan bahasa anak muda sekarang, novel ini cocok untuk kalangan remaja yang memang sedang gencar-gencarnya mencari cinta mereka. Penyisipan kalimat humor-humor lucu tak elak membuat kita tertawa ketika kita membaca novel ini. Pembaca jadi tak mudah bosan untuk membuka lembar demi lembar halaman berikutnya.

Walaupun sejujurnya, ada beberapa humor yang seharusnya tak perlu malah ditampilkan. Hal itu justru membuat lelucon tersebut menjadi garing. Dan juga, novel ini mengandung unsur-unsur yang kurang baik jika diketahui oleh anak di bawah umur seperti narkoba, tawuran, dan sebagainya.

Loventure sendiri adalah karya kedua Mia Arsjad yang berhasil menembus percetakan. Setelah Miss Cupid, karya pertamanya, berhasil mengantarkan dia menjadi salah satu penulis berbakat dalam ajang Lomba Menulis Teenlit yang diadakan GPU. Karya-karya Mia cenderung identik dengan jalan cerita yang unik, lucu, serta penggunaan bahasa yang mengalir dengan lancar. Jadi jangan heran kalau di setiap novel Mia pasti menggunakan kalimat-kalimat yang membuat kita tertawa. Bahkan di saat konflik cerita sedang genting-gentingnya.

Credit:

Shared and posted by amouradilla@cassieva.wp.com

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s