Posted in Fanfiction, Oneshoot

[KaSoo] When I Was The Prettist


wheniwas

Title       : When I Was The Prettist

Author  : Kira

Cast        : Kim Myungsoo (Infinite), Yang Kahee (OC)

Genre    : Romance, School

Length  : 3300~ words

Rating   : PG-15

 *****

Annyeong! Aku bawa fanfict gaje lagi. ini lanjutan seriesnya Kahee n Myungsoo alias KaSoo couple yah. Biasa sih kalau nggak jelas, nggak runtut, nggak ada feel, dan typo. maklum masih belajar😄 Ini murni ide saya. dapet inspirasi dari pengalaman temen, kekeke. Posternya rada gaje, yah? Maklum. itu juga baru latian😄

Please Read, Like, and Comment, okeeh? Don’t be a Plagiator!

*****

School’s Hall. Delegation of School Competition.

“Aigoo… Mereka cantik sekali… Aku kalah jauh…” gumam Kahee sambil menatap orang-orang yang sedang berdiri di atas panggung di hadapannya. Pandangannya focus, dengan kedua tangannya saling bertaut menyangga dagunya.

Jiyeon yang berada di sampingnya mencibir. “Mereka memang cantik. Tapi tak perlu juga kau pandangi mereka seperti itu. Kau itu perempuan, bodoh! Lihat sekelilingmu! Hanya teman lelaki kita yang memperhatikan mereka sepertimu!”

Kahee bergeming. Ia masih asyik memandangi wanita-wanita cantik di depannya itu sambil sesekali mengungkapkan kekagumannya itu.

Jiyeon menatap sahabatnya itu tak percaya. “Ya! Kau normal, kan?! Kau tidak penyuka sesama jenis, kan?!”

Seketika Kahee menghentikan aktifitasnya. Dipandangnya gadis di sampingnya itu tajam. “Kau mau mati, hah? Aku 100% normal!” bentaknya tak terima.

Jiyeon nyengir. “Salah sendiri kau bertingkah seolah kau memuja mereka!”

Kahee kembali ke focus awalnya. Tak memperdulikan perkataan Jiyeon dan kembali memandang ke depan. Jiyeon berdecak kesal.

“Aish. Jinjja! Aku ragu kau benar-benar normal!” celetuk Jiyeon asal, membuat Kahee lagi-lagi menoleh ke arahnya dengan tatapan garang.

“YA! Berapa kali harus kukatakan padamu?! Aku normal!” bentak Kahee kemudian.

“Lalu kenapa kau memandang mereka seperti itu? Aku biasa saja.”

Wajah kesal Kahee berubah cerah. Gadis itu tersenyum lebar. “Karena mereka sangaaat… cantik. Aku ingin cantik seperti mereka. Siapa tahu aku bisa ikut kompetisi itu juga nantinya…” jawab Kahee sambil menerawang ke depan.

“Ikut kompetisi? Kau bermimpi?! Mendaftar saja tak berani!” ejek Jiyeon yang dibalas tatapan tajam dari Kahee.

Jiyeon melengos pelan. “Kau saja seperti ini. Bagaimana dengan Myungsoo sunbae? Aku yakin dia sedang melihat kontes ini dari kelasnya sambil air liurnya menetes! Oh! Mungkin dia akan memilih salah seorang gadis di sana dan memutuskanmu,” ucap Jiyeon santai sambil berjalan pelan meninggalkan Kahee.

Kahee yang mendengar nama Myungsoo disebut kontan tak terima. Dijambaknya rambut Jiyeon dari belakang, menghentikan langkah gadis itu. “YA! Mworago?! Kau mau mati, hah?!” bentaknya keras.

Jiyeon meringis. “Ya! Sakit tau! Lepaskan!” rintihnya sembari berusaha melepas cengkraman Kahee dari rambutnya. Kahee memang terlihat imut dan kalem dari luar. Tapi kalau kau sudah mengenalnya, seekor harimau saja kalah ganas dibanding Kahee saat marah. “Ara, ara… Myungsoo tidak tertarik dengan kontes semacam itu. Dia tak akan memutuskanmu. Jadi… lepaskan aku, Yang Kahee!!” ucap Jiyeon kemudian saat Kahee tak kunjung melepas jambakannya.

Kahee tersenyum menang. Ia melepaskan rambut Jiyeon dan menatanya sekilas. “Mian,” katanya sambil meringis.

Jiyeon meringis. “Mian? Jangan datang padaku kalau Myungsoo Sunbae tiba-tiba memutuskanmu dan kabur dengan salah seorang gadis dari sana!”

“Ya!” Kahee menjerit tak terima. Baru saja ia akan menjambak rambut Jiyeon lagi namun sahabatnya itu terlebih dulu melarikan diri dari hadapannya.

“Aish. Jinjja! Park Jiyeon! Awas kau, ya!”

*****

Sekolah Kahee termasuk salah satu sekolah paling bergengsi di Seoul. Selain prestasinya, lulusan sekolah ini juga hampir seluruhnya memperoleh tempat di perguruan tinggi. Sarana dan prasarananya juga menjadi salah satu yang terbaik di seluruh Seoul. Jadi tak heran kalau sekolah ini sering digunakan untuk acara penting. Seperti salah satunya ini.

Ajang pemilihan siswi sekolah menengah atas yang berhak menjadi perwakilan sekolahnya sebagai duta wisata di Seoul. Setiap sekolah di Seoul mengirimkan wakilnya untuk bersaing menjadi yang terbaik di sini. Sebenarnya perwakilan siswa-siswi. Namun tempat perlombaannya terpisah. Jadi kali ini, sekolah Kahee mendapatkan kehormatan untuk menjadi tempat diadakannya lomba ini untuk kategori wanita. Jadilah banyak siswi cantik di sini, kekeke.

*****

Jam tambahan malam. Klub Lomba.

“Sunbae, kau melihatnya, kan? Mereka sangat cantik! Aigoo… Makan apa mereka sampai cantik seperti itu?” oceh Kahee saat ia mengikuti tambahan kelas malam untuk pelatihan lomba mendatang. Myungsoo yang duduk di sebelahnya hanya berdeham tak begitu memperhatikan.

“Karena ini ajang perlombaan, tak mungkin operasi plastic diperbolehkan. Benar, kan? Jadi mereka cantik dari lahir. Aigoo… Kenapa bisa secantik itu?” oceh Kahee lagi sambil mulai mencoba menarik perhatian Myungsoo dengan sedikit mengganggunya. Namun lelaki itu bergeming. Ia masih focus menyatat apa yang ditulis guru di papan tulis.

Kahee menghentikan usahanya untuk memperoleh perhatian Myungsoo. Percuma saja. Lelaki itu kalau sudah focus tak mudah diganggu. Walau demikian, Kahee masih saja mencerocos tentang kecantikan gadis-gadis tadi.

“Aku lebih suka runner up-nya. Dia lebih cantik dari pemenang pertama. Siapa namanya? Ehm… Kim Tae Hee… Cantik sekali. Dibandingkan Hyori, pemenang utama, Tae Hee-ssi jauh lebih cantik. Kau setuju, kan?”

Myungsoo tak menjawab.

“Ah. Mantha! Yoojin dari Seungri HS pun tak kalah cantik. Hanya saja ia kurang tinggi… Sayang sekali…”

Kahee mengerucutkan bibirnya kesal. Ia tak yakin perkataannya yang sedari tadi sudah sepanjang Sungai Nil itu diperhatikan oleh Myungsoo barang sekata pun. Lelaki itu terlalu focus pada pelajarannya. Kemudian Kahee teringat perkataan menyebalkan dari Jiyeon. Jangan-jangan Myungsoo tertarik dengan salah seorang kontestan!

“Sunbae, menurutmu, siapa yang tercantik? Kau menjagokan siapa? Tae Hee? Hyori? Atau Yoojin? Atau… Soojung dari sekolah kita? Aigoo… mereka semua cantik, kan? Jung Soojung juga. Aku sudah tahu kalau dia bukan siswi biasa. Ternyata dia model, kan! Tak heran… ia begitu cantik. Dibanding dia, aku tidak ada apa-apanya… Kahee-ya, mana mungkin kau bisa menjadi wakil sekolahmu? Banyak yang lebih cantik darimu…” oceh Kahee kemudian. Gadis itu menunduk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, mengkasihani dirinya sendiri yang kalah cantik dari Soojung.

“Kau bisa ikut kalau kau mau.”

Kahee mendongak. Sepertinya ia mendengar suara yang mengatakan kalau ia bisa ikut lomba itu kalau dia mau. Siapa yang mengatakannya? Dicarinya sumber suara itu, namun nihil. Semua orang sedang sibuk mencatat. Sepertinya hanya ia sendiri yang tidak focus dengan pelajaran tambahan ini.

Kahee mendesah. “Lihat dirimu, Kahee. Tidak cantik, tidak memperhatikan pelajaran, dan kini kau pun mendengar suara yang tidak-tidak,” gumam gadis itu pelan.

“Kau bisa saja ikut kalau kau ikut seleksi!”

Suara yang sama lagi. Kahee mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas namun tidak ada yang terlihat sedang berbicara padanya. Ia pasti berkhayal. Tapi kenapa suaranya terdengar familiar, yah? Seperti suara… Kim Myungsoo!

Kahee terbelalak. “Sunbae… Jangan bilang itu tadi suaramu!” ucapnya tak percaya.

Myungsoo mendengus. Ia menoleh ke arah Kahee dan menatap gadis itu kesal. “Apa yang kau fikirkan, hah? Bahkan aku berbicara padamu kau tak tahu!”

Kahee meringis. Tetapi kemudian kepalanya menoleh ke arah depan. Myungsoo tidak mungkin menjawabnya karena sedari tadi guru mereka menulis di depan. Bagi Myungsoo, pamor Kahee masih kalah dibnding guru yang mengajar di depannya. Lalu, kenapa tadi Myungsoo menanggapi ocehannya? Kemana guru itu?

“Seonsaengnim pergi sebentar. Menyuruh kita menyalin semuanya,” jelas Myungsoo seakan bisa membaca pikiran Kahee.

Gadis itu mengangguk-angguk. Kemudian meringis lagi. “Jadi itu tadi kau? Hehehe. Mian, aku tak sadar. Lalu… apa maksudmu aku bisa ikut?”

Myungsoo kembali menyalin catatan dari papan tulis ke buku tulisnya. “Kau bisa saja jadi perwakilan sekolah kita. Asal kau lolos seleksi. Tapi mendaftar saja kau tidak berani. Bagaimana mungkin bisa jadi perwakilan! Jiyeon bilang kau mengundurkan diri di hari terakhir pendaftaran. Apa itu yang kau sebut ingin jadi perwakilan?” ucap Myungsoo sembari tetap menulis.

Kahee menunduk. “Itu… Aku takut, sunbae. Aku tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Lihat yang ikut seleksi. Soojung, Hara, Seohyun-eonni, dan yang lainnya. Mereka lebih baik dari aku. Aku pasti kalah,” gumam gadis itu pelan.

Sambil masih menulis, Myungsoo berdecak. “Apa yang kau takutkan? Kau tidak berbeda dengan mereka. Kau bahkan punya yang lebih dari mereka. Kau cantik. Kau pintar. Kau juga pandai berbicara. Jadi, apa yang kau takutkan— eh.”

Myungsoo menghentikan ucapannya saat didapatinya mata Kahee berbinar menatapnya saat ia menoleh. Lelaki itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Sesaat ia tersadar. Bodoh. Kim Myungsoo bodoh! Apa barusan kau memujinya?

Myungsoo menelan ludahnya sekilas. “Err… Sepertinya aku salah bicara,” ucapnya cepat. Yang Kahee paling suka dipuji. Berkebalikan dengan Myungsoo yang jarang memuji. Bahkan Kahee sekalipun. Ia hampir tak pernah memuji Kahee walaupun gadis itu selalu menggodanya agar memberikan pujian singkat padanya.

Kahee tersenyum lebar. “Sunbae, kau baru saja mengakui kalau aku cantik. Benar, kan?”

Myungsoo tergagap. “A… ani! Itu tidak mungkin! Kau salah dengar pasti! Makanya jangan melamun! Perhatikan saja papan tulis!” elak lelaki itu sambil kembali menulis, panic.

Kahee mengerucutkan bibirnya kesal. “Benar juga. Kau tak mungkin memujiku,” simpulnya kemudian. Myungsoo menghela napas lega.

“Geundae… Menurutmu… kalau aku ikut seleksi itu, apa aku bisa terpilih jadi wakil sekolah?” tanya Kahee kemudian. Myungsoo kembali diam.

“Sunbae… Jawab aku! Apa aku mungkin menang?!” tanya Kahee antusias. Kali ini sambil menarik-narik lengan Myungsoo.

Myungsoo berdecak. “Kau bercanda, hah? Menang? Lolos tahap satu saja sudah beruntung untukmu! Kau kalah tinggi! Otakmu pun hanya bekerja di saat-saat tertentu. Tidak bisa diandalkan. Dan kau bisa saja menghancurkan sekolahan karena perkataanmu yang terkenal kasar!”

Cengkraman Kahee di lengan Myungsoo seketika menghendur sampai akhirnya terlepas. Ia tak menyangkan Myungsoo akan mengatakan hal-hal kejam itu padanya. Gadis itu menatap Myungsoo kesal. Digembungkannya kedua pipinya, pandangannya beralih menatap buku tulis yang sedari tadi menganggur di depannya.

“Aku tahu. Tanpa perlu kau katakana aku juga sudah tahu. Aish… seharusnya aku tak bertanya padamu! Kalau begitu jawabannya, kenapa tadi dia bilang aku bisa ikut kalau seleksi?! Menyebalkan,” gumam Kahee sambil mencoret-coret buku tulisnya asal.

Dunia Myungsoo tenang sesaat. Tidak ada lagi ocehan Kahee seperti beberapa menit lalu. Ehm… Walaupun tenang, rasanya sedikit aneh. ‘Seolma! Mana mungkin aku menyukai celotehan gadis itu?!’ pikir Myungsoo.

Lelaki itu mengalihkan perhatiannya ke Kahee. Gadis itu masih mengerucutkan bibirnya kesal sambil mencoret-coret buku tulisnya asal. Myungsoo bergidik. ‘Eii… Jangan bilang dia marah?!’

“Kahee-ya,” Myungsoo mencoba memanggilnya pelan. Kahee hanya berdeham malas. Myungsoo menelan ludahnya. Sepertinya Kahee benar-benar marah. “Kau marah?” tanya lelaki itu hati-hati. Kahee hanya menggeleng.

“Kalau tidak marah, kenapa kau diam?” tanya Myungsoo lagi. Kahee memandang Myungsoo heran.

“Sunbae, ku pikir kau tak suka kalau aku mengganggumu terus. Aku tidak berisik lagi, kan? Kau seharusnya senang. Kenapa malah menanyakan kenapa aku diam?”

Myungsoo meringis, “Oh, benar juga. Kau… jadi tidak berisik. Benar. Ini jadi lebih tenang.” Kahee mendengus ke arah Myungsoo sekilas, kemudian kembali asyik mencoret-coret bukunya. Sementara Myungsoo hanya bisa merutuki kebodohannya. Ia mencoba kembali focus untuk mencatat materi, tapi tetap saja pikirannya ke arah Kahee. Apa perkataannya tadi terlalu kasar?

Sementara Myungsoo masih bergelut dengan pikirannya, Kahee pun sedang bermain sendiri dengan otaknya. Pertanyaannya yang belum dijawab Myungsoo tadi membuatnya terus berpikir. Jangan-jangan apa yang dikatakan Jiyeon tadi benar?! Myungsoo menyukai salah satu peserta lomba tadi?! Andwae! Siapa itu? Aku harus tahu!

“Kahee-ya, aku—”

Myungsoo baru akan mencoba meminta maaf saat Kahee kembali mengeluarkan ocehannya. “Sunbae, tapi aku benar-benar penasaran. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.”

“Pertanyaan apa?”

Kahee berdecak. “Itu… Siapa yang menurutmu paling cantik? Apa ada yang kau sukai? Soojung? Taehee? Hyori? Yoojin? Siapa yang tercantik…? Aigoo… Aku bahkan hampir tidak bisa memilih. Mereka semua sangaaat cantik!”

Myungsoo melengos. Ia kembali mencatat materi dari papan tulis. Walaupun fokusnya belum kembali sepenuhnya. Setidaknya ia sudah yakin kalau gadis itu tidak marah, buktinya ia masih bisa mengoceh. “Pertanyaan bodoh itu lagi,” gumamnya pelan, namun masih bisa ditangkap telinga Kahee.

Gadis itu cemberut. “Ya, sunbae… Kau tinggal menjawab, kan? Apa susahnya? Siapa yang paling cantik?” tanya Kahee sambil kembali menarik-narik lengan kemeja Myungsoo. “Nuguya? Soojung, kah? Ah… Pasti Taehee, kan? Geurae… Dia memang sangat cantik…”

“Eobseo,” ujar Myungsoo kemudian.

Kahee mengedipkan matanya beberapa kali. Sepertinya pendengarannya bermasalah. Myungsoo bilang apa tadi? Tidak ada?!

“Kau bercanda, hah?! Dari sekian banyak gadis cantik, tidak ada yang kau anggap cantik?! Sunbae! Kau masih normal, kan?!” ujar gadis itu tak percaya. Tarikannya di lengan Myungsoo terlepas begitu saja.

Myungsoo melengos. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah Kahee. “Kenapa memang? Menurutku tidak ada yang cantik,” ujar Myungsoo, membuat Kahee melongo tak percaya. Lelaki itu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Dibandingkan Soojung, Taehee, Hyori, atau siapalah itu, lebih cantik gadis yang duduk di sampingku saat ini. Kau puas?”

Kahee mengerjapkan matanya beberapa kali lagi. Sepertinya pendengarannya benar-benar bermasalah. Apa Myungsoo baru saja mengatakan kalau ia lebih cantik dari semua gadis? Gadis yang duduk di sampingnya? Itu dirinya kan?! Maldo andwae…

Kahee hanya bisa tersenyum saat meyakini bahwa pendengarannya tidak salah. Wajahnya memerah. Akhirnya Myungsoo mengatakan kalau ia cantik. Ini hal yang sangat ia tunggu.

Saat Kahee masih sibuk dengan kesenangannya, Myungsoo menatapnya heran. “Wae? Kenapa wajahmu memerah?” tanyanya.

Kahee hanya tersenyum semakin lebar.

“Kau tidak berpikir yang aku maksud adalah dirimu, kan?!” ucap Myungsoo kemudian. Membuat senyum Kahee seketika memudar. ‘Maldo andwae! Jangan bilang kalau pujian tadi bukan untukku?!’

Myungsoo berdecak. “Ya… Yang duduk di sampingku bukan hanya kau!” jelas Myungsoo kemudian. Seketika Kahee menoleh ke samping kanan Myungsoo. Kalau dia yang duduk di kiri Myungsoo bukan orangnya, berarti orang yang di sebelah kanan.  Kahee hanya menghela napas saat mengetahui siapa gadis yang beruntung itu. Seohyun-eonni. Ia lupa kalau Seohyun juga duduk di sebelah Myungsoo.

Melihat wajah Kahee yang seketika kehilangan semangat, Myungsoo terkekeh. Kahee yang mendengar itu menatap lelaki di sampingnya kesal. “Geurae! Seohyun eonni memang cantik! Dia juga pintar! Geurae…! Nappeun nom!” ucap gadis itu kesal.

Kekehan Myungsoo berubah menjadi tawa tertahan. Kahee menatap Myungsoo kesal sekaligus tak percaya. Bagaimana bisa ia bersikap seperti itu padanya? Kekasihnya sendiri?!

“Ya! Kau bodoh, hah?! Apa ku bilang, kau tidak mungkin lolos seleksi kalau pikiranmu seperti ini!” ucap Myungsoo di sela tawanya, membuat Kahee seketika mendelik tak terima. “Gadis yang duduk di sampingku itu kau… Bagaimana bisa Seohyun? Dia duduk di bangku terpisah, bodoh! Jinjja, Yang Kahee! Kau benar-benar…” Myungsoo menghentikan kalimatnya begitu tawanya sudah tak terbendung lagi. Ia berusaha menahannya agar tak bersuara karena saat ini masih di kelas.

Kahee menggembungkan pipinya kesal. Satu sisi ia senang karena pujian itu memang benar untuknya. Tapi di lain sisi ia kesal. Bagaimana bisa ia sebodoh itu?! Benar, Seohyun memang duduk di samping Myungsoo. Tapi berbeda bangku dan meja. Sementara yang berbagi meja dan bangku dengan lelaki itu adalah dirinya sendiri. Kenapa ia bisa dibodohi seperti itu?! Kim Myungsoo menyebalkan!

“Jadi benar itu aku?!” tanya gadis itu memastikan. Ia tak mau senang dahulu kalau akhirnya hanya dipermainkan.

Myungsoo mengangguk. “Eoh. Kau yang tercantik, Yang Kahee. Neomu yeoppo!”

Kahee tersenyum simpul. Akhirnya Myungsoo mengakuinya! Ia bisa tenang sekarang. Ah tunggu. Ia ingat. Sepertinya sebelum ia mulai mengoceh lagi tadi, Myungsoo ingin mengatakan sesuatu. Apa itu?

“Sunbae, bukankah tadi kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Kahee kemudian.

Myungsoo mengerutkan dahinya beberapa saat. Ia menjentikkan jari begitu mengingat sesuatu. “Itu, aku minta maaf kalau perkataanku tadi melukai hatimu. Aku pikir… aku tadi terlalu kasar.”

“Perkataan yang mana?”

Myungsoo meringis. “Itu… kalau kau pasti gagal saat seleksi.”

“Eoh? Yang kau bilang aku tidak cantik, tidak pintar, dan aku yang suka berbicara dengan kasar itu?”

Myungsoo mengangguk pelan. “Mianhae.”

Kahee baru saja akan mengangguk saat ide jahil melintas di otaknya. Ia bukan tipe orang yang mudah memasukkan perkataan orang lain ke dalam hatinya. Sindiran dari Myungsoo juga sering ia dapatkan, dan tidak begitu ia perdulikan. Termasuk kalimat Myungsoo tadi juga sudah ia lupakan. Tapi kali ini sepertinya otaknya sedang ingin bermain-main. Kahee memandang Myungsoo tajam. Sepertinya sedikit balas dendam akan mengasikkan, pikirnya. Gadis itu menggeleng yakin. “Sirheo. Aku tak mau memaafkanmu. Kau kejam.”

Myungsoo tersentak. “Mwo?”

“Tarik kembali ucapanmu baru ku maafkan,” Kahee mengalihkan wajahnya agar meyakinkan acting marahnya.

“Ya! Tapi…”

“Aku tau perkataanku kasar. Aku juga sadar aku tidak begitu pintar. Tapi tidak cantik… Kau baru saja mengakui kalau aku yang tercantik. Jadi, tarik kembali ucapanmu itu. Hanya itu.”

“Ya, tapi…” Myungsoo masih saja mengelak.

“Geurae. Kalau tak mau ya sudah.”

“Arasseo!” ucap lelaki itu cepat.

Kahee tersenyum penuh kemenangan. “Marhae! Tarik kembali ucapanmu dan katakan aku cantik.”

Myungsoo menunduk. “Geurae. Aku salah. Kau cantik, Kahee-ya. Lebih cantik dari siapapun! Maafkan aku,” ucap lelaki itu pelan. Kahee  tertawa dalam hati. Ia berlagak seperti tak mendengarnya dan meminta Myungsoo mengulangnya kembali. Membuat Myungsoo seketika mendelik dan tentu saja menolah.

“Sirheo? Geurae… Akan ku adukan Yoseob oppa dan kau tidak akan bisa menemuiku–”

“Dengarkan baik-baik!” potong lelaki itu cepat.

Kahee menyeringai. Sepertinya Myungsoo benar-benar takut dengan ancaman asalnya itu. “Eoh. Pastikan lebih keras agar aku dengar!”

Myungsoo melengos. Eii… Bagaimana mungkin ia dipermainkan seperti ini? Kim Myungsoo, seharusnya kau tidak bermain-main dengan Kahee. Lihat akibatnya!

Sebersit ide muncul di pikirannya. Kalau Kahee mengerjainya, kenapa ia tak balas mengerjai gadis itu saja?! Lelaki itu terkekeh dalam hati. Tunggu saja Kahee. Kau akan mendapat balasannya.

Myungsoo menghela napas panjang sebelum ia berbicara lantang, hampir teriak. “Geurae! Kau cantik, Kahee-ya! Kau yang paling cantik! Setelah ibuku, wanita yang paling cantik yang pernah kutemui adalah kau! Kim Tae Hee, Moon Geunyoung, atau siapapun itu, tak ada yang lebih cantik darimu. Yang Kahee, saranghae!” Myungsoo terengah begitu akhirnya selesai mengatakan apa yang ingin ia katakan. Ia tersenyum licik melihat ekspresi Kahee saat ini. Kau pikir kau bisa mempermainkanku, Yang Kahee?

Kahee menatap Myungsoo tak percaya. Ia tak menyangka Myungsoo akan benar-benar mengatakannya. Bahkan dengan suara sekeras ini. Wajahnya seketika memerah. Ditambah lagi perhatian seluruh kelas yang tiba-tiba terarah ke mereka. Dan… wajah itu! Wajah yang perlahan berjalan mendekati bangkunya itu menatap ke arahnya dan Myungsoo tajam. Kahee hanya bisa menundukkan wajahnya dalam.

Myungsoo ganti memandangi Kahee heran. Apa gadis itu semalu itu sampai menundukkan kepalanya begitu dalam? Apa ia terlalu berlebihan? “Oi, Kahee-ya… Gwenchan—ha?” Kalimat Myungsoo berhenti begitu suara yang ia kenal masuk ke telinganya.

“Oh?! Jadi sekarang kau menggunakan kelasku untuk melontarkan rayuanmu, Myungsoo-ssi?!”

Myungsoo menoleh perlahan. Suara ini seperti suara… “Jung Seonsaengnim! Sejak kapan—” Myungsoo panic. Kahee masih menunduk.

“Oh? Kau bahkan tidak sadar kalau aku sudah kembali. Kau terlalu sibuk pacaran, yah?!” semprot guru pembimbingnya itu garang. Myungsoo bergidik. Jadi ini alasan Kahee menunduk?! Dasar bodoh! Kenapa aku tak menyadari kedatangannya?! Rutuk Myungsoo.

“Aniyo, seonsaengnim. Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Kahee dan aku hanya…”

“Oh? Kahee dan aku? Aa… Kau bahkan membela Kahee sekarang. Padahal ia hanya menunduk tak membantumu.”

Myungsoo menatap gurunya tak percaya.

“Geurae! Karena kalian murid andalanku, aku beri waktu special. Silakan tinggalkan kelas ini lebih awal! Agar kalian bisa menggunakannya berdua!”

“Tapi, Seonsaengnim…!”

“Tidak ada tapi-tapian. Ah iya. Bawa tas kalian, dan… keluar dari ruangan ini!”

“Aish. Algesseumnida. Joisonghamnida, seonsaengnim…”

*****

Begitu mereka keluar dari ruang kelas, tawa Kahee meledak. Gadis itu bahkan sampai harus berjongkok untuk menahan sakit di perutnya karena terlalu keras tertawa. Berkebalikan dengannya, Myungsoo hanya bisa memasang wajah kesal. Ini kali pertama dia dikeluarkan dari kelas. Dengan cara tidak sewajarnya juga!

Kekesalan Myungsoo semakin menjadi saat tawa Kahee tak kunjung berhenti, justru semakin keras. “Apa yang kau tertawakan, hah?! Neo ttaemune! Kim Myungsoo dikeluarkan dari kelas. Ini memalukan!”

Kahee mencoba menghentikan tawanya. Ia mengusap air mata yang muncul akibat terlalu keras tertawa. “Mian. Siapa juga yang menyuruhmu berteriak sekeras itu?!”

“Aku hanya…”

“Kau ingin membuatku malu, kan? Lihat sendiri kalau berurusan denganku. Kau tanggung akibatnya, haha!”

“Aish! Jinjja!” Myungsoo mengacak-acak rambutnya gusar.

Kahee terkekeh pelan melihat wajah muram Myungsoo. Kemudian ia tersenyum sambil menautkan lengannya di lengan Myungsoo, membuat langkah lelaki itu terhenti.

“Wae?” kata Myungsoo ketus.

Kahee tersenyum lagi. Sedikit berjinjit, ditatapnya Myungsoo lekat. “Bagaimanapun juga… Gomawo~! Kau sudah mempermalukan dirimu demi menyatakan isi hatimu. Aku menghargainya. Gomawo,” ucapnya tulus.

Myungsoo memalingkan wajahnya, sebisa mungkin menjauhkan matanya dari wajah Kahee. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika memandang wajah ceria Kahee yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya itu. “Eoh,” jawab Myungsoo sekenanya.

Kahee terkekeh pelan melihat reaksi Myungsoo. Ia berjinjit leih tinggi lagi agar tingginya bisa menyamai lelaki di sampingnya itu. Tanpa diduga Myungsoo sebelumnya, gadis itu mendaratkan kecupan singkat di pipi kanan Myungsoo. “Gomawoyo,… Oppa!” ucapnya pelan sebelum akhirnya melepaskan tautan lengannya di tangan Myungsoo dan mulai melangkah meninggalkan lelaki itu yang masih terdiam.

Myungsoo belum mendapatkan kesadarannya. Wajahnya memanas. Ia tak menyangkan Kahee akan melakukan hal itu. Myungsoo hanya bisa tersenyum sambil memegang pipinya yang baru saja mendapat kecupan dari Kahee tadi. “Yang Kahee, neo jinjja…”

“Sunbae, kau tidak berniat untuk tetap tinggal di situ, kan? Kau tidak mungkin membiarkan gadis tercantik ini pulang sendirian, kan?” teriak Kahee sambil tetap berjalan menjauh dari Myungsoo.

Lelaki itu memandangi punggung Kahee yang semakin menjauh. Ia terkekeh. Masa bodoh dengan Jang Seonsaengnim. Ia bisa menerima hukumannya besok. Malam ini, biarkan dia bersenang-senang dengan gadis tercantiknya. Ia hanya ingin tertawa dengan Kahee. Sesekali dikeluarkan dari kelas tak apa, kan? Kalau balasannya seperti ini.

***** END *****

Kekekeke, otte? Otte? bener gaje, kan? Terimakasih yang udah mau baca. Lebih terimakasih lagi kalau mau kasih komen, biar bisa buat masukan ^^

Sampai jumpa di KaSoo berikutnya… Annyeong!

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s