Posted in Constellation's Series

Percakapan dengan Seorang Lawan–ah, Kawan


“Aku kalau ngasih contekan itu ikhlas, tanpa pamrih. Nggak minta imbalan. Biar mereka nyontek aku, tapi aku nggak nyontek mereka.”

“Aku juga. Tapi rasanya kesel waktu tau yang contekan itu dapat nilai lebih bagus.”

“Aku nggak. Ikhlasin aja. Penting kita nggak ikut nyontek.”

“Tapi itu nyeselin. Kita rugi! Rapor mereka ntar bagus.”

“Biarin. Aku nggak ngejar nilai rapor, kok.”

“Iya. Kamu enak. Aku?”

“Nanti. Imbalannya nanti. Kamu pasti dapat imbalannya… Nanti.”

Sepotong percakapan, yang bahkan tidak sampai satu menit, tapi berhasil buat aku terdiam. Eoh. Kelihatannya tidak penting. Tapi bagi aku yang punya kemungkinan yang tinggi untuk merasa iri, dialog ini sangat berpengaruh.

Waktu itu setelah ujian tengah semester. Hari Kamis, aku ambil jam tambahan les. Aku pikir hanya aku berdua dengan temanku. Ternyata ada tambahan satu lagi. Dia. Yah. Seorang kawan lamaku –yang sekaligus ku anggap sebagai lawan– duduk di salah satu kursi tersisa, di depanku. Awalnya biasa saja, sampai percakapan itu mulai muncul.

Dia bilang sewaktu test kemarin dia nggak nyontek. Oke, aku juga sama. Katanya, walaupun dia dimintai jawaban, dia nggak balas minta jawaban. Hm. Aku juga. Tapi waktu dia bilang dia nggak kesal sama sekali kalau misalnya nanti nilainya lebih rendah dari pada mereka yang nyontek, aku jelas-jelas berbeda pikiran.

Jujur aja, aku paling kesel kalau ada teman aku yang nyontek dan… nilainya lebih tinggi. Itu-curang. Itu-bikin-kesel. Itu-tidak-adil.

Dan dia bilang dia nggak kesel. Dia rela temannya yang nyontek dapat nilai lebih baik.

Apa? Dia RELA? Demi apa?

Ah. Kalau teman-temanku yang lain nyontek dengan tujuan mengejar nilai rapot –sekilas info, aku sekarang kelas 12, dan nilai rapor semester 5 sangat berpengaruh untuk SNMPTN– kawanku yang satu ini tidak memperdulikan nilai rapornya. Jadi dia tidak begitu peduli pada nilai. Benar, setelah diingat-ingat, dia nggak tertarik dengan perguruan tinggi negeri macam yang aku dan teman-teman lain inginkan. Dia hanya ingin instansi dinas yang sesuai dengan hobinya. Menyenangkan, bisa sebebas itu.

Oke. Dia enak. Dia nggak begitu butuh nilai rapot. Tapi aku, juga temanku yang lain, butuh. Dan jadilah perbuatan curang merajalela. Nyamanlah mereka yang berhasil nyontek dengan lancar. Dan yang nggak nyontek, siap-siap aja.

Kemudian dengan cengirannya yang tanpa beban, dia bilang, Nanti. Imbalannya akan kamu dapat nanti.”

Eoh. Aku juga tahu kalau yang jujur pasti dapat balasan, begitu pula yang curang. Tapi, untuk bertahan berbuat jujur itu sulit. Balasan yang diterima kita tidak tahu kapan. Sempat beberapa kali terpikir untuk ikutan nyontek. Tapi tidak. Ibuku bilang aku nggak boleh nyontek. Kalau ibuku bilang aku boleh nyontek, baru aku bakal nyontek, kekeke.

Dia bilang kalau yang terpenting itu kita harus jujur, dan kita pasti dapat balasan yang lebih baik nanti. Biarkan saja mereka yang curang.

Seketika aku tersentak. Dia, yang notabenenya agak nakal –catat, hanya agak– bisa berkata begitu. Untuk aku yang selalu kesal sama mereka yang nyontek, itu sangat menohok.

Membiarkan mereka yang curang mendapatkan lebih bagus, dia bercanda? Mana mungkin bisa!

Ikhlasin aja. Yang penting hasilmu itu murni.

Dan lagi-lagi aku tersentak. Ikhlas? Eoh. Itu… Sulit. Jujur aja. Sangat sulit. Pasti masih ada rasa kesel tiap ingat nilaiku yang nggak setinggi mereka.

Dan kemudian aku berpikir. Benar juga. Untuk apa aku kesal? Toh semua akan dapat balasannya nanti. Buat apa aku iri? Nggak penting, sumpah.

Seharusnya aku berterima kasih pada Allah. Alhamdulillah. Sudah diberi nilai segitu, tanpa harus menyontek. Nggak jelek-jelek amat kok. Bahkan bisa disejajarkan dengan mereka yang menyontek. Bahkan punya nilai plus, karena itu murni hasil pemikiran kita. Tanpa campur tangan teman lain.

Maafkan aku, ya Allah. Aku sudah iri sama temanku. Maaf.

Dan semenjak itu, pandanganku terhadap kawan-sekaligus-lawanku itu menjadi berbeda. Kalau dulu aku anggap dia pintar tapi agak songong –oke, dia memang pintar­, juara apa aja dia sabet, yang nggak nguatin itu kalau dia udah pasang wajah songong­–, dan agak yadong –maklum laki-laki– sekarang mungkin sedikit berubah. Ingat, hanya sedikit.

Menurutku, dia masih sama pintar, seperti dulu. Walaupun dia bilang dia yang sekarang tak sepintar yang dulu, tapi tetap saja. Menurut aku, siapa saja yang pandai fisika itu pintar –mengingat aku sangat lemah di fisika– dan kemampuan fisikanya menjadi salah satu bagian yang aku iri dari dia. Selain itu, ternyata ibadahnya kuat. Walaupun dari luar terlihat dia agak yadong, tapi di rumah dia itu alim. Oke, di antara teman laki-laki yang aku kenal, aku akui, dia memang alim. Bahkan lebih daripada aku. Dan untuk songong… hm… sepertinya bukan kata yang tepat untuk menjelaskan sifatnya. Dia hanya… yah, seperti itu. Mengungkap segalanya tentang dia tanpa memikirkan perkataannya terlebih dulu. Seperti itu.

Mungkin aku harus berterima kasih padanya. Berkat perkataannya, aku jadi punya pandangan baru tentang jujur. Seharusnya aku tak sekesal ini saat berbuat jujur. Untuk apa kesal demi perbuatan yang baik?

Dan mungkin… aku menunggu les tambahan lagi dengan dia. Siapa tahu setelah sering bergaul dengan dia yang tanpa pamrih berbuat kebaikan, sifat burukku bisa berubah. Kita tunggu saja.

Yap. Sekian laporan dari salah satu ikan yang masih saja terjebak –ah tidak, lebih tepatnya semakin terjebak di Jungle Fish ini. Sampai jumpa di lain kesempatan dengan membawa umpan-umpan lain untuk ditebar. Mohon maaf apabila ada salah kata.

Annyeong~

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s