Posted in Constellation's Series

Seven or Ten


Lebih baik nilai 7 murni daripada nilai 10 tapi hasil contekan, kan?

*****

Assalammualaikum Wr. Wb.

Annyeong~

Sudah masuk liburan semester, kan? Sudah pada terima laporan hasil belajar, kan? Sama, aku juga. Gimana hasilnya? Memuaskan, kah? Aku… Alhamdulillah. Setara dengan usahaku.

Kali ini, kisah yang aku bawa nggak jauh-jauh dari tagline di atas. Eoh. Lagi-lagi tentang curang. Kalau kemarin waktu ulangan tengah semester, sekarang waktu ulangan akhir semester. Lebih parah. Lebih ekstrem. Lebih… menyebalkan!

Kalau dulu mereka yang curang hanya mencoba mencari jawaban soal tes melalui teman ataupun catatan kecil yang mereka bawa ke ruang tes, waktu UAS lebih dahsyat. Cari soal dari sekolah lain, tulis jawabannya di kertas, dan masuk ke ruangan tinggal menyalin. Simple! Me-nye-nang-kan!

Emm… Lagi-lagi! Sebenarnya ini bukan salah murid-murid. Guru sendiri bilang ini karena pembagian jadwal yang tidak terorganisir dengan baik. Sehingga ada beberapa sekolah yang sudah terlebih dulu tes, padahal dijadwalkan untuk serentak satu kabupaten. Dan karena itulah, soalnya merembes, eh, bocor. Murid-murid dengan segala cara berusaha untuk mendapatkan yang terbaik, termasuk soal itu sendiri.

Okelah. Aku masih terima kalau mereka dapat bocoran. Toh, itu namanya tetap usaha. Usaha mencari soal. Dan itu bukan urusanku. Yang aku tidak terima adalah, mereka cari soal, cari jawaban, kemudian menulis jawaban itu di kertas, lalu membawanya ke dalam kelas! Apa itu tidak keterlaluan?! Setidaknya kalau sudah tau soalnya seperti apa, mereka bisa belajar, kan? Jadi waktu mengerjakan lancar. Soal uraian pun demikian. Tinggal menghapal jawaban, dan tulis waktu di dalam ruangan. Tapi ini?! MENYALIN! Hey, what the! Terus gunanya dapat soal buat apa kalau akhirnya cuma butuh jawaban?!

Oh, aku? Oke. Jujur aja, aku nggak jauh beda. Aku nggak ikut-ikutan cari bocoran soal. Aku cuma tanya sama temanku –yang sudah tahu soal yang akan keluar– seperti apa soal uraian yang nanti akan keluar. Dan aku diberitahu. Lalu, secepat kilat, menggunakan waktu istirahat sebelum masuk ruangan, aku menghapalkan jawaban soal. Beruntung kalau malamnya sudah dihapalkan, petaka kalau soal itu dari materi yang sama sekali belum aku pelajari. Skakmat.

Apa yang aku lakukan termasuk curang? Hm… aku pikir YA. Mengetahui yang belum diketahui, walaupun tidak secara langsung, tetap saja namanya mendapat bocoran, kan? Benar. Aku memang salah. Sudah salah, suka cari kesalahan orang, lagi!  POOR ME! Tapi tetap saja! Namanya juga manusia!

Setidaknya aku mencoba menghapalkan, sedikit apapun itu. Tidak mencatat jawaban dan membawanya masuk bersama ke ruang ujian.

Hah. Mental breakdown waktu itu. Rasanya kesaaall!!! Pingin ikut-ikutan nyontek juga! Takut kalau nilaiku turun gara-gara mereka yang curang nilainya naik! Rasanya… aarrgh!!

Kemudian datang sebuah pesan singkat ke ponselku. Biasanya, kalau ada SMS aku jarang cepat baca. Bisa 1 jam, 4 jam, bahkan 10 jam baru aku baca. Jadi pertama kali berdering aku biarkan. Tapi kali itu beda. Awalnya aku malas baca. Kemudian peringatan kalau ada pesan yang belum dibaca berbunyi tepat ketika aku lewat di dekat ponselku. Mau tak mau, aku baca, deh. Seketika aku tersenyum.

Aku benar-benar bodoh! Kasus yang sama, sikap yang sama! Tak pernah bisa berubah.

Pesan itu dari temanku. Anggota Rohis. Isinya tentang kecurangan yang terjadi selama tes, yang seharusnya, sebagai umat muslim, tidak kita lakukan. Karena kita tahu Allah mengawasi kita setiap saat. Dan dia juga bilang lebih baik mendapatkan nilai 7 murni hasil pemikiran sendiri daripada nilai 10 hasil contekan. Seketika aku tersenyum. Gomawo, chingu-ya! Setelah beberapa saat lalu sebelum membaca smsmu, aku masih sangat kesal. Dan isi pesanmu itu membuatku sadar! Lagi-lagi aku hampir terperangkap jebakan setan yang sungguh menarik perhatian. Benar-benar bodoh!

Dan sekali lagi, aku memantapkan diri untuk anti-mainstream. Tetap pada pendirianku, yang sudah goyah tapi kembali dikuatkan oleh dua kawanku, untuk tidak mencontek. Apapun hasilnya, aku janji nggak akan menangis.

Lebih baik nilai 7 murni daripada nilai 10 contekan, kan?

Dan kau tau apa? AKU BENAR-BENAR DAPAT NILAI 7. Tidak enam, tidak delapan. Tapi tujuh. T-U-J-U-H. Di saat hampir seluruh temanku mendapat 8 ke atas, aku dapat 7! OH-GOOD! Rasanya ingin menangis. Tapi tidak. Aku sudah janji.

Terimakasih ya Allah. Setidaknya aku tidak remidi. Dan lagi, aku tidak sendirian. Masih ada beberapa teman yang juga dapat 7. ^^,

Aku bukan Baek Hyo An yang sampai rela bunuh diri agar kasus kecurangan di sekolahnya di proses. Aku juga bukan teman-teman Park Bo Young yang ngebulli dia gara-gara dia dapat bocoran soal. Aku cuma mau jadi Kim Soo Hyun yang hanya bisa menceritakannya lewat blog #eaaa. Siapa tahu dibaca. Dan memang tujuannya di posting agar orang bisa membaca. Mungkin aja ada yang punya pengalaman sama kayak aku.

Huuh… Nggak munafik juga. Aku bilang aku nggak begitu puas sama hasil belajarku semester ini. Gimana nggak? Hasil ini sangat berpengaruh untuk SNMPTN. Sementara teman-temanku jumlah nilainya naik sampai 2 digit -atau bahkan tiga?!- aku naik hanya beberapa poin saja. Kalau boleh dibilang, aku envy.

Tapi lagi-lagi aku ingat kata kawanku. Balasannya nanti. Ingat itu! Camkan itu! Balasannya akan kamu dapat nanti. Haah… Lagi-lagi, dengan berusaha ikhlas, aku terima. Setidaknya, masih lumayan tinggi. Lagipula keseluruhan nilai naik, hanya beberapa mapel yang turun. Emm… Aku bukan tipe orang yang suka tanya tentang jumlah nilai temanku, aku kasih tahu. Sebenarnya ini aku lakukan karena aku takut sakit hati lagi kalau tau nilai mereka lebih tinggi, wkwkwk. Keren, kan, caraku?!

Semoga saja hasil ini memberikan hasil yang terbaik. Amiin.

Okay! Sekian cerita dari salah satu ikan yang sebentar lagi menemukan jalan keluar dari hutan. Doakan, eoh? Tetap semangat untuk mencari dan menebar umpan! Sampai jumpa di laut berikutnya! Mohon maaf kalau ada salah kata. Sekian dan annyeong~!

Wassalammualaikum wr. wb.

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s