Posted in Fanfiction, Oneshoot

Comfort


kira-request-poster-comfort -ZHYAGAEM06 AT YOORa ART DESIGN

~ Kira’s Story Line ~

| Shim Changmin (DBSK) & Park Narae (OC) | romance, hurt/comfort, canon, sad | PG-15 |

poster by ZHYAGAEM06 AT YOORa ART DESIGN

*****

23rd December 2013, Dorm

Piip. Layar televisi flat itu berubah hitam sesaat setelah seorang gadis menekan tombol off di remotenya asal. Gadis itu mendesah. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa yang sedari tadi telah menjadi singgasananya.

“Kenapa tidak ada satu pun acara televisi yang pantas ditonton?” gumamnya pelan. Drama? Big NO. Terlalu klise sampai kau hapal bagaimana endingnya akan berjalan. News? Tidak-tidak. Kriminalitas merajalela, sangat bukan tipe gadis itu. Musik? Ugh. Tidak menarik.

“Membosankan,” rutuk gadis itu pelan. Ia menatap remote TV yang masih ia genggam kemudian melemparnya ke atas meja, cukup keras. Tak peduli dengan nasib remote itu yang terombang-ambing di tepi meja dan retak yang mulai muncul di salah satu sisinya. Mata cokelat gadis itu mulai menatap jam dinding di hadapannya lekat.

“Narae?”

Sudah selarut ini. Apa benar-benar tidak ada orang yang bisa kutemui? ucap gadis itu dalam hati. Haah… Jangan terlalu berharap, Narae! Schedule-nya padat! Tak ada waktu untuk kembali dan sekedar menemuimu. Fokusnya masih tersita di jarum jam yang entah sudah berapa kali berputar.

“Narae?”

Gadis itu menghela napas. Ah. Sepertinya gadis itu terlalu berharap. Ia bahkan bisa mendengar sebuah suara memanggilnya.

“Ya! Park Narae!”

Seketika gadis berambut panjang itu tersentak. Suara itu benar-benar nyata. Ia menoleh ke belakang. Seorang lelaki tengah menatapnya tajam. Dengan setelan formal yang biasa ia gunakan untuk konser, kedua tangannya  bersedekap di depan dada.

Gadis itu –Narae– berucap pelan, “Eoh, kau pulang.”

Lelaki itu melengos. “Kau melamun,” simpulnya begitu melihat tingkah Narae yang masih saja memasang pandangan kosong.

Narae menggeleng. “Ani. Aku tidak melamun. Sejak kapan kau di sana?” tanya gadis itu, mencoba mengalihkan perhatian.

“Kau bilang tidak melamun tapi kau tidak tahu aku di sini. Kau tau? Aku sudah memanggilmu berkali-kali. Tapi kau tetap saja memandangi jam itu. Apa yang sedang kau pikirkan, huh? Memikirkan aku?” ujar lelaki itu yang seketika sudah berdiri di hadapan Narae, menatap gadis itu lekat.

Narae melengos. Gadis itu mengalihkan wajahnya dari hadapan lelaki di depannya. “Terserah apa katamu, Changmin-ssi.”

Ia bisa mendengar tarikan nafas berat dari lelaki bernama Changmin itu. “Wae?” tanya lelaki itu dengan tatapan teduh. “Apa yang terjadi sampai kau tidak sempat mengganti seragam sekolahmu dan langsung datang kemari?”

Benar. Gadis itu bahkan tidak mengganti seragamnya. Tepat setelah sekolah usai, ia menghubungi lelaki itu. Memintanya untuk segera kembali ke dorm. Narae sendiri memutuskan untuk ke dorm ini. Karena ia tahu, tak ada yang bisa ia temui di rumahnya.

Narae menoleh. Ia terdiam, seakan fokusnya tertarik oleh iris yang tengah menatapnya saat ini.

“Waeyo? Gwenchanayo?” tanya lelaki itu lagi.

Narae mengangguk ragu. “Eung, eoh,” jawab gadis itu pelan. Ia mengambil salah satu bantal sofa, memeluknya, dan memainkannya asal. Changmin menatap gadis itu lekat.

“Nilaimu jelek, eoh?” tebaknya asal.

Seketika Narae tersentak. Ia mendongak tak percaya. Berkebalikan dengan gadis itu, Changmin justru terkekeh pelan. Tebakannya benar!

“Sudah ku duga. Kau terlalu banyak memikirkanku, eoh? Karena itu nilaimu jelek!”

Kedua mata gadis itu melebar. “Micheosso, hah?!” umpat Narae sambil melempar bantal di dekapannya ke arah Changmin. Tapi terlambat, lelaki itu lebih dulu menghindar. Gadis itu pun bangkit ke arah dapur, meninggalkan Changmin yang masih terkekeh.

“Gwenchana, Narae-ya. Sejelek apapun nilaimu, kau masih terbaik, kan?” teriak Changmin kemudian.

Narae mengambil segelas air dan meneguknya pelan. Gadis itu lalu menghela napas. Tanpa sadar ia mengangguk. Memang benar nilainya masih terbaik di kelasnya. Tapi tetap saja, jika dibandingkan teman-temannya yang memperoleh kenaikan nilai yang signifikan, terlebih mereka yang menggunakan cara ‘spesial’ untuk mendapatkan nilai buatan itu, Narae merasa nilainya jelek. Nilainya bahkan tak banyak berubah dari semester sebelumnya.

“Geurae. Tapi tetap saja… Seharusnya aku ––eh.”

Ucapan gadis itu terhenti begitu sepasang lengan melingkar dari belakang, mendekap kedua bahunya erat. Begitu eratnya sampai gadis itu bisa merasakan hembusan napas si pemilik tangan di helai rambutnya. Aroma maskulin yang sangat familiar pun tertangkap oleh indera penciumannya. Aroma khas Shim Changmin. Beruntung ia sudah meletakkan kembali gelasnya. Kalau tidak, bisa dipastikan gelas itu hancur berkeping-keping karena pemiliknya tidak kuat untuk sekedar menggenggamnya erat karena getaran aneh yang ia rasakan. Mau tak mau rona merah mulai menjalar di kedua pipinya.

“Ya! Sepertinya sudah sering aku berkata ini padamu. Tapi kenapa tak pernah kau dengarkan? Sebagus apapun nilaimu, kalau kau mendapatkannya dengan cara curang sama saja tak berarti. Begitu juga sebaliknya. Dan aku yakin, seorang Park Narae takkan berbuat curang, kan?”

Narae terdiam mendengar kalimat yang keluar dari mulut lelaki 26 tahun itu. Benar. Setiap kali Narae mengadu kalau nilai ujiannya tak sebaik temannya, kalimat itu yang selalu terdengar di telinganya. Namun kenapa tak pernah ia resapi sebelumnya? Bodoh!

“Geureomyeon… Jika kau datang padaku dan mengadu hal seperti ini lagi lain kali, aku takkan menenangkanmu. Sudah terlalu sering aku mengingatkanmu. Dan juga… Kau takkan mendapatkan pelukan ini lagi, ara?”

Tanpa Narae sadari, kepalanya mengangguk pelan. Ini bukan kali kedua ia bertindak bodoh seperti ini. Jadi wajar saja lelaki itu berbicara seperti ini.

“Ah! Tapi… bisa saja itu alasanmu untuk sengaja mendapatkan pelukanku, kan? Iya, kan? Mengaku saja!” celetuk Changmin kemudian.

Mata Narae melebar. Apa katanya? Alasan sengaja?! Jugeosseo, hah?! Gadis itu baru saja akan menghempaskan kedua lengan yang melingkar dari bahunya. Tetapi terlambat. Changmin bahkan mempererat dekapannya dan mulai membenamkan wajahnya di antara rambut Narae.

“A..apa yang kau lakukan?” tanya Narae pelan. Tak biasanya lelaki itu memeluknya seperti ini. Bisa ia dengar helaan napas lelaki itu di telinganya.

“Hah… Aku tidak tahu akan senyaman ini. Narae-ya, biarkan aku, eoh? Bukan kau saja yang sedang tidak apa-apa. Aku… Aish. Memalukan sekali mengatakannya. Tapi… aku juga sedang tidak baik.”

Narae terdiam. Suara lelaki itu benar-benar terdengar putus asa. Apa sebegitu beratnya?

Narae ingat. Bisa dihitung berapa kali lelaki itu bersikap seperti ini. Jika hanya ia mendapatkan masalah buruk dan… mendekati akhir tahun. Yap. Mendekati akhir tahun, frekuensi keresahannya meningkat. Eoh. Setiap Desember. Mendekati hari perayaan lahirnya Dong Bang Shin Ki. Lelaki itu lebih banyak menghela napas berat.

Gadis itu tersenyum pahit. Bodoh! Jika dibandingkan dengan masalah Changmin, tentu saja eluhannya tadi tak berarti apa-apa! Walaupun tidak merasakan seutuhnya, ia bisa mengerti sedikit perasaan kekasihnya itu. Ini tahun kelima yang Changmin jalani tanpa ketiga membernya. Setiap tahun terasa lebih berat. Setiap hari selalu bertanya-tanya apakah kehadiran mereka masih diharapkan seperti saat mereka masih berlima. Lelaki itu terlalu takut menerima kenyataan kalau fansnya tidak lagi menyukai grupnya seperti beberapa tahun lalu. Takut.

Perlahan, Narae mengangkat kedua tangannya. Menggenggam tangan Changmin yang masih melingkar di bahunya. Changmin tersentak pelan begitu merasakan kehangatan di lengannya. Ia mendongak.

“Jangan salah sangka. Hyejin eonni sedang sibuk dengan ujiannya. Joongki oppa… kau tau dia belum pulang dari militernya. Dan aku tidak punya orang lain untuk mendengarkan masalahku. Karena kau telah berbaik hati memelukku, setidaknya aku harus berterima kasih, kan?” gumam Narae pelan. Tapi cukup untuk ditangkap kedua telinga Changmin mengingat posisi mereka yang begitu dekat.

Memang benar. Tujuan Narae datang ke dorm ini karena ia ingin bertemu Changmin. Berharap lelaki itu bisa menenangkan rasa kesalnya. Karena tidak ada Hyejin yang biasa menjadi tempat curhatnya, dan oppa kepercayaannya masih berada di kamp militer, ia hanya bisa bertumpu pada Changmin. Mengenyampingkan fakta kalau lelaki itu masih terjebak dalam schedule padatnya, dan tetap memintanya pulang ke dorm. Beruntungnya, Changmin mau saja menuruti keinginan Narae.

“Neol… jarhaesseo. Jangan takut. Kau masih Shim Changmin yang dulu. Dan Cassiopeia akan selalu mendukung Dong Bang Shin Ki. Tak perlu kau khawatirkan. Kau berikan saja yang terbaik seperti sekarang. Ah. Hampir lupa! Chukkae untuk penghargaan barumu!” lanjut Narae.

Changmin tersenyum simpul. Mau tak mau ia terkekeh pelan. “Aah… Uri Narae jeongmal kyiopta, eo? Nan niga johta!” ucapnya sambil mengacak rambut Narae.

*****

Mata Changmin mendelik begitu melihat daftar nilai Narae yang disodorkan padanya. “Kau bersedih gara-gara nilai seperti ini?!” jeritnya tak percaya. Narae mengangguk pelan. Changmin berdecak. Kepalanya menggeleng sembari matanya mengamati nilai yang tertulis di hasil laporan belajar Narae yang rata-rata didominasi huruf A itu.

“Semuanya A dan hanya satu B kau tidak suka?” tanya lelaki itu lagi, memastikan.

“Satu B-plus,” ralat Narae.

Changmin mengangguk-angguk asal. “Ya, jika semuanya A dan hanya satu B—ah, B-plus, kenapa kau harus bersedih? Kau tau? Saat aku seusiamu dulu, nilaiku bahkan jauh darimu,” tuturnya seraya mengembalikan kertas itu kepemiliknya.

“Eh? Jeongmalyo? Bukankah kau pintar?” tanya Narae antusias. Seulas senyum mulai terbentuk di wajahnya. Changmin mengangguk yakin.

“Eoh! Tentu saja aku pintar! Nilaiku… sangat jauh denganmu! Aku… tidak pernah mendapatkan nilai B! Satu kali pun! Nilaiku A semua, bodoh!” katanya lalu terkekeh pelan. “Karena itu, jika Hyejin menyuruhmu belajar, lakukanlah! Jangan hanya memikirkanku!” tutupnya sambil mengacak pelan rambut Narae.

“Jangan menyentuhku!”  bentak Narae seraya menjauhkan diri dari lelaki bertubuh jangkung itu. “Cih. Menyebalkan!”

Changmin terkekeh. “Aigoo… Uri Narae jeongmal kyiopta!”

Sikkeuro!”

***** END *****

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s