Posted in Resensi, Review

Interlude – Selalu ada jeda untuk bahagia


interludeJudul Buku: Interlude – selalu ada jeda untuk bahagia

Pengarang: Windry Ramadhina

Penerbit: GagasMedia, Jakarta

Terbit: Mei, 2014

Tebal: 380 halaman

*****

Hanna,

listen.

Don’t cry, don’t cry.

The world is envy.

You’re too perfect

and she hates it.

Aku tahu kau menyembunyikan luka di senyummu yang retak. Kemarilah, aku akan menjagamu, asalkan kau mau mengulurkan tanganmu.

“Waktu tidak berputar ulang. Apa yang sudah hilang, tidak akan kembali. Dan, aku sudah hilang.” Aku ingat kata-katamu itu, masih terpatri di benakku.

Aku tidak selamanya berengsek. Bisakah kau memercayaiku, sekali lagi?

Kilat rasa tak percaya dalam matamu, membuatku tiba-tiba meragukan diriku sendiri. Tapi, sungguh, aku mencintaimu, merindukan manis bibirmu.

Apa lagi yang harus kulakukan agar kau percaya? Kenapa masih saja senyum retakmu yang kudapati?

Hanna, kau dengarkah suara itu? Hatiku baru saja patah….

*****

Aku tidak terlalu suka membaca sinopsi di cover belakang novel terbitan GagasMedia. Karena siapapun yang suka membaca novel Indonesia pasti tahu, terkadang sinopsi terbitan ini terlalu fantastis untuk menceritakan seluruh isi novel di dalamnya. Namun aku harus mengakui, kali ini GagasMedia membuat sinopsi yang tepat untuk novel bercover warna biru ini.

Interlude, by Windry Ramadhina.

It’s definitely not my favorite. But I admit that I can’t take over my eyes from every single page of this book. It’s really an addiction.

Karya kak Windry Ramadhina yang pertama kali aku baca. Awalnya hanya sering dengar namanya –jika suka novel roman Indonesia pasti sudah tahu nama ini– tapi belum sekali pun tertarik membaca novelnya. Lalu setelah sekian lama berseluncur di Goodreads, membaca review ini itu, akhirnya aku putuskan untuk ikut bergabung menjadi salah satu pembaca karyanya. Interlude aku tetapkan sebagai novel pertama yang aku baca.

Bercerita tentang Hanna, seorang gadis yang sebut saja mengalami phobia menjalin hubungan dengan pria karena suatu luka di masa lalu. Gadis itu bahkan sampai harus menemui psikolog untuk menghilangkan luka itu. Lalu ia bertemu Kai, pemuda urakan yang hobi memainkan hati para wanita. Melalui petikan gitar Kai yang terngiang indah di telinga Hanna, mereka berdua pun dipertemukan. Kai dengan segala pesonanya –tampan, urakan, pintar bermain gitar– tanpa sadar jatuh hati pada Hanna yang polos dan selalu menutup diri itu. Namun ia tak menyadari satu fakta, bahwa Hanna benar-benar menjaga jarak dengan lawan jenis. Bukan karena pura-pura, tapi karena gadis itu tak mau mengingat kembali luka yang pernah ditorehkan seseorang satu tahun yang lalu.

Hanna, setelah luka yang menghancurkan hidupnya, bersembunyi dari dunia selama setahun. Penikmat latte itu bertemu Gitta di kelas yang sama saat kuliah, yang ternyata adalah tetangganya di apartemen tempatnya indekos. Gitta sendiri adalah seorang vokalis dari band jazz indie bernama Second Day Charm, yang juga digawangi oleh Jun di bass, dan… Kai di gitar.

Kai, mahasiswa jurusan Hukum di universitas terkemuka dan selalu meraih IP sempurna di setiap semesternya. Namun tiba-tiba ia memutuskan cuti kuliah dan lebih memilih untuk menghabiskan hidupnya dengan hal-hal tidak jelas, seperti mengencani para gadis dan bermain musik hanya untuk sekedar hobi. Bergabungnya dia di grup Second Day Charm pun tidak terlalu ia anggap serius. Namun pertemuannya dengan Hanna tidak sedikit merubah hidupnya.

Hanna sendiri yang awalnya menjauhi para lelaki entah kenapa merasa nyaman dengan Kai. Terlebih lelaki itu memiliki nama yang meminjam istilah dari laut. Hanna menyukai laut. Dan tanpa ia duga sebelumnya, ia pun mulai menyukai lelaki berambut gondrong itu. Namun sekali lagi, Kai yang brengsek, dan luka yang masih membekas di diri Hanna, membuat keduanya tak semudah itu bersama.

Bercerita tentang seorang gadis yang mencoba melawan luka masa lalunya. Lalu seorang pria yang kehilangan tujuan hidup sejak keluarganya terancam hancur. Dan juga kisah personel Second Day Charm yang tak bisa dibilang lancar demi meraih kesuksesan grupnya.

Layaknya musik jazz yang disukai Kai, mau tak mau novel ini membuat aku ikut hanyut dalam kisah lembutnya. Sebenarnya biasa, cerita umum tentang bad boy dan gadis innocent. Tapi entah kenapa tangan ini tak berhenti untuk segera membalik halaman selanjutnya. Mungkin ini yang membuat karya kak Windry banyak disukai, caranya bercerita menarik dan tidak membosankan. Membuat pembaca ingin segera membaca kelanjutannya.

Ceritanya pun tak melulu tentang cinta. Kita diajarkan bagaimana cara menghadapi masalah, mengobati luka, menekan egois, dan melawan ketakutan diri sendiri.

Dan untuk ending, entah kenapa aku suka endingnya. Rasanya ada sesuatu. Setelah dari awal dibawa ke perasaan suka lalu sedih karena Kai dan Hanna tak kunjung bisa bersama, kak Windry mengakhirinya dengan manis tanpa terkesan terpaksa.

Novel ini merupakan karya keenam Kak Windry. Walaupun tidak menjadi novel favorite aku, kedepannya akan ku pastikan membaca karya penulis yang berprofesi sebagai arsitek ini. Bahasanya benar-benar mengalir lancar tanpa perlu berlebihan dan membuat bosan.

Rating: 4/5

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s