Posted in Fanfiction, Oneshoot

Wrong


jsa~ Kira’s Story Line ~

|Girls Day Yura & VIXX Ken | PG-15 | Romance, Angst, Sad | Oneshoot |

poster by KaiHwa @artfantasy1st

*****

Yura tahu ini salah.

*****

Yura menghela napas. Sekali lagi jemarinya bergerak untuk mengusap setetes air mata yang hendak keluar dari sudut matanya. Ia tak habis pikir kenapa matanya punya banyak sekali air mata.

Kemarin lusa, tengah malam, ia tak hentinya menangis sampai matanya bengkak. Kemarin malam pun dua kotak tissue ia habiskan untuk mengeringkan air matanya. Dan tadi pagi, gadis itu masih menangis di dalam kamar mandi. Ah. Jangan lupakan kejadiaan beberapa jam yang lalu, saat hairstylist sudah menata rambutnya baik-baik dan memasang makeup yang membuatnya semakin cantik, Yura justru menghancurkannya dengan tiba-tiba menangis. Membuat makeupnya luntur dan memaksa hairstylist itu mendandaninya lagi.

Yura menatap cermin di depannya. Menarik kedua sudut bibirnya, mencoba untuk tersenyum. Namun sia-sia. Wajahnya justru terlihat seperti orang menderita daripada orang yang tengah berbahagia.

Sekali lagi Yura merutuki keputusannya.

Mungkin tak seharusnya ia mengambil langkah ini. Mungkin tak seharusnya ia mengambil keputusan senekat ini. Mungkin tak seharusnya ia melakukan semua yang diingankan orang-orang seperti ini. Mungkin tak seharusnya ia berada di sini, sekarang. Mungkin tak seharusnya ia masuk terlampau jauh ke dalam masalah ini. Mungkin tak seharusnya ia bertindak sok pahlawan.

Lihatlah, sekarang siapa yang menderita? Dia sendiri! Karena keputusan yang ia ambil tanpa berpikir dulu, keputusan yang asal saja ia menyetujuinya.

Yura menghela napas. Masih ada waktu lima belas menit sebelum keputusannya benar-benar tidak bisa dirubah. Masih ada lima belas menit untuknya kabur dari jalan yang ia pilih. Hanya ada lima belas menit untuk menghilang dari semua ini, dan tentu saja menghancurkan semuanya.

“Apa yang bisa kulakukan, Ayah? Apapun akan ku lakukan jika itu bisa menyelamatkan keluarga kita.”

Lelaki paruh baya itu menunduk. Sejenak ia menarik napas. “Hanya ada satu cara,” ucapnya pelan.

Wanita empat puluh tahunan di sebelahnya tergelak. Ia menggeleng kuat. “Jangan! Kau tak boleh melakukannya, Yura! Biarkan ayah dan ibu yang mengurusi semua. Kau tidak perlu ikut campur,” ucap wanita itu panik sembari memegangi tangan putrinya erat.

Yura mengulas senyum. Ia balas menggenggam tangan ibunya. “Tidak apa, Bu. Ayah, bagaimana aku bisa menyelamatkan keluarga ini?”

“Menikahlah…”

Yura meringis begitu mengingat percakapannya dengan orangtuanya beberapa hari lalu. Bagaimana bisa ia memutuskan menerimanya begitu saja tanpa berpikir?

Gadis itu segera menggeser duduknya memunggungi pintu begitu mendengar pintu berdecit. Ia tak mau menampakkan wajah mengenaskannya kepada siapapun, kecuali hairstylistnya, yang memang mau tak mau harus mendandaninya.

“Kak, lima belas menit lagi. Bisa, kan?”

Suara itu! Suara seseorang yang membuat dirinya diambang ketidakpastian. Antara bertahan dan melarikan diri dari kenyataan.

Yura bisa mendengar hairstylistnya –wanita yang lebih tua beberapa tahun darinya itu mendesah pelan. Pergerakan yang baru saja Yura lakukan tadi membuat posisinya sulit untuk mendandani Yura. Wanita ikut bergeser, membuatnya kembali berhadapan dengan Yura. Kemudian ia menggangguk.

“Tenang saja. Yura sudah cantik dari sananya. Tak sulit untuk membuatnya lebih cantik,” ucap hairstylist itu sambil mulai kembali menyapukan bedak ke wajah Yura yang sempat luntur karena air mata gadis itu.

Yura hanya bisa menggigit bibir bawahnya. “Maafkan aku,” bisiknya pelan. Sungguh, ia tak bermaksud memperberat pekerjaan wanita di depannya itu. Tapi air mata sialannya tiba-tiba jatuh begitu saja bahkan setelah ia sekuat tenaga menahannya.

Wanita itu hanya tersenyum. “Aku mengerti perasaanmu. Tapi percayalah, adikku bukan orang jahat. Walaupun ia tahu yang sebenarnya, ia takkan meninggalkanmu begitu saja.”

Yura meringis. Memang. Lelaki itu bukan orang jahat. Justru ia yang jahat! Memanfaatkan lelaki itu untuk menyelamatkan keluarganya. Tapi walaupun begitu, Yura berpikir ini adalah keputusan yang salah. Seperti kata wanita itu, lelaki itu bukan orang jahat!

Maka dengan seluruh kekuatannya yang tersisa, Yura mengumpulkan keberaniannya. Ia mendongak, menatap lelaki itu dari pantulan cermin. Gadis itu memanggilnya pelan.

“Ken.”

Mengetahui namanya dipanggil tapi tak diikuti tolehan wajah yang menatap padanya, lelaki bernama Ken itu ikut menatap cermin, menatap pantulan gadis yang tadi memanggilnya.

“Ya?”

Sebuah senyum tampak di wajah lelaki yang tengah mengenakan tuxedo berwarna senada dengan gaun Yura itu.

Yura menelan ludahnya. Tidak. Ia tak bisa mengatakannya. Melihat senyuman tulus dari lelaki di depannya itu, Yura hanya bisa terdiam. Menelan kembali perkataan yang sedari tadi ia coba ungkapkan. Gadis itu mengulas senyum kecil kemudian menggeleng pelan.

Aku tak bisa mengatakannya.

Lelaki itu mengernyitkan dahinya bingung. Namun tak lama ia mengedikkan bahunya sembari melempar senyum ke Yura sekali lagi. Mungkin Yura ingin sendiri, batinnya. Ken pun melangkah keluar meninggalkan Yura yang masih terduduk di tempatnya. Lelaki itu bermaksud menutup pintu ruangan ini saat Yura kembali memanggil namanya, membuat gerakan tangannya tertahan.

“Ken!”

Dalam hati gadis itu merutuki dirinya sendiri. Dari mana datangnya keberanian untuk memanggil nama itu?! Gadis itu bahkan memutar kembali kursinya, menjadi menghadap pintu. Membuat perempuan yang tengah memoleskan bedak di wajahnya tersentak akan gerakannya yang tiba-tiba. Kakak perempuan Ken itu hanya bisa menghela napas. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan ruang itu dari pintu samping, meninggalkan kedua orang itu berdua saja.

“Ada apa?” Ken melongokkan kepalanya ke dalam ruangan. Tubuhnya sudah di luar, sehingga lehernya terlihat seperti terjepit pintu. Lelaki itu kembali tersenyum, kali ini menampakkan sederet gigi rapinya.

Yura menelan ludah lagi. Seketika ia menunduk. Kenapa tiba-tiba keberaniannya hilang lagi?! Tidak. Tidak mungkin aku bisa. Melihat senyum itu, aku yakin takkan bisa mengatakannya. Ken… apa yang harus aku lakukan?

Maka setelah beberapa detik terdiam, gadis itu menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Yura mulai menegakkan kembali wajahnya dan… kedua sudut bibirnya ia tarik membentuk seulas senyuman.

“Ken… Jangan buat aku menangis, ya?” ujar Yura pelan, namun masih cukup bisa didengar oleh Ken.

Yura bisa melihat lelaki yang berdiri di ujung pintu itu tersentak. Namun tak lama, lelaki itu kembali mengulas senyumannya, membuatnya terlihat semakin tampan. Kaki panjangnya kembali melangkah mendekati Yura. Sedetik kemudian Ken berjongkok, menjadikan satu lututnya sebagai tumpuan. Perlahan tangannya bergerak menyentuh wajah Yura, menghapus sebulir air mata yang jauh dari kedua mata gadis itu.

Yura menahan napas. Ah. Air mata sial itu jatuh lagi ternyata.

Setelah meyakinkan air mata Yura tak ada lagi, Ken menatap gadis itu lekat. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk seulas senyuman lagi. Jemari itu kembali membelai lembut pipi Yura. Kemudian ia mengangguk. “Tenang saja, Yura. Aku… takkan membuat air mata itu jatuh lagi.”

Mau tak mau Yura balas tersenyum. Selesai sudah. Ia tak bisa kabur lagi. Memang salah jika ia menuruti kemauan ayahnya untuk menikahi Ken agar keluarga mereka selamat. Tapi gadis itu tak bisa mengelak. Separuh hatinya menolak untuk memanfaatkan lelaki itu, namun separuh hatinya yang lain menginginkan Ken. Ia ingin Ken berada di sisinya, bahkan jika cara menyedihkan ini yang harus ditempuhnya. Karena sekarang hanya… Ken lah yang bisa menjadi sandarannya.

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s