Posted in Fanfiction, Oneshoot

Mosquito


MOSQUITO~ Kira’s Story Line ~

| Girl’s Day Yura & VIXX Ken | PG-15 | Romance, Fluff | Oneshoot |

*****

Don’t you feel pity for mosquito?

*****

Ken mendengus pelan. Sudah hampir satu jam ia duduk di taman yang penuh nyamuk ini. Sesekali ia menggaruk lengannya yang gatal akibat gigitan serangga bertipe mulut penusuk dan penghisap itu. Lelaki itu tak habis pikir kenapa ada orang yang mau bermain, ah tidak, sekedar duduk saja di taman ini. Kalau itu dirinya, ia pasti tidak akan mau! Lalu kenapa dia di sini sekarang? Yah, semua itu karena gadis itu!

Gadis itu. Yura. Kekasihnya.

Ken pikir Yura akan mengajaknya kencan di taman ini. Tapi nyatanya tidak seindah yang ia bayangkan. Gadis itu hanya memintanya menemaninya mengerjakan tugas di sini. Udaranya masih bagus, katanya. Cocok untuk menyegarkan pikiran demi mendapat inspirasi untuk tugas mengarangnya. Dan sejak satu jam yang lalu, gadis itu masih sibuk dengan laptop di hadapannya, mengabaikan Ken di sebelahnya yang masih saja bergulat dengan para nyamuk. Ken tak habis pikir kenapa Yura bisa dengan tenangnya mengerjakan tugasnya tanpa menghiraukan keberadaan nyamuk pengganggu itu. Lihat, gadis itu bahkan bisa tersenyum dan terkikik pelan di hadapan laptopnya!

Ken berdecak. Seharusnya ia menuruti kata pedagang asongan di depan taman tadi untuk memakai lotion nyamuk. Lihat sekarang akibatnya, bukannya menghabiskan waktu berdua saja dengan Yura, lelaki itu justru sibuk melayangkan tepukkannya ke sana kemari demi membunuh nyamuk-nyamuk yang bertebaran itu. Oh, walaupun sebenarnya bukan salah nyamuk sepenuhnya jika ia tak bisa berduaan dengan Yura. Gadis itu sendiri saja sedari tadi mengabaikannya!

Decakan kesal keluar dari mulut Ken. Mungkin ia juga harus mengabaikan Yura dan mulai memperhatikan lengannya yang semakin gatal. Ia kembali sibuk dengan nyamuk-nyamuk di sekitarnya. Kali ini tepukan Ken banyak yang berhasil. Satu per satu para nyamuk itu mulai berjatuhan. Namun tak urung tepukan keras itu membuat telapak tangannya memerah.

“Kena kau! Mati kau!” ucap Ken puas setiap ia berhasil membunuh satu ekor nyamuk.

Yura yang mendengar kegaduhan di sebelahnya mau tak mau menoleh. Melihat kekasihnya masih bertarung dengan nyamuk-nyamuk itu Yura menghela napas. Yah, walaupun sedari tadi ia tampak seperti tak memperhatikan Ken sama sekali, sebenarnya ia tahu kalau kekasihnya itu semenjak datang dan mendarat di bangku taman ini sudah mengobarkan bendera perang pada serangga tak berdaya itu.

Don’t you feel pity for mosquito?” tanya gadis itu.

Ken menoleh sekilas. “Hah? Kau bilang apa?” tanya Ken sembari kembali asyik membalas dendam pada nyamuk-nyamuk itu.

“Tidakkah kau kasian pada nyamuk-nyamuk itu?” Yura mengulangi pertanyaannya lagi. Kali ini dengan bahasa yang mudah dipahami Ken. Ia tahu kekasihnya itu tak pandai Bahasa Inggris.

“Kenapa kasihan?” tanya Ken.

“Dengan mudahnya mereka mati hanya dalam satu tepukan,” jawab gadis itu pelan. Seakan ikut merasakan kesedihan para nyamuk yang kehilangan nyawanya akibat telapak tangan Ken. “Setelah berhasil menghisap darahmu, mereka mati,” lanjutnya pelan.

Ken menghentikan gerakkannya. Ia menatap Yura, aneh. Apa katanya tadi? Kasihan pada nyamuk yang mati? Heol. Untuk apa?!

Lelaki itu mendengus. “Lalu bagaimana denganku?”

“Kau?”

“Kau tidak kasihan padaku?” Ken balas bertanya.

Yura mengerutkan dahinya, tak mengerti. “Memangnya kau kenapa?”

Ken berdecak kesal. “Karena nyamuk-nyamuk itu seluruh badanku gatal! Karena kau mengabaikanku, aku harus berurusan dengan nyamuk-nyamuk itu! Coba saja kalau kau mengajakku bicara, mungkin aku bisa membiarkan nyamuk-nyamuk itu berkeliaran dan tidak membunuhnya. Lihat, tanganku sampai merah karena mereka! Dan tidak tahukah kau? Mungkin jika aku menunggumu setengah jam lagi di sini, aku bisa mati gatal!” kalimat panjangnya yang berapi-api itu terhenti. Ken terengah. Lelaki itu menarik napas panjang sebelum akhirnya kembali bersuara.

“Ah, tidak-tidak. Tanpa nyamuk itu… aku pun bisa cepat mati.” Lelaki itu berdeham pelan. “Ehm… Tidak seperti nyamuk itu… Bahkan tak perlu sebuah tepukan pun aku bisa mati. Karenamu!” Ken menunjuk Yura dengan tatapan tajamnya. Gadis itu tersentak.

“Ke… kenapa aku?” cicitnya pelan.

“Berada di dekatmu terus aku benar-benar bisa mati. Apa kau tahu? Jantungku berdetak lebih kencang sedari tadi. Ah, ini bahkan terjadi tiap kau berada di dekatku. Tapi apa yang kau lakukan padaku? Kau mengabaikanku dan justru tersenyum sendiri dengan laptopmu! Membuatku kesal saja! Memangnya kekasihmu itu laptop? Heol. Aku bahkan yakin jantung laptop itu tak berdetak kencang sepertiku saat kau menyentuhnya! Cish. Apa-apaan dia? Kenapa nyamuk-nyamuk itu tak menggigit laptopmu saja?! Menyebalkan!”

Yura terdiam sesaat. Mencoba mencerna ucapan Ken mungkin? Matanya menatap wajah Ken lekat. Berkebalikan, lelaki itu justru mencoba menjauhi tatapan mata Yura setelah mengutarakan pikiran yang sedari tadi ingin ia ungkapkan. Gadis itu menarik napas perlahan sebelum akhirnya memanggil nama kekasihnya itu pelan.

“Ken.”

“Apa?” balas Ken ketus.

“Maaf.”

Ken mendengus. “Yah. Sudah seharusnya kau meminta maaf. Kau mengacuhkanku dan— awwh! Apa yang kau lakukan, hah?!” pekiknya keras.

Ken memegangi pipinya yang kesakitan. Gadis di sampingnya itu dengan tiba-tiba, tanpa ia duga sebelumnya, menamparnya keras. Membuat Ken yakin kalau pipinya sekarang berubah warna menjadi merah.

Yura meringis. “Maaf. Tapi… Itu… Tadi ada nyamuk di pipimu. Jadi… aku membunuhnya.”

Lelaki itu sukses melongo. Menatap Yura tak percaya, lelaki itu berkata, “Yura, bukankah kau bilang kasihan pada nyamuk. Lalu kenapa barusan kau membunuhnya?”

“Eung… Hanya saja…” Sejenak Yura ragu untuk melanjutkan ucapannya. Gadis itu hanya terdiam.

Ken mendelik. “Jangan bilang kau hanya ingin menamparku!” tanyanya menyelidik. Dan reaksi gadis itu benar-benar membuatnya tak berkutik. Yura menunduk dan perlahan mengangguk singkat.

“Heh?! Apa salahku? Kau tidak tau ini sakit?!” pekik lelaki itu tak percaya. Ia tak habis pikir kenapa Yura tiba-tiba melakukan itu. Apa salahnya hingga Yura tega menamparnya?!

Gadis itu meringis. “Habis kau bicara aneh sih. Kenapa aku bisa membuatmu mati? Memangnya aku pembunuh? Aku kan hanya mengerjakan tugasku. Lagipula kalau nyamuk itu lebih memilihmu daripada laptopku, itu bukan tanggung jawabku! Salahmu sendiri terlalu manis!”

“Oke, oke, itu memang salah––eh? Kau bilang apa? Aku manis?”

Yura merutuki mulut liarnya. Kenapa ia bisa berkata seperti itu?! Lihat sekarang akibatnya! Lelaki di sampingnya itu sedang tersenyum lebar sembari tangannya menarik-narik lengan Yura. Seperti anak kecil saja!

Yura melengos. “Yah. Terserahlah. Lagipula bukan kau sendiri yang hampir mati!” ucapnya pelan. “Ah. Sudahlah! Ayo pulang, Ken. Kau tak mau digigit nyamuk lagi, kan?” Gadis itu segera bangkit untuk membereskan laptop dan barang-barang lain yang tadi ia bawa.

Dengan dahi mengernyit, Ken turut bangkit dan membantu kekasihnya itu.“Lalu bagaimana dengan tugasmu? Sudah selesai? Aku tak apa jika kau belum selesai. Akan ku temani. Sungguh,” ucapnya cepat. Merasa bersalah karena rengekannya Yura memilih untuk pulang. Namun gadis itu tetap bersikeras. Dan Ken sekali lagi hanya bisa menurutinya.

“Jangan pikirkan tugasku. Ayo pulang saja!”

*****

Malam harinya, di kamar Yura…

“Kenapa aku mengajaknya?! Yura bodoh! Lihat, apa yang kau dapatkan?!”

Yura menatap layar laptopnya kesal. Software untuk menulis itu sedari tadi hanya menampakkan layar putih dengan segaris hitam kecil yang terus berkedip minta diisi. Yah, hasil karyanya sedari tadi adalah… selembar halaman kosong.

Sebenarnya semenjak di taman tadi, otaknya tak bisa berpikir dengan jernih. Gerakan jemarinya di atas keyboard tadi juga hanya manipulasi. Kenyataannya? Hah! Jangankan untuk mengetik, digerakkan untuk menghalau nyamuk yang mengganggunya pun ia tak mampu. Ia bahkan tak bisa menggerakkan tangannya untuk mengendalikan kerja jantungnya yang entah kenapa berdetak lebih kencang dari biasanya.

“Hah! Kau bahkan menamparnya! Ada apa denganmu?!”

Pikirannya kembali melayang ke beberapa jam lalu, saat Ken dengan sibuknya mencoba membunuh nyamuk-nyamuk yang mengganggunya. Lelaki itu mengerucutkan bibirnya kesal yang entah kenapa di mata Yura semua itu terlihat menggemaskan. Dan… sudah lama ia tak melihat ekspresi menggelikan seperti itu dari Ken. Ekspresi yang sangat ia sukai. Ekspresi yang membuatnya lupa kendali, hingga ia ingin membuat Ken berhenti menunjukkannya. Karena sejujurnya, jika hal itu berlangsung lebih lama lagi, Yura yakin dia bisa pingsan saat itu juga karena terlalu senang.

Mata gadis itu kemudian menatap tajam sesuatu yang baru saja mendarat di kakinya. Seringaian muncul dari wajah cantiknya.

“Aish! Nyamuk menyebalkan! Beraninya kau menyentuh Ken! Aku bahkan tidak pernah!” ucapnya kesal. “Hah! Kau ingin mati, hah?! Beraninya kau mencium Ken dengan mulut berdurimu itu! Menyebalkan! Mati kau!”

Dan sesuatu yang terdeteksi sebagai seekor nyamuk itu pun jatuh tak berdaya di atas lantai. Sayang sekali, nyawanya harus menghilang di tangan seorang gadis yang beberapa saat lalu mengaku kasihan pada salah satu spesies serangga itu. Tapi mulai detik ini, semuanya berubah. Gadis itu bahkan lebih kejam dari Ken sekali pun.

Setelah menepuk mati nyamuk yang berada di lengannya, Yura mengambil semprotan pembasmi serangga di sudut kamarnya dan menyemprotkannya ke seluruh ruang. Memastikan tak ada ruang yang terlewat yang bisa dihuni nyamuk-nyamuk itu. Gadis itu pun tersenyum puas.

“Kasihan, heh? Mungkin aku sudah gila tadi!”

***** END *****

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s