Posted in Nothing

Regret


Assalammualaikum wr. wb.

Annyeong!

Gimana rasanya kalau orang yang selama ini kamu takutkan karena ‘level’nya terlalu tinggi dibandingkan kamu ternyata melakukan hal yang kamu pikir cuma akan dilakuin sama anak SD, paling parah SMP deh, kalau SMA pernah juga jarang. Yang jelas anak kuliah, MAHASISWA, dan itu DIA, yang notabennya kamu percaya nggak bakal melakukan itu ternyata melakukannya.

Jadi aku punya teman. Tiap kuliah pasti, pasti, pasti, tanya sama dosen. Rajin lah sudah jelas. Namanya muncul di daftar anak remedi pun hal yang nggak kalah langka sama bunga Rafflesia arnoldi. Duduknya selalu baris depan. Kalau dia di baris dua paling karena teman-temanku yang lain pada baru kesurupan setan yang pengen duduk depan. Intinya dia rajin, selalu fokus perhatikan penjelasan dosen, dan berbeda sama anak cowok lainnya –ya, temanku ini cowok– yang sukanya duduk di belakang dan berisik nggak jelas. Yang jelas dia itu beda, menakutkan kalau menurutku.

Sampai aku nggak berani duduk sebelah dia.

Beneran. Aku nggak bohong. Tiap aku tau ada tas dia di kursi itu, aku nggak bakal mau duduk di sebelahnya, walaupun kosong. Karena sesungguhnya, aku lebih memilih duduk di barisan paling belakang bersama para penyamun dibandingkan harus duduk bersebelahan sama dia. Karena aku takut. Ya. Aku takut.

Dulu pernah, satu kali, aku duduk di sebelahnya. Dan aku…. Keliatan ‘tolol’ sekali.

Aku ini ada darah somnolent. Suka ngantuk. Dimana pun aku berada aku pasti ngantuk. Nggak peduli itu dosen ngajarinnya asyik, sampai dosen yang memang membosankan sekali cara mengajarnya, kalau rasa ngantuk itu sudah datang, aku pasti tepar dengan sendirinya. Kalau di saat kuliah kamu tidak menemukan aku dalam keadaan tidur itu waw sekali. Karena itu jarang sekali sekali. Bahkan hampir tidak pernah.

Dan itu jelas berbeda dengan temanku yang tadi.

DIA NGGAK BAKALAN TIDUR WAKTU KULIAH.

Berbeda sekali dengan aku yang SELALU tidur waktu kuliah.

Well, kenyataan itu sudah cukup membuat aku takut duduk di sebelah dia. Karena nggak lucu kan ya, yang satu sibuk menyelami alam mimpi yang satu sebelahnya sibuk memperhatikan penjelasan dosen. Aku nggak mau keliatan kayak gitu. Makanya aku nggak mau duduk sebelah dia. Sebisa mungkin aku menjauh duduk darinya. Karena aku yakin, nanti entah menit ke berapa, aku pasti tidur.

Tapi kemudian hari itu tiba.

Waktu itu post test. Dua puluh menit untuk dua puluh soal. Detik terakhir, aku masih ragu sama jawabanku. Tapi sebisa mungkin fokus sama kertas di hadapanku dan akhirnya menjatuhkan pilihan ke jawaban yang semoga saja tepat.

Tet.

Bel tanda post tes selesai berbunyi. Aku sudah pasrah sama jawabanku dan sambil menunggu ketuaku mengumpulkan lembar jawab, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Dan saat itulah aku kecewa.

Temanku itu, yang aku takut duduk di sebelahnya, berbisik ke teman di sebelahnya. Bertanya jawaban. Dan dijawab temannya. Lalu dia langsung nulis di lembar jawabnya.

Oh, hell, yeah, seketika mataku membelo tidak percaya. Aku kecewa.

Pandangan kami bertemu, seakan masih nggak percaya dengan apa yang aku lihat barusan, aku langsung mengalihkan pandangan. Biar saja dianggap sombong. Karena memang aku kecewa. Benar-benar kecewa.

Orang yang aku takuti karena dia terlalu rajin, ternyata bertanya jawaban soal ujian pada temannya. Aku pikir orang seperti dia nggak bakal tanya saat ujian. Aku pikir hanya anak-anak nakal saja yang tidak mengerjakan ujian dengan kemampuannya sendiri. Aku pikir orang rajin seperti dia selalu mengerjakan soal dengan percaya diri tanpa perlu bertanya pada orang lain.

Tapi bayanganku salah.

Ternyata tak selamanya anak yang rajin menjunjung tinggi kejujuran. Ternyata bukan hanya anak yang duduk di barisan belakang yang sukanya bertanya sana-sini. Ternyata dia juga. Ternyata dia tidak pantas itu untuk aku sampai takut duduk di sebelahnya.

Dan aku kecewa.

Aku nggak tau kenapa aku sekecewa ini. Padahal hal itu sudah biasa terjadi sama anak lain. Mungkin karena ini tokoh utamanya itu si orang yang aku takutin kali ya, makanya aku jadi gini. Terlalu tinggi ekspektasiku, sampai akhirnya aku sendiri yang dikecewakan.

Yah. Manusia memang nggak ada yang sempurna. Termasuk dia. Aku juga. Kita semua sama, hamba Allah yang masih banyak kurang dan dosa. Jadi nggak heran kalau masih melakukan hal yang tidak baik seperti itu. Semoga saja Allah selalu membimbing kita ke jalan yang benar. Amiin.

Dan untuk kamu yang aku takut duduk bersebelahan, tidak tahu kah kamu seberapa takutnya aku bahkan hanya untuk duduk di sebelahmu? Kenapa kamu melakukan hal itu? Aku kecewa.

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s