Posted in Resensi

I For You – Orizuka


13541019

Judul Buku: I For You – cinta yang selalu menjagaku

Pengarang: Orizuka

Penerbit: GagasMedia, Jakarta

Terbit: Maret, 2012

Tebal: 384 halaman

*****

Suatu hari dalam hidupku, kau dan aku bertemu. Masih jelas di ingatanku sosokmu yang memukauku. Lidahku jadi kelu, mulutku terkatup rapat karena malu. Setiap malam, bayangmu menari-nari dalam benakku.

Ada sejuta alasan mengapa aku begitu memujamu. Kau menyinari relung gelap hatiku. Kau satu-satunya orang yang ingin kurengkuh. Kau yang bertanggung jawab atas segala rindu. Kau adalah yang teristimewa bagiku.

Tanda-tandanya sudah jelas: aku menyukaimu. Tetapi, bagaimana caranya untuk mendekatimu? Kau begitu jauh, sulit kuraih dengan jari-jemariku.

Dan semakin lama, aku mulai menyadari satu hal. Bahwa kau dan aku mungkin ditakdirkan tak bisa bersatu….

*****

Setelah sekian lama tak membaca karya Orizuka, akhirnya aku berhasil menamatkan satu lagi novelnya. I For You – cinta yang selalu menjagaku.

Setelah terakhir membaca Infinetely Yours, yang jujur saja aku sudah lupa ceritanya tentang apa, I For You menjadi novel kedua karya Orizuka yang aku baca. Sejak dulu tertarik ingin membaca novel ini karena covernya (yah, walaupun katanya ‘dont judge a book by its cover’, tetap saja cover yang pertama kali dilihat kalau ingin baca buku, hehe). Ada bintang-bintangnya gitu *yang ternyata ada hubungannya sama cerita*. Akhirnya baru bisa membacanya tahun ini.

Bercerita tentang Princessa Setiawan –oke, dari namanya sudah terlihat kalau tokoh ini laksana putri– seorang gadis kaya, manja, yang mempunyai ke-special-an tersendiri. Dunianya selama 17 tahun hanya dikelilingi homeschooling, ayahnya, dan Benjamin –putra kenalan ayahnya yang juga kaya raya. Sejak kecil mereka selalu bersama, bahkan Benji pun telah membuat janji pada ayah Cessa untuk selalu di samping gadis itu, menjaganya.

Cessa yang terbiasa dilindungi oleh Benji dan ayahnya hidup sebagai gadis manja yang suka bicara apa adanya, ceplas-ceplos, tidak terlalu memikirkan perkataan orang lain, tidak juga memikirkan perasaan orang lain. Sebut saja ia polos. Tapi tak jarang kepolosannya itu membuat Cessa –tanpa ia sadari– dianggap sombong oleh orang yang mendengarnya.

Selain karena janji yang Benji buat, sebenarnya, karena sebuah ikatan yang tanpa bisa ditolak, Benji dan Cessa ditakdirkan untuk selalu bersama. Layaknya seorang princess yang dilindungi pangeran, mereka tak terpisahkan. Tak salah banyak orang yang beranggapan mereka adalah pasangan sempurna.

Dunia Cessa dan Benji berubah semenjak keinginan ekstrem Cessa untuk sekolah di sekolah umum. Walaupun Benji awalnya tidak setuju dengan keinginan Cessa, akhirnya mereka pun masuk ke sekolah umum yang lumayan elit. Satu tahun, dua tahun, mereka berdua selalu sekelas. Selalu satu kelompok. Selalu bersama. Namun di kelas tiga, berawal dari tempat duduk yang diatur –membuat Cessa dan Benji harus duduk berjauhan– lalu keputusan guru untuk memisahkan Cessa dan Benji dalam kelompok praktikum, memulai semuanya.

Adalah Surya, siswa yang duduk di bangku depan Cessa. Ritualnya adalah membaca buku tebal bahkan sebelum bel masuk berbunyi. Lelaki itu mengusik perhatian Cessa karena tampilannya yang ‘kumal’. Cessa tak menyangka seorang miskin bisa bersekolah di sekolah elit juga. Dan karena kebenciannya kepada orang miskin, Cessa tak begitu menghiraukan Surya bahkan saat lelaki itu yang akhirnya terpilih menjadi pasangannya dalam kelompok praktikum.

Begitu juga Surya. Sikap manja dan perkataan Cessa yang cenderung seenaknya sendiri membuatnya tidak menyukai gadis itu. Terlebih Cessa yang tidak terlalu memperhatikan hasil pelajaran dan tidak membantu dalam praktikum bersama, membuat Surya yang gila-gilaan belajar itu menjadi semakin tidak menyukai Cessa.

Namun karena tindakan spontannya saat menyelamatkan Cessa dari terjangan bola, Cessa kini justru mulai tertarik padanya. Yang mau tak mau membuat Surya kewalahan.

Gadis itu selalu mengikutinya ke mana pun, bahkan sampai ke perpustakaan yang dalam mimpi pun tak pernah Cessa berkhayal akan menginjakkan kakinya di sana. Bahkan sampai lepas dari penjagaan Benji yang selama ini selalu ada di belakangnya.

Bagaimana bisa Surya menolak pesona seorang gadis yang untuk pertama kalinya berhasil menggeser posisi buku pelajaran dari prioritas pertamanya?

Namun keberadaan Benji yang selalu di sekitar Cessa membuat Surya tak berdaya. Lelaki itu merasa tak ada arti jika dalam keadaan sulit pun selalu Benji yang dicari Cessa, bukan dirinya. Bahkan saat ia ada di samping Cessa.

Cessa dan Benji selalu bersama. Benji selalu ada untuk Cessa. Cessa tak bisa hidup tanpa Benji. Dan semua fakta lain tentang Cessa dan Benji, pasangan sempurna, membuat Surya ragu akan keputusannya menerima Cessa sebagai kekasih. Di satu sisi Cessa selalu memintanya percaya bahwa ia dan Benji hanya berteman, namun di sisi lain gadis itu tak mau memberikan alasan tentang keberadaan Benji yang harus selalu ada di sisinya.

Hingga akhirnya rahasia yang berusaha disimpan Cessa dan Benji rapat-rapat perlahan terkuak. Menyisakan fakta menyakitkan bagi Surya yang akhirnya menyadari bahwa Cessa memang benar-benar membutuhkan Benji, bahwa Cessa dan Benji… benar-benar ditakdirkan untuk satu sama lain.

Berlatar belakang kisah anak SMA menjadi penyemangatku membaca novel ini. Maklum, masih suka baca genre school-life. Ditambah ada tokoh Surya –yang diceritakan sebagai sosok siswa pintar nan genius penerima beasiswa– membuatku semakin ingin membacanya. Entah karena tiap membaca novel ini dan bertemu tokoh Surya yang terbayang dibenakku adalah teman SMAku (yang kebetulan punya nama yang sama dan kebetulan genius juga) atau murni karena melihat interaksi Surya dan Cessa yang manis dan menggemaskan (?).

Membayangkan gimana jadinya ceplas-ceplos-polosnya Cessa bisa dipertemukan dengan Surya yang selalu memperhatikan pelajaran nomor satu dibandingkan apapun. Cessa yang awalnya setiap istirahat hanya bermain iPad dan menggambar sketsa, kini mati-matian mengejar Surya si gila buku bahkan sampai ke perpustakaan, sampai ke toko buku loakan, sampai ke rumah kontrakan Surya yang jauh dari levelnya.

Sebenarnya alur cintanya bisa ditebak. Yah, tapi entah kenapa, mungkin karena interaksi Cessa dan Surya yang menggemaskan sekali ––menurutku, membuatku tidak sabar membaca kelanjutannya.

Dan tau apa yang membuatku suka sama novel ini? Trivia. Fakta umum tapi unik yang diceritakan Surya pada Cessa secara tak langsung menambah pengetahuanku juga. Apalagi yang tentang bintang.

“Kenapa kau suka disebut bintang yang paling terang? Kau tahu, bintang yang paling terang itu bintang yang paling cepat mati.”

Terus juga ada Cassiopeia sebagai salah satu rasi bintang yang nangkring di langit kamarnya Cessa.  Juga kutipan lirik lagu di tiap bab. Terima kasih karena sudah mencantumkan nama TVXQ di sana hehehe. Why did i fall in love to you? Oh, writer-nim! Aku juga nggak tau kenapa aku suka sama lima oppa yang sekarang beranjak jadi ajussi nan kece itu. Oke, maafkan fangirlingku yang keluar tak pada waktunya. Tapi memang itu adanya haha.

Dan yang paling buat novel ini teringat di otakku khususnya adalah… idenya.

Pernah nggak sih kamu punya ide yang kamu pikir itu akan jadi ide paling waw, paling original, paling masuk akal yang bisa kamu buat cerita tanpa sebelumnya ada orang yang memikirkannya? Aku sudah punya ide itu sampai aku membaca novel ini dan… Oke. Aku kalah. Skakmat. Ternyata ideku tak ada apa-apanya dibanding ini.

Apa ini? VWD? (aku pakai singkatan biar tidak spoiler). Aku kira hemofiliaku sudah cukup. Ternyata muncul si VWD ini. HAH. Menyebalkan.

Baru kali ini aku bangga jadi mahasiswa kedokteran saat baca novel. Karena baru ini ada sebuah kasus dalam novel yang aku juga bisa menebak-nebak. Yah, walaupun itu salah sih haha. Tapi tetap saja menyenangkan wakakaka. Oke maafkan, abaikan.

Kembali ke novel.

Yang tidak aku suka dari novel ini? Kesannya novel ini terlalu sempit. Hanya berkisar di tokoh itu-itu saja. Surya-Cessa-Benji-Bulan kembali ke Surya lagi, lalu Cessa lagi, balik ke Surya lagi, dan begitu seterusnya. Dan endingnya, tidakkah terlalu mudah? Seakan kisah Surya dan Cessa dalam ratusan halaman sebelumnya hanya sekedar angin lalu saja haha. Menurutku tapi ya. Kalau pendapat orang lain sih bisa berbeda, wkwk.

Overall… Cukup menguras emosi. Aku pun menitikkan air mata di beberapa bab terakhir, menangis, tapi tak sampai menghabiskan berlembar-lembar tisu. Bagaimana Orizuka membawakan cerita yang sebenarnya sudah ‘biasa’ menjadi sebuah cerita yang layak dinantikan kelanjutan tiap lembarnya. Ditambah interaksi antar tokoh yang cukup bisa dinikmati, tanpa merasa canggung membacanya membuat I For You wajib dibaca bagi penggemar novel terutama yang merindukan romansa anak sekolahan.

Rating: 4/5 bintang.

(satu bintang hilang karena ide ceritanya yang ternyata melebihi ideku haha #abaikan)

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s