Posted in Constellation's Series

Failed


Assalammualaikum.

Annyeong~!

Pernah dengar kalimat ini? “Amanah tidak pernah memilih pundak yang salah”. Well, sampai sekarang aku masih dipermainkan oleh kalimat itu. Tidak bisa menolak, tapi memang begitulah adanya. Tidak bisa apa-apa.

Lalu pertanyaanku berganti menjadi, “kenapa pundakku? Apa tidak ada pundak yang lebih bagus dari aku?”

Hmm… Selalu seperti itu. Selalu mencoba mengelak. Mungkin karena tidak mau mendapatkan amanah yang terlalu berat, yang aku sendiri merasa tidak mampu menopangnya.

Lalu ada hadist lain, “Barang siapa melalaikan amanah dan melemparkannya ke orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah sampai amanah itu hancur.” Kira-kira seperti itu dan seketika aku, yang pernah berniat untuk melepas tanggung jawab itu, terdiam.

Ini… hadist untuk aku atau untuk yang memberiku amanah? Haha. Entahlah.

Akhir Agustus lalu, aku alhamdulillah diberi amanah dalam sebuah kepanitiaan nasional. Yah, bukan kali pertama jadi panitia sih, jadi seharusnya biasa saja. Tapi kali ini beda. Bukan panitia biasa, tapi seorang koordinator salah satu sie. Are you kidding me? Koor? Aku anak bawang yang nggak tau apa-apa ini diamanahi jadi koor? Nggak salah?! Apa nggak salah orang? Mungkin bukan aku tapi orang lain? Eh ternyata benar aku.

Yang ada di pikiranku saat tahu adalah, koor ya? Hmm… Hanya mengurus pendaftaran kan ya? Sama pesanan dan lain-lain. Bisa lah ya… Lagipula koornya pasti ada yang dari laki-laki juga kan. Paling aku nggak ngapa-ngapain. Apalagi ini acara UKM ini. Kali aja bisa ketemu sama kakak tiiiiit. #abaikan ini.

Pemikiran seperti itu yang ada di otakku. Maka dengan lapang dada (?) aku menerima amanah itu, dengan bayangan tugasnya tak sesulit yang ada di pikiranku.

Dan mulailah amanahku dijalankan.

Belum apa-apa, masalah datang. Pengumuman nama seluruh panitia akhirnya keluar. Dan tau apa? Ternyata sie yang aku ikuti tidak punya koor laki-laki. Seketika aku zonk. Jadi ini benar-benar di bawah kendaliku sendiri?! Aku bisa apa?!

Masalah kedua datang lagi. Berhubung waktunya bertepatan dengan libur semester dan libur ramadhan, banyak sekali panitia yang belum bisa dihubungi. Termasuk teman-teman sie ku. Bukan salahku kan ya, aku sudah menghubungi tapi mereka tidak menanggapi, jadi aku santai-santai saja. Eh nggak taunya masalah datang lagi. Ketua panitia mau mulai hari itu semua sie sudah harus bekerja. Hellow? Bisa dihubungi aja belum, gimana mau kerja?! Dan kenalah semprot aku T_T

Dari awal sudah kacau, selama perjalanan pun cukup kacau. Yah, karena masalah komunikasi lagi. Jadi terkesan hanya aku, si a, si b yang bekerja. Ditambah ternyata tugas sie ku tak sesimple yang aku bayangkan. Ternyata banyak sekali yang harus dilakukan yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya! Mulailah kocar-kacir.

Tapi alhamdulillah, sampai menjelang hari H semuanya baik-baik saja. Nggak termasuk cetak mmt yang desainnya tiba-tiba berubah, masalah dengan atasan panitia, komunikasi yang lagi-lagi nggak bisa diandalkan, tapi tetap saja akhirnya bisa. Walaupun dengan terpontang-panting.

Hari H pun tiba. Aku pikir semuanya akan berjalan baik-baik saja. Toh kami sudah menyiapkan apa yang seharusnya sie kami siapkan. Tapi ternyata kenyataan tak seindah impian. Semua kocar kacir. Registerasi lalalalilili, fotokopi belum siap, panitia yang jaga entah menghilang kemana, dan yang paling parah di hari terakhir. Vandel untuk peserta yang sebenarnya sudah jadi sejak hari pertama ternyata salah nama. Hampir semuanya. Padahal itu beberapa menit sebelum penutupan. Seketika aku panik.

Ini salah ku juga nggak ngecek barang-barang pesanan setelah diterima. Cuma terima jadi oh oke lalu diam. Salahku juga kenapa nggak meminta tolong teman-temanku buat mengoreksi semua pekerjaan kami. Hiks. Serasa gagal total. Failed sekali. Rasanya malu dan bersalah. Maafkan aku semuanya. Aku belum bisa memberikan yang terbaik. Malah menghancurkan semuanya. Untuk ketuanya, benar-benar aku minta maaf. Maaf karena menghancurkan semuanya, maaf karena tidak memberikan yang terbaik, dan maaf karena sampai sekarang rasanya aku masih kesal dengan panjenengan. Maafkan aku. Mungkin seiring berjalannya waktu aku bisa lebih menerima semuanya dan tidak semudah itu sakit hati.

Maaf juga pada teman-teman satu sie ku. Kalian kurang beruntung punya koor tidak becus seperti aku T__T Lain kali jika ada kesempatan lagi (memang ada? Semoga ada lah ya…) aku janji nggak bakal sekacau ini lagi. Maafkan juga kalau aku sering panik, sering emosi naik, sering bingung, dan sering tidak tegas sekali sebagai koor. Kalian pasti merasa aku nggak jelas. Memang aku nggak jelas sih. Maafkan ya. Aku memang seperti itu kalau sedang panik.

Dan ini h+14 setelah acara. Dan sie kami masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Di saat sie lain sudah bebas tugas, kepalaku masih pusing memikirkan ini itu. Doakan kami semoga urusannya segera kelar. Agar kami tidak ada tanggung jawab yang belum terselesaikan lagi.

Haaaaah. Amanah tidak memilih pundak yang salah. Tapi pundakku yang salah karena terlalu kosong sampai semua amanah ingin duduk di sana .___.

Semoga saja di amanah yang lain jika diberi saya bisa memperbaikinya. Pengalaman pertama sebagai koordinator yang benar-benar menguras tenaga dan emosi jiwa. Tapi juga menambah pengalaman dan kenalan. Siapa sih yang nggak mau ikut acara se nasional? Semuanya pasti mau. Dan tidak semuuanya diberi kesempatan itu. Jadi jalani saja. Haha.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Atas perhatian Bapak/Ibu kami mengucapkan terimakasih.

Wassalammualaikum wr.wb.

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s