Posted in Fanfiction, Oneshoot

[RiFy] Oneshoot – Win Some, Lose Some


Annyeong haseyooo. Hai semuanyaaa. Lama tak jumpa dengan pikiran gila saya *plak. Mau bikin fanfic korea, tapi stuck terus. Jadinya ngelanjutin draft yang udah jamuran dari jaman baholak. Dan ini dia hasilnya.

JENG JENG.

Cerpen gaje dari ana buat kalian semua. Ini cerpen icil. Yang beruntung jadi korban kali ini tokohnya adalah Ify dan Rio, yeeey! Maafin yah kalo aku menistakan mereka di sini -.-

Dan sebelum baca, aku peringatkan, ini benar-benar gaje, jadul, bahasanya acak-acakan, tanpa alur yang pasti. Yang jelas dibikin cuma buat seneng-seneng aja. Jadi jangan sampai pada sakit hati ya habis baca ini ehheheh.

Oke langsung cus aja. Selamat membaca😀

*****

a fanfic by Kira

starring: Mario Stevano (RIO – ICIL 3) dan Alyssa Saufika (IFY – ICIL 1)

 :: WIN SOME, LOSE SOME ::

*****

Jam Olahraga. Kelas 11A2.

“Kenapa, Fy? Wajah lo kayak keset belum disetrika aja!” tanya Agni begitu melihat Ify berjalan mendekati dia dan teman sekelas lainnya yang sedang bersiap untuk pelajaran olah raga.

“Emangnya keset biasa lo setrika?” tanya Ify balik dengan tatapan heran. Agni nyengir.

“Enggak juga sih. Hehe. Terus kenapa muka lo kucel gitu?” tanyanya lagi sambil mencubit pipi Ify gemas.

“Kayak nggak tau Ify aja! Bukannya muka dia selalu gitu kalo mau pelajaran olah raga?!” jelas Zahra yang entah darimana ikutan nimbrung bareng mereka berdua.

“Oh? Ini mau pelajaran olah raga, ya?” Tanya Ify polos.

Agni mengerang kesal. “BABO! Terus kalau bukan olah raga, ngapain lo pake baju olah raga sekarang?!” ujarnya gemas sembari mencubit pipi tirus Ify.

“Oh. Iya, ya. Kenapa gue bisa jadi bego gini. Perasaan dulu nggak deh.”

“Perasaan lo aja kali. Perasaan gue dari dulu lo emang bego,” Agni nyeletuk asal. Cukup menyakitkan, tapi Ify yang polos hanya mengangguk menyetujuinya.

“Oh, gitu ya? Perasaan lo gimana, Ra?” Ify balik tanya ke Zahra.

“Bodoh ah. Ribet ngomong sama kalian,” ucap Zahra geram. Yah terkadang, sikap teman-temannya itu tidak seperti siswa SMA. Bahkan adik Zahra yang masih SD pun paham apa yang ia katakan, tak seperti kedua temannya tadi.

*****

“Maaf anak-anak. Bapak ada panggilan mendadak dari pasar. Katanya utang bapak beli ikan asin sama cumi kemarin harus dilunasi sekarang. Jadi bapak harus segera kesana biar nggak didiskon utangnya!” Pak Duta, guru olah raga kelas Ify datang tegopoh-gopoh.

“Jadi bapak nggak bisa ngajar hari ini kan?” teriak Ify senang.

“Iya, cantik. Kamu pasti senang ya?!”

“Ih. Kok bapak tau sih. Bapak perhatiin aku ya? Atau jangan-jangan selama ini bapak naksir aku? Aduh bapaak… bapak telat. Ify yang manis, cantik, baik, suka menolong, suka menabung, dan suka melet ini udah ada yang punya. Coba aja kalo bapak nembak aku duluan. Pasti aku terima!”

“Heh!” teriak Rio nggak terima. Bisa-bisanya pacarnya ngomong kayak gitu sama pak guru. Nggak tau malu banget.

“Ify. Nilai kamu saya turunkan 5! Karena tidak sopan sama guru,” ujar Pak Duta dengan tampang garangnya.

Ify tersentak. Gadis itu menelan ludah sekilas. Tiga detik kemudian, wajahnya memelas. “Yah bapak… kok diturunkan lima sih?”

“Terus kamu maunya berapa?”

Senyum lebar terbit di wajah Ify. Sembari menunjukkan kesepuluh jarinya ke depan, Ify menatap gurunya senang. “Diturunin 10 aja, Pak. Biar genap.”

“Nggak boleh. Bapak maunya dinaikin lima.”

Ify menghela napas. Tidak mau berdebat lagi dengan guru olahraganya itu. “Okedeh terserah bapak. Naikin lima ya, Pak.”

“Oke. Deal.” Lalu mereka pun berjabat tangan dan menandatangani surat perjanjian diatas materai 6000 sebanyak 6 rangkap *apaini* #abaikan-__-

“Aduh pak. Utangnya bapak ntar keburu didiskon lhoh!” Sivia yang sedari diam memperhatikan tiba-tiba bersuara.

“Oh iya. Gara-gara kamu sih! Pak ONI! Titip murid sayaa yah!”

*****

Pertandingan Basket antar kelas 11A2 dan 12A2.

“Yeyeyeye! Gue Cuma nonton!” sorak Ify senang. Wajahnya cerah banget, seakan habis menang lotre 1 milyar. “Eh? Ini kelasnya Kak Iel, ya?! Gue sorakin ah biar semangat!”

“KAK IEL!! AYO! FIGHTING! CIAYO! KAMU PASTI BISA!” Suara Ify yang cempreng bikin semua orang perhatiin dia. Beberapa detik teriakan dia berhenti. Ify bales natap mata-mata yang lagi mandang dia.

“Kenapa malah pada liatin gue? Buruan dukung kak IEL!!”

“KAK IEL!!! KAMU PASTI MENANG!” sorak Ify lagi. Kali ini tambah keras. Bahkan Ify baru saja mau ambil pompom yang entah kapan udah ada di sebelahnya buat nyorakin Gabriel sampai sebuah suara menahan gerakannya.

“HEH! LO KELASNYA SIAPA?!” teriak Rio dari dalam lapangan. Tak terima Ify justru mendukung lawan mereka dari pada kelasnya sendiri.

“Gue? Gue kelas 11A2. Itu kelasnya siapa ya? Gue nggak tau yang punya. Yang punya bukannya sekolahan ya?”

“Aduh begonya keluar.”

“Rio! Nggak usah peduliin pacar lo yang aneh itu deh. Kita lagi tanding nih,” ucap Alvin yang sebenernya nggak bisa konsen gara-gara suara cempreng Ify. Tapi dia tambah nggak mau kalau pemain kunci mereka ikut terpengaruh sama suara cempreng itu.

“Tapi dia…” ucapan Rio terhenti melihat tatapan tajam Alvin. Setengah hati ia melanjutkan permainannya.

Tinggal beberapa langkah lagi, kelasnya mendekati daerah pertahanan lawan. Lagi seru-serunya. Lagi-lagi perhatian Rio buat tanding terganggu gara-gara teriakan cempreng cewek di pinggir lapangan yang udah dia hapal.

“KAK IEL!! Hati-hati!! Kalian mau diserang Rio!!” teriak Ify dari pinggir lapangan. Rio berhenti berlari. Fokusnya buyar sudah. Bagaimana mungkin kekasihnya itu bisa bertingkah seperti itu?! Gabriel yang memang menjadi pusat serangan kelas 12 tersenyum sekilas mendengar perkataan Ify. Melihat Rio yang lengah menjaganya, Gabriel langsung merebut bola dan membawanya menjauh.

“YEE!! Hidup KAK IEL!!” teriak Ify lagi.

Dari dalam lapangan, Rio menatap cewek itu kesal. Tak diperdulikannya bola basket yang sudah dipegang entah oleh siapa.

Agni yang menyadari tatapan kesal dari Rio untuk Ify segera menoel gadis itu dan menunjukkan ke arah Rio. Ify mengerjapkan matanya tak mengerti.

“Kenapa dia berhenti main? Dia nyerah?” tanyanya. Agni berdecak kesal.

“Sebenernya lo dukung siapa, sih?! Bukannya harusnya lo dukung kelas lo?!”

“Nggak ah. Enakan dukung kelas 12. Ada Kak Iel,” jawab Ify santai sambil senyum-senyum nggak jelas.

“Tapi di keals lo ada Rio, Ify….!!” Ucap Agni geram.

“Emang Rio kenapa?”

“Dia itu pacar lo! Masak waktu tanding lo malah dukung Kak Iel dari pada pacar lo sendiri?!”

Ify berusaha mengingat. “Rio pacar gue, ya?”

Agni terjatuh dari tempat duduknya.

“Eh, Ni, Ni. Kok malah jatuh sih!” teriak Ify panik.

Susah payah Agni bangun dari jatuhnya. “Lo gimana sih?! Pacar sendiri masak lupa?!”

Satu detik. Dua detik. Lima detik. Sepuluh detik. Ify mengaktifkan otaknya buat mencerna apa yang barusan Agni bilang. Setelah hampir satu menit, Ify berdecak. “Pacar?! Rio?! Ah iya! Rio kan pacar gue! Gue harus dukung dia!” ucap Ify semangat.

Agni melongo. Bisa-bisanya dia punya temen seaneh Ify.

“Rio!!! Semangat RIO!!! JANGAN MAU KALAH!!” teriak Ify kemudian. Semua mata termasuk Rio yang udah nggak semangat tanding langsung menatap Ify tak percaya.

“Nah, loh. Kenapa pada ngliatin gue semuanya?! Jangan liatin gue! Liatin pertandingannya aja! Dukung Rio ya!” cerocosnya.

“RIO!! Awas kalau lo sampai kalah! Gue putusin ntar!” teriak Ify lagi.

Rio tersenyum sekilas. Yah. Walaupun sedikit, ah tidak, banyak anehnya, itulah yang ia sukai dari Ify. Dengan semangat 45, Rio terlahir kembali (?) dan mulai bertanding membela kelasnya.

*****

Pertandingan hari ini berakhir dengan skor 35 : 53. Kemenangan untuk kelas… 12A2. Pada akhirnya kelas Rio kalah juga. Gimana nggak kalah?! Tiap tim mereka mau masukkin bola, Ify teriak-teriak nggak jelas. Maksudnya mau nyemangatin, tapi keluarnya malah bikin konsentrasi hilang.

Anak cowok gantian istirahat. Sekarang waktunya anak cewek yang tanding. Mengetahui itu, seketika Ify pucat. Teriakan-teriakan yang tadi sempat keluar dari mulutnya kini tak lagi ia ucapkan. Ia diam tak bersuara.

“Kurang satu nih. Ify lo maju!” panggil Agni kemudian.

“Agni. Gue mules. Nggak usah ikutan ya?!” bujuknya seraya berjalan mundur menjauhi lapangan. Agni berdecak. Didekatinya Ify dan ditariknya lengannya. “Semuanya udah kena jatah main. Tinggal lo doang, Ify!”

Ify segera menghempaskan tangan Agni pelan dan berlari ke arah Rio. Rio yang tadi sedang menikmati air mineralnya hanya menatap gadis yang saat ini bersembunyi di belakang punggungnya heran. “Kenapa lo?” tanyanya.

Ify cuma meringis.

“Rio, cewek lo nggak mau olah raga tuh. Ntar laporin Pak Duta aja, biar nggak dapet nilai,” adu Agni kemudian. Rio menatap Ify yang masih bersembunyi di baliknya. Cewek itu mengeluarkan wajah termanisnya agar pacarnya itu mau melindunginya.

Sebersit ide jahil Rio muncul. Mungkin karena kesal ia kalah dalam pertandingan ini, dan pacarnya itu menyumbang tidak sedikit alasan yang menyebabkan mereka kalah, ia pun memutuskan untuk mengerjai Ify. Sekalian untuk memberi gadis itu pengalaman.

Didorongnya Ify ke dalam lapangan. Ify sempat mengelak mengetahui maksud pacarnya itu. tapi apa daya, tubuhnya masih kalah kuat. Dengan terpaksa ia pun mengikuti pertandingan basket itu.

“RIO!!! AWAS NANTI!! GUE BUNUH LO!!”

Rio mencibir mendengar teriakan kekasihnya itu. “Bunuh aja. Emangnya berani? Paling juga nanti nangis-nangis minta gue hidup lagi…” ucapnya pelan sambil berjalan keluar lapangan. Air minumnya habis. Pergi ke kantin menjadi pilihan yang baik untuk tenggorokannya saat ini.

*****

Baru berjalan beberapa menit, pertandingan anak cewek harus berhenti. Kenapa lagi kalau bukan karena Ify. Baru dapet operan pertama, Ify langsung kagok. Bukannya nangkep bola, dia malah merem dan jerit-jerit nggak jelas. Dan jeritannya pun berhenti saat bola basket itu berhasil mampir ke kepalanya.

“IFY!! Woii!! Bangun wooyy!!” teriak teman-teman Ify. Anak cowok yang kebetulan lagi nonton langsung berlari berhamburan ke dalam lapangan.

“Aduh… tolongin ify dong!” ucap Zahra panik.

“Cepetan!!” Agni ikut panic sambil dorong-dorong lengan Cakka biar deket Ify.

“Lo aja! Gue takut kena marah Rio ntar!” Cakka malah ganti dorong-dorong Agni ke depan.

“Aduh… Rio-nya nggak ada. Sekarang Ify tepar nih. Bantuin angkatin dong!”

“Gimana kalau lo aja?!” usul Cakka kepada Agni.

“Nggak mau! Gue cewek. Ify krempeng gitu berat tau!”

“Masih beratan lo tapi gue yakin,” sindir Cakka sambil mengamati Agni dari atas ke bawah (?). Agni menatapnya tajam.

“Aish! Lo diem aja deh!” rutuknya sambil menoyor kepala rival abadinya itu pelan.

“Ya ampun! Ngapain berantem!! Ini buruan tolongin Ify!” Sivia yang daritadi Cuma gigitin kuku jarinya takut kini ikutan nyemprong gara-gara nggak tahan lihat Agni sama Cakka berantem.

“Tolongin aja sana!” ucap mereka berdua kompak. Sivia hening mendadak.

“Daritadi gue mikir. Tapi tetep aja, gue nggak tau caranya! Kalau misalnya Ify dibopong pasti nggak ada yang mau. Bener kata Agni tadi, Ify kurus gitu berat juga tau. Terus kalau mau pakai alat pakai apaan coba? Masak dia mau ditaruh di atas ring basket itu terus kita dorong? Lebih ringan sih daripada angkat dia pakai tangan. Tapi kan kita nggak bisa naikin dia ke atas. Coba aja kalau elang yang biasa dinaikin di TV itu bisa datang kemari. Pasti lebih gampang,” tuturnya panjang lebar. Kontan Agni sama Cakka langsung cengo.

Dengan kondisi kepala yang serasa berputar 360O, Ify yang pandangannya masih setengah sadar menggumam pelan.  “Kalian kelamaan deh. Gue tahan sadar biar kalian gampang bopong gue. Tapi apa. Gue keburu pusing. Lama banget nunggu kalian…” Suara ify semakin memelan. Semua mata yang tadi saling berdebat kini serentak menatap Ify. Ify yang tadi masih bisa bergerak beberapa kali kini sudah tergeletak tak berdaya.

“Mampus LO! Ify kenapa?!” ucap Cakka panik.

“Dia nggak mati, kan?!” Sivia kembali gigitin kukunya, tanda kalau dia lagi panik juga.

“Jangan ngaco! Bisa abis ntar kita dimarah Rio!”

“Kenapa sebut nama gue?” tanya Rio yang tiba-tiba sudah muncul kembali ke lapangan. Melihat kerumunan orang yang berkumpul di lapangan membuatnya tertarik untuk kesana. Dan benarlah, ternyata mereka sedang gossip tentang dia.

Semua wajah disana langsung pucat. Takut kalau dimarahin Rio gara-gara Ify tepar.

“Kena—pa?!” mata Rio langsung terbelalak melihat kekasihnya terkapar tak berdaya di tengah lapangan dikerubungin banyak orang.  Seketika wajahnya panik. Dilemparnya botol minuman yang baru aja ia beli,. “IFY!!”

*****

Ify mengerjap-ngerjapkan matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah matanya silau. Bukan. Bukan karena cahaya matahari yang tiba-tiba masuk ke matanya. Bukan juga karena cahaya lampu yang belum bisa diadaptasi oleh matanya. Melainkan lebih karena cahaya yang terpancar dari tubuh lelaki di hadapannya. Rio. Kekasihnya itu tertidur di samping ranjangnya. Ify tersenyum geli. Kenapa bisa ada cahaya keluar dari tubuh pacarnya? Apa emang Rio terlalu bersinar?!

Ify mulai cekikan. Imajinasinya masih bertengkar dengan dunia nyatanya. Salah satu sisi dirinya bilang kalau cahaya yang ia lihat itu hanya khayalannya. Tapi dunia kenyataan pada dirinya mengatakan kalau memang Rio itu seperti bintang bersinar.

Mendengar ada suara cekikan, Rio terbangun. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, dipandangnya Ify yang sekarang sudah diam tenang.

“Lo udah bangun?” tanya Rio. Ify melengos. Jelas-jelas matanya yang belo udah melek. Kenapa ditanya udah bangun? Apa mata besar gini keliatan kayak orang tidur?!

“Emm… Sepertinya matanya udah melek. Berarti udah bangun,” ucap Rio lagi, menyimpulkan.

“Emang udah!” jawab Ify agak kesal.

“Kalau gitu minggir!” perintah Rio. Ify bingung, kenapa disuruh minggir? Rio berdecak kesal. “Gantian dong! Gue juga ngantuk nih! Nungguin lo pingsan lama banget!”

Ify cengo. Tanpa sadar dia bangun dari ranjang UKS itu dan berdiri di samping. Rio segera menggantikan tempat Ify dan kembali terlarut dalam tidur. Ify cuma bisa melongo.

Mungkin ini kali pertama… ah tidak. Mungkin ini cuma Ify yang mengalami. Dia… ditinggal tidur pacarnya.

*****

Setelah sekitar 15 menit menunggu sambil memandangi Rio yang tengah tertidur, akhirnya Rio bangun juga. Ify memasang senyumnya yang paling lebar.

“Ngapain senyum? Nakutin tau!”

Ify melengos. Udah baik-baik bangun tidur dikasih senyum manis, eh, malah dimarahin. Dasar Rio nggak tau terima kasih!

“Berapa menit gue tidur?”

Ify melihat jam tangannya. “Lima belas menit.”

“Ah. Baru sebentar. Harusnya gue tidur lebih lama biar lo ngerasain gimana rasanya nungguin orang tidur satu jam.”

Ify meringis. “Salah siapa nyuruh gue main bola?! Kan lo tau sendiri kalo gue punya phobia sama bola!”

Rio hanya mendengus pelan. Ia segera bangkit dari posisi tidurnya dan merapikan diri. Dia nggak mau nanti ada fansnya yang kabur gara-gara liat idolanya itu bangun tidur rembes banget.

Ify melengos. Kalo udah sampai urusan tata-tata diri, bahasa kerennya dandan kalo cewek, Rio itu paling lama. Dan Ify paling males kalo nungguin dia. Lamanya bisa lebih dari kalo dia sendiri dandan. Dan tanpa berkata, Ify pergi meninggalkan ruang UKS itu dan memilih untuk menunggu Rio di luar.

Lima menit berlalu dan Rio belum juga keluar. Dasar cowok! Gayanya aja marah-marah tiap nungguin cewek dandan, nyatanya mereka sendiri lebih lama! Rutuk Ify dalam hati.

“Ify?”

Gadis berambut panjang itu menoleh. Seketika senyum lebarnya terukir. Itu idolanya. “KAK IEL?” pekiknya tak percaya. Radar dalam dirinya untuk bertingkah centil secara otomatis menyala. “Kak Iel kenapa masih di sini? Bukannya harusnya udah pulang?”

Gabriel tersenyum simpul melihat tingkah adik kelasnya itu. “Latihan basket sebentar. Biar nanti kalo lawan kelas lo lagi, gue bisa ngalahin Rio.”

Senyum Ify pudar mendengar nama Rio disebut. Tapi hanya sementara, sedetik kemudian dia langsung menatap kakak kelasnya itu penuh harap. “Bagus, Kak! Lain kali jangan biarin Rio menang! Dia nggak pantes menang! Siapa suruh dia nyuruh aku main bola?! Udah tau aku nggak bisa. Nyebelin. Kasih pelajaran, Kak!”

Gabriel tertawa keras. Tak bisa dipungkiri. Penggemarnya yang satu ini lucu juga. Sayang sekali udah ada yang punya. Coba aja kalo belum, pasti langsung dia tembak. “Kalo lo jadi pacar gue aja gimana? Daripada sama Rio. Kalo ganti gue yang berhasil menangin hati lo, bukan Rio, gimana menurut lo? Bukan ide buruk, kan?”

“Haha. Gitu juga boleh, Kak. Gue mau. Jadi pacar Kak Iel daripada pacar Ri—EH?! Kakak barusan bilang apa?! Kak Iel nembak gue?! Itu termasuk nembak, kan?!” pekik Ify dengan suara cetarnya. Gabriel mau tak mau meringis sembari memainkan telinganya yang agak sakit akibat suara gadis di depannya itu.

“Iya. Gimana? Mau?”

Ify berpikir sejenak. Seketika ia mengangguk semangat.

Gabriel mendelik. “Lo mau jadi pacar gue?!” ganti dia yang menjerit.

Ify nyengir. “Mau, Kak,” ucapnya malu-malu. Gadis itu terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum lebar. “Tapi itu dulu. Coba aja kakak nembaknya sebelum aku jadian sama Rio, pasti aku terima. Kalo sekarang mah… Rio masih menang hehe.”

Gabriel terkekeh. Emang satu hal ini kayaknya dia nggak bisa menang dari Rio. Entah apa yang udah dilakuin adik kelasnya itu sampai Ify lebih memilih dia daripada dirinya yang jelas-jelas Ify ngefans dari dulu.

“Yakin, Fy? Tawaran nggak datang dua kali, lho.” Gabriel mencoba menggoda Ify lagi, namun gadis itu masih memasang cengiran lebarnya.

“Kak Iel,… sekalipun tawaran itu datang sepuluh kali, ah, bahkan kalo Kim Bum F4 yang gantengnya nggak ketulungan itu nembak gue sekalipun, kalo masih ada Rio aku bakalan tolak. Rio masih selalu menang di hatiku. Walaupun nyebelin sih, item lagi, tapi gue tetep suka. Hehe.”

Gabriel menghela napas pelan. Salah satu idola siswi-siswi sekolah ini hanya bisa tersenyum pahit.

“Oi, kurus! Lo mau pulang, nggak? Pacar lo yang ganteng ini capek nih nungguin lo selingkuh.”

Seketika dua anak manusia yang tadi sedang mengobrol itu menoleh. Ify berjengit kaget begitu melihat Rio yang entah sejak kapan sudah berdiri tak jauh darinya dan Gabriel.

“Rio! Gue piker lo masih dandan. Lo kalo dandan kan lamanya minta dibakar!” oceh Ify sembari berlari menghampiri Rio.

Rio memasang senyum kesalnya. “Emang lo berani bakar gue? Yakin nggak kangen kalo gue ilang?”

Ify berpikir sejenak. “Ah, bener juga. Lo udah item. Kalo dibakar, ntar tambah item dong?! Jangan deh kalo gitu!”

Rio mendelik.

“Ah, pokoknya lo lama deh kalo dandan. Jadi gue tungguin di luar. Untung gue ketemu Kak Iel. Jadi ada temen buat ngobrol. Oh iya, tadi Kak Iel nembak gue lho. Tapi tenang aja, gue tolak kok,” celoteh Ify panjang lebar.

Rio mendengus. “Kenapa lo tolak? Kan sayang.”

Ify mendelik. “Jadi harusnya gue terima? Iya? Lo suka kalo gue pacaran sama Kak Iel? Yah. Padahal tadi gue udah pede nolak gara-gara lo. Tapi kalo gini jadinya ya udah,” wajahnya berubah melas. Secepat kilat ia berbalik menghampiri Kak Iel lagi. “Kak, Rio maunya gue pacaran sama lo. Tawarannya masih berlaku, kan? Gue mau deh jadi pacar lo—aww! Sakit! Sakit! Sakit, Rio!”

Ocehan gadis bermata belo itu berakhir dengan rintihan kesakitan saat Rio melingkarkan lengannya di leher gadis itu dari belakang, sedikit menariknya. “Kenapa lo bodoh banget, sih. Gue kan cuma asal ngomong!”

Ify meringis. Tangannya masih memukul-mukul lengan Rio di lehernya. “Sakit, Rio! Lepasin!” Saat tangan Rio tak juga lepas, Ify hanya bisa melakukan jurus terakhirnya. Gadis itu mendekatkan mulutnya ke lengan Rio dan menggigitnya lumayan keras.

“Aww! Sakit!” Rio seketika melepaskan lengannya. Lelaki itu meniup-niup lengannya yang sedikit memerah. “Kenapa pakai gigit-gigitan segala, sih?! Emangnya lo kucing?! Nggak tau apa kalo sakit!” rutuknya masih dengan meraung kesakitan. Ify hanya meringis.

Rio melirik kekasihnya itu kesal. Kemudian ia menghadap Gabriel yang sedari tadi hanya bisa meringis melihat kelakuan lovey-dovey yang aneh dari pasangan yang aneh yang berdiri di hadapannya itu.

“Kakak kelasku yang tampan dan baik hati, udah dengar ‘ kan tadi? Selama masih ada gue, Ify nggak akan jadi pacar siapapun, kecuali gue. Kak Iel boleh menang waktu basket. Tapi kali ini, gue yang menang. Jadi, maaf ya.”

Rio menampakkan seringainya sebelum akhirnya menarik tangan Ify meninggalkan tempat itu. Tak sempat berpamitan dengan benar, Ify hanya bisa mencuri kesempatan menoleh ke belakang sembari melambaikan tangannya pada Gabriel. “Kak Iel, Ify yang cantik pulang dulu, ya! Ntar kalo gue udah putus sama Rio, Kak Iel yang pertama kali tau, deh. Sore Kak Iel! Mimpiin Ify yang cantik ya!”

Gabriel membalas lambaian tangan itu sembari tersenyum simpul.

“Lo bisa diam, nggak? Atau lo mau pulang sendiri?” ancam Rio tajam. Seketika Ify menarik tangannya yang tadi sibuk melambai dan secepat kilat berbalik menghadap depan.

“Ah. Rio yang ganteng, tapi item, terus yang gantengnya masih kalah sama Kim Bum F4, tapi Ify yang cantik ini tetap suka, jangan gitu dong. Ntar siapa yang nganter putri ini pulang? Kasian kan kalo ada yang nyulik di tengah jalan? Apa lo nggak sedih ntar kalo gue diculik orang?”

Mau tak mau Rio tersenyum lebar. Tangannya yang menggenggam tangan Ify semakin mengerat. “Oke. Gue anter lo pulang. Asal kalo ada yang nembak lo lagi siapapun itu tolak ya. Kayak tadi.”

Ify mengangguk kuat. “Pasti gue tolak kok. Kan masih ada lo.”

“Bagus. Itu baru pacar gue.”

Tiba-tiba Ify menghentikan langkahnya, membuat Rio di sebelahnya ikut berhenti. Dengan wajah bingung, bibir Rio membentuk kata kenapa, menanyakannya tanpa suara.

“Eh, bentar. Tapi kalo Kim Bum yang nembak, kayaknya gue harus mikir lagi deh. Kan sayang kalo gue nolak cowok ganteng kece badai kayak dia demi cowok item kayak lo.”

Seketika lelaki itu melengos. Genggamannya di tangan Ify ia lepas dan kakinya mulai melangkah meninggalkan Ify di belakang sendirian. “Bodo ah. Kesel gue sama lo! Ah. Sama gue sendiri, ding! Kenapa bisa suka sama cewek macam lo?! Kayak nggak ada cewek lain aja!” ucapnya frustasi.

Sementara Ify hanya bisa berlari mengejar Rio yang tiba-tiba saja meninggalkannya. “Yah Rio item, dekil, jelek! Jangan tinggalin gue dooong!! Ntar kalo gue beneran diculik beneran gimana?!”

“Bodo!”

***** END *****

Gimana? Aneh, ya? Wkwk maapin ya kalo gaje. Maklum bikinnya udah lama tapi baru sempet finishing sekarang. Jadi masih alay-alay gitu haha.

Bikin ini buat obat rindu juga sama cerpen icil masa smp dulu. Sekarang mah Ify-Rio udah gede. Rasanya jadi aneh kalo mau bikin cerpen tentang mereka lagi wkwk. Tapi gimana ya? Emang couple satu ini shipable bangeeeeet. Dari dulu paling suka baca cerpen tentang mereka. Yah, kali aja nanti kepikiran buat bikin lagi wkwk.

Tapi maafin ya kalo nggak sesuai ekspektasi T.T

Makasih yang udah bersedia baca. Komen pliiiiissss :3

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s