Posted in Constellation's Series, Nothing

M for Miracles


Miracles do really exist…

*****

Annyeong.

Masih tidak percaya keajaiban? Yah, tidak apa-apa sih. Tidak ada yang mengharuskan untuk percaya. Semua orang punya keyakinan sendiri tentang definisi keajaiban.

Awalnya aku juga nggak percaya. Tapi kemudian aku menyadari kalau keajaiban itu benar-benar ada. Aku benar-benar mengharapkan kehadirannya. Aku terlalu tertarik pada keberadaannya. Dan pada akhirnya aku jatuh karena terlalu memujanya.

Tiga tahun lalu. Saat pertandingan musim terakhir Liga Champions Inggris, Manchester City, Manchester biru ini membuat keajaiban. Penggemar bola pasti tahu. Khususnya penggemar Red Devil yang sukses dibuat menangis sama penghuni Etihad Stadium😄

Saat itu aku baru awal-awal suka Manchester City. Silva, Tevez, Aguero, dan akhirnya… Dzeko. Aku jadi suka Dzeko. Apalagi namanya hampir mirip aku, Dzaki. Meuhehe, apaan deh nggak jelas. Oke, balik lagi. Gara-gara suka, aku jadi rajin nonton setiap pertandingannya. Dan pertandingan terakhir yang menentukan siapa juara musim itu pun tak aku lewatkan.

Sebelumnya, Manchester United sudah menang duluan. Mereka tinggal santai, menunggu hasil pertandingan MC yang saat itu masih berlangsung. Jika MC saat itu kalah, maka secara otomatis, MU yang sudah menang akan menjadi juara.

Tinggal 15 menit terakhir, aku sudah frustasi. MC tidak seperti biasa mainnya. Sudahlah, sudah. Kalian pasti kalah. Tinggal segini waktunya, nggak mungkin bisa ngejar. Itu pikiranku.

Dan ternyata aku salah. 10 menit terakhir, keajaiban terjadi. Gol untuk City, membuat skor imbang. Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian kembali terjadi gol untuk City. Di detik-detik penghabisan, yang membuat kemenangan itu akhirnya di depan mata. Bukankah itu ajaib? Setelah beberapa menit lalu aku yakin mereka takkan menang, menit berikutnya mereka berhasil membalik keadaan, bahkan di waktu yang hanya tersisa sedikit.

Trofi pertama setelah kemarau gelar liga Champion. Otomatis aku bersorak. Ini hebat, di detik terakhir, mereka yang awalnya tertinggal justru bisa membalik keadaan dan menang. Walaupun MU juga saat itu menang, dan point akhirnya dengan City sama, tapi selisih gol City lebih bagus. Jadi City yang jadi juara.

Hal itu aku menyadari, keajaiban benar-benar ada. Jika kita berusaha. Jika kita tidak menyerah. Jika kita tidak berputus asa. Dan jika kita selalu berdoa yang terbaik pada Allah. Karena pada dasarnya, semua itu dari Allah, tidak akan terjadi tanpa ijin Allah.

Dan sejak saat itu, aku terlalu meninggikan keajaiban. Berharap aku akan mendapatkannya. Tapi aku bodoh. Aku hanya berharap, tidak diiringi tindakan. Dan akhirnya keajaiban itu hanya jadi angan semu yang menjerumuskanku.

Jadi aku berpikir, ah… mungkin memang ada keajaiban. Tapi jika tingkahku tetap seperti ini, mana mungkin Allah memberiku kesempatan.

Dan seperti itu. Aku mulai belajar untuk mengharap keajaiban diiringi dengan tindakan. Karena jika tanpa tindakan, keajaiban itu takkan datang. Karena sesungguhnya setiap ada kemauan pasti ada jalan. Karena sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Jadilah maka jadilah. Nggak ada yang tidak mungkin kalau semua diserahkan sama Allah.

Sekian dari saya, anak yang masih selalu berharap pada keajaiban.

Annyeong~!

Dari kamar 3×3 di sudut desa di kaki gunung, 7 Januari 2015

-Penggemar Dzeko, yang sekarang nggak tau dimana idolanya bernaung-

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s