Posted in Resensi

Persona – Fakhrisina Amalia


persona

Judul Buku: Persona

Pengarang: Fakhrisina Amalia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Terbit: April, 2016

Tebal: 248 halaman

*****

Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf L pada namanya sendiri.

Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap Kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.

Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu justru menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.

Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair atau Kak Nara.

*****

Pernah nggak kalian merasa hidup kalian hancur, tidak ada semangat untuk hidup, dan ingin sekali mengakhiri hidup yang tak lagi sama? Jika kalian pernah berarti kalian bisa merasakan apa yang dialami Azura.

Azura Kalila Halim, siswi kelas XI SMA IMIS di Palangka Raya, merasa hidupnya berantakan setelah orang tuanya sering bertengkar dan membuat suasana rumah tak sehangat ingatannya semasa TK. Sehari-hari, mini-cutter menjadi teman sejatinya, selalu ada di sakunya. Selalu siap jikalau suatu saat tubuhnya tak kuat lagi menahan luka dan menggantikannya dengan menggoreskan luka yang lebih nyata di pergelangan tanggannya.

Namun hidupnya perlahan berubah setelah kehadiran siswa pindahan di sekolahnya. Namanya Altair Nakayama. Pindahan dari Jepang, kini duduk di belakang bangkunya. Blasteran Jepang yang kini tinggal bersama ibunya setelah perceraian kedua orangtuanya. Merasa memiliki nasib yang sama dengan Altair, terlebih kepribadian lelaki itu yang menyenangkan layaknya pangeran yang datang dari manga favoritnya, Azura pun perlahan melupakan luka hidupnya dan mulai menjalani hidup yang seharusnya dengan bantuan Altair.

Dibesarkan sebagai anak tunggal tanpa kasih sayang orang tua sepenuhnya, lebih sering ditemani oleh Bik Sum, pembantu rumah tangga yang mulai bekerja semenjak pertengkaran kedua orang tuanya sering terjadi, Azura mulai menggantungkan hidupnya pada keberadaan Altair. Lelaki yang ternyata  dulu juga pernah mencoba bunuh diri setelah perceraian orang tuanya itu pun menjadi satu-satunya orang yang bisa mengerti Azura. Hingga Azura sendiri hampir melupakan Kak Nara, kakak tingkat yang menjadi idolanya semenjak pertama kali masuk ke IMIS.

Tirtanara W. Anak kelas 12. Hobi main sepak bola. Dan Azura hobi memandanginya bermain bola dari jendela besar di pojok perpustakaan. Tentu saja kegiatan itu mulai berkurang intensitasnya saat Altair datang. Altair yang selalu ada di sampingnya, Altair yang selalu siap meminta jatah bekal yang dibawa Azura, Altair yang selalu ada mengikutinya ke mana-mana, dan Altair yang mengoyakkan fokus hidupnya. Walaupun Altair sering mengikutinya mengagumi Kak Nara dari jauh, lama kelamaan Azura sadar kalau yang ia butuhkan sekarang adalah Altair, bukan Kak Nara. Sekalipun Kak Nara mulai mendekatinya, dan setidaknya kini menyadari keberadaannya.

Namun hidup kembali mempermainkannya. Setelah ia merasa hidupnya berjalan sedikit lebih baik, Mama nya kembali memperhatikannya –setidaknya lebih memperhatikannya dibanding dulu, kini Altair malah menghilang. Ditambah siswa kelas XII yang mulai melanjutkan dunianya di luar SMA setelah selesai ujian nasional, membuat Azura kehilangan semangat sekolah dan tentu saja semangat hidupnya. Tidak ada lagi Kak Nara yang ia pandangi dari sudut perpustakaan. Tidak ada lagi Altair yang menemaninya di setiap istirahat makan siang. Tidak ada lagi yang bisa membuat hidupnya kembali normal.

Sampai seterusnya hidup berjalan seperti itu. Live must go on, girl! Hidup bukan drama yang bisa langsung kau skip ke bagian ending yang bahagia!

Azura sudah lulus SMA, dan kini sudah menjadi mahasiswi Sastra di salah satu perguruan tinggi di Palangka Raya. Kehidupan keluarganya masih sama. Rumah masih sering sepi. Hanya ada masakan Bik Sum yang menemani tiap ia pulang ke rumah. Papanya pergi. Mamanya lebih sering kerja dari pada di rumah.

Hingga Azura bertemu Yara. Nayara W. Mahasiswi arsitektur semester satu yang tanpa ia sadari menjadi sahabatnya. Menjadi pengganti Altair yang menghilang entah ke mana. Menjadi seseorang yang kembali membuat Azura menjalani hidup lebih sebagaimana mestinya.

Dan kali ini takdir kembali mempermainkannya. Siapa yang tahu ternyata Yara adalah adik kandung Kak Nara? Kakak tingkat yang dulu pernah menjadi pengisi hatinya itu kini kuliah di Kedokteran. Dunia memang sempit, eo?

Kehidupan keluarga Azura setelah beberapa purnama berlalu pun tak datar-datar saja. Setelah bertahun-tahun orang tuanya berusaha menyimpan rahasia penyebab pertengkaran mereka, Azura pun akhirnya mengetahuinya. Mini-cutter yang sudah jarang ia gunakan semenjak kedatangan Altair dan kini digantikan Yara, kembali mengoreskan luka di pergelangan tangannya. Luka hati ditambah luka gores itu membuatnya kabur dari rumah dan memilih untuk menumpang di tempat Azura. Untuk sementara waktu. Sampai waktu yang tak ditentukan.

Dan berkat keharmonisan keluarga Yara, Azura pun kini merasakan bagaimana rasanya keluarga sesungguhnya. Mereka menerimanya layaknya anak kandung sendiri. Ia pun kini dekat dengan Kak Nara, lelaki yang dulu hanya bisa ia kagumi dari jauh.

Namun, saat dunianya yang hancur karena rahasia orang tuanya mulai tertata oleh bantuan keluarga Yara, Altair kembali muncul. Mengobrak-abrik kepingan masa lalu yang sudah berusaha ia pendam. Namun tidak bisa. Kehadiran Altair terlalu kuat untuknya. Bahkan setelah ia punya Kak Nara sekalipun. Altair masih menjadi bintang terterang di hatinya. Lalu, bagaimana hidup Azura selanjutnya setelah kedatangan Altair kembali? Kenapa laki-laki itu tiba-tiba muncul kembali setelah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar?

Yap. Bercerita tentang kehidupan seorang gadis yang hancur karena orang tua yang tak akur. Berusaha lari dari kenyataan lalu bertemu dengan secercah harapan yang membawanya ke jalan yang lebih terang.

Young-adult. Redaksi baru dari GPU yang pertama kali aku baca. Peralihan dari teenlit dan metropop.  Tak heran kalau ceritanya terasa seperti meraba untuk mencari jati diri. Pengarangnya pun baru pertama kali ini aku membaca karyanya. Walaupun ternyata sebelumnya sudah banyak karyanya yang lain.

Alasanku menjatuhkan pilihan untuk membaca (bahkan membeli Online) novel ini adalah… tak lain tak bukan karena Altair. Iya, Altair. Bintang terterang dari Rasi Aquila. Salah satu dari tiga bintang terterang pembentuk Summer Triangle.

Jadi… Aku baca novel ini gara-gara nama tokohnya nama bintang?

Yap. Sesederhana itu. Jadi, kalau kalian ingin karya kalian aku baca (atau bahkan aku beli sekalian wkwk) pakailah nama bintang. Apapun itu. Niscaya akan saya ambil, tak peduli kata orang. Oke abaikan.

Altair. Bintang terterang. Lalu aku lihat covenya. Ah, rasi bintang. Aku pun tak ragu membelinya lagi setelah membaca review di goodreads pun mengatakan kalau novel ini tak bisa dipandang remeh. Bintang 4 rata-rata. Maka aku pun segera memilihnya. Walaupun sebenarnya, sampai sekarang pun aku tak tahu maksud dari judul novel ini. Apa berhubungan dengan isinya? Entah aku yang tak tahu artinya atau bagaimana. Apa itu persona? Yang aku tahu hanya PESONA, hehe. Abaikan lagi.

Sekarang bahas ceritanya. Aku peringatkan, kalau kalian tidak ingin menebak-nebak sepanjang membaca novel ini, jangan baca review yang memberi spoiler! Sedikitpun itu! Karena aku, karena tak sengaja membaca satu kata dari review di goodreads, sepanjang membaca novel ini bawaanku menebak-nebak terus. Nggak bisa mengikuti dengan tenang. Walaupun lama kelamaan aku bisa mengendalikan diriku, menganggap bahwa aku tak tahu ceritanya tentang apa, akhirnya aku pun terbawa dengan ceritanya. Sulit memang. Menjadi tidak obyektif.

Ikut merasakan bagaimana sakit hatinya Azura. Ikut merasakan bagaimana kesalnya saat Altair tiba-tiba kembali dan menjadi munafik karena tak ingin kehilangannya lagi. Kuacungi jempol untuk Fakhrisina Amalia karena berhasil membawa aku larut dalam karya pertamanya yang aku baca.

Dan untuk ceritanya sendiri (mengabaikan fakta aku ‘kecolongan’ review orang), kalian tidak akan tahu apa yang terjadi sampai kalian membaca bab-bab akhir. Tentang siapa sebenarnya Altair dan tentang apa yang dihadapi Azura sesungguhnya. Terlebih endingnya yang boleh dibilang twist sekali (ini juga kata-kata di review orang yang membuatku tak ragu untuk beli). Tapi kalau boleh jujur, aku justru tidak suka dengan endingnya. Kalian tahu rasanya dibawa naik ke langit ke tujuh lalu dihempaskan tiba-tiba? Seperti itu lah.

Sepanjang perjalanan aku menikmati ceritanya. Tentang penyelesaian kisah hidup Azura pun aku cukup puas dengan eksekusinya. Namun masuk epilog… sesaat setelah aku selesai membacanya, aku berdecak kagum. Wow. Bisa-bisanya penulis membuat cerita seperti ini. Ditambah ending yang tak terduga. Lalu sedetik kemudian, ingatanku dibawa ke masa SMA, di saat di mana aku masih tergila-gila dengan Korea. Cerita novel ini, terutama endingnya, mengingatkanku dengan salah satu cerita telecinema dari negeri Gingseng. Cerita pendek, semacam film, yang dibintangi Hero Jaejoong dan Han Hyojoo (kalau kalian tahu maksudku, aku nggak akan sebut judul, nanti aku spoiler wkwk). Semuanya mengingatkanku pada film itu. Yah, walaupun tak sepenuhnya mirip. Tapi semua kesan baikku terhadap novel ini rusak sedikit karena setetes ingatan masa lalu, haha. Mungkin kalau aku belum pernah nonton film itu, novel ini bisa masuk jajaran novel favorit ku, hehe.

Tapi lupakan pendapatku. Itu hanya semacam ingatan yang tercampur. Kalau memang terinspirasi ya tidak ada salahnya. Toh juga tidak sama ceritanya. Selain tentang ingatanku itu, keseluruhan cerita yang dibawa Persona benar-benar membuatku larut. Aku suka cara Altair membuat Azura kembali bersemangat. Aku suka penjabaran penulis dengan sudut pandang orang pertama (Azura) untuk menceritakan semuanya. Aku juga suka latar belakang Palangka Raya yang diangkat, tak melulu ibukota. Dan aku suka penggambaran tokoh Kak Nara yang tidak setiba-tiba  itu berhasil menggantikan posisi Altair untuk mengubah hidup Azura. Dan tentu saja jalan cerita yang tidak bisa ditebak. Sulit untuk membawa cerita dengan tema seperti ini. Kalau aku sebut temanya apa, nanti benar-benar spoiler. Tidak asyik. Lebih baik tidak tahu apa-apa. Lebih asyik.

Kalau dari pengemasannya sendiri, aku suka covernya. Sudah kubilang, kan, segala sesuatu dengan bintang aku suka (subyektif sekali wkwk). Tidak bisa kau tebak ceritanya hanya dengan membaca sinopsis singkat di belakang cover dan melihat ilustrasi covernya. Harus dibaca dari awal sampai akhir. Jangan lompat langsung ke epilog. Itu pelanggaran besar!

Tapi aku nggak tahu memang ini seperti itu atau bukan, tapi aku rasa cetakannya terlalu kemayu. Covernya tipis, dan kertasnya melambai. Seperti tidak tegas. Mati segan hidup tak mau wkwk. Mungkin memang strategi pemasaran biar harga tetap mudah dijangkau kali, ya. Dibuat sangat berbeda dengan novel GPU biasanya yang terkesan kokoh dan angkuh wkwk. Tapi tetap nggak mengurangi keinginan untuk membaca kok.

Untuk karya pertama yang aku baca dari Fakhrisina Amalia, Persona berhasil mencuri hatiku. Abaikan tentang ingatan masa laluku yang terlalu kuat, kalau ada yang menyediakan novel karya penulis ini yang lain, aku bersedia membaca kok. Mungkin akan ku coba dengan mencari Happiness (atau Confession, ya?) yang katanya tidak bisa dihilangkan posisinya di hati walaupun sudah diobrak-abrik oleh pesona Persona.

Untuk keseluruhan, aku beri bintang empat. Tapi karena (lagi-lagi) ingatan masa laluku, aku turunkan jadi tiga-setengah. Tetap keren, kok! Ditunggu karya hebat selanjutnya, Kak!

Untuk kalian remaja yang sedang beranjak dewasa! Untuk kalian yang sedang mencari arti hidup sesungguhnya, Young-adult dari GPU ini bisa jadi pilihan!

Sekian dari saya. Kalau ada kesalahan atau mungkin kata yang kurang berkenan, mohon maaf. Semua kekurangan adalah saya, dan kelebihan hanya milik Allah. Selamat membaca!

Penulis:

- 96's line - Shim Changmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s