Lunchbox

Fanfiction, Oneshoot

Senin. Hari dimana kau bisa menemukan seorang Eunji tersenyum dengan lebarnya. Awal pekan yang sangat dinanti kehadirannya oleh gadis itu. Dimana kebanyakan orang membenci hari ini karena mereka harus kembali ke rutinitas harian setelah akhir pekan bersantai-santai, tidak bagi Eunji. Dalam seminggu, Senin adalah hari favoritnya. Karena hari Senin ia kembali bersekolah, yang juga berarti ia akan mendapatkan kotak bekalnya.

Udang saus manis, telur gulung, tumis wortel. Eunji menatap puas makanan di depannya. Seperti biasa, oppanya menyiapkan bekal harian untuknya dan menjadi penyemangat gadis itu untuk menjalani hari. Eoh. Seberat apapun tugas atau pelajaran hari itu, asalkan ia punya bekalnya, tak masalah. Baginya, jika kebutuhan perutnya sudah terpenuhi, segalanya akan baik-baik saja. Membawa bekal ke sekolah setiap hari juga sangat membantu bagi gadis itu karena ia termasuk orang yang hobi makan. Dan alasan lain Eunji selalu membawa bekal ke sekolah adalah untuk mengirit uang sakunya.

“Sepertinya enak!” gumam Nara, teman sebangku Eunji yang melihat bekal gadis itu. Eunji menoleh tajam. Segera ditutup kembali kotak bekalnya dan dimasukkan ke dalam loker mejanya. Nara melongo.

“Kau tidak boleh tertarik. Ini milikku!” ucap Eunji tajam.

Nara menatapnya tak percaya. “Eunji, aku takkan memintanya!” elaknya.

Eunji menggeleng. “Tidak~! Kau memang tidak meminta, tapi menghabiskan. Aku tidak mau. Ini jatahku,” balas Eunji sambil menjulurkan lidahnya.

“Bahkan dengan sahabatmu sendiri kau tidak mau berbagi?!”

“Eoh!” Angguk gadis berponi itu yakin.

Nara berdecak. “Eunji! Kau ini…!” geramnya. Sementara Eunji hanya meringis.

*****

Beberapa detik setelah bel istirahat kedua berbunyi, Eunji segera menyambar kotak bekalnya di dalam meja, tidak lupa tempat minumnya, kemudian berjalan keluar kelas.

“Eunji! Kau mau kemana?!” tanya Nara begitu melihat Eunji sudah berada di ujung pintu.

Eunji menoleh. “Bersembunyi. Agar kau tak meminta bekalku!” jawabnya.

“Heh?!”

Gadis itu meringis. “Hehehe. Maaf, Nara. Tapi aku benar-benar lapar. Kau sudah mengenalku, kan?” ujarnya kemudian meninggalkan kelas tanpa memperdulikan panggilan Nara.

Eunji dan Nara sudah bersahabat sejak mereka SMP. Selalu satu kelas, dan satu sekolah. Hampir 5 tahun bersama membuat Nara tahu segala kebiasaan Eunji, termasuk membawa bekal yang dibuatkan oppanya ke sekolah setiap hari, seafood kesukaan Eunji, dan hobi makannya. Ah. Jangan lupakan sifat terlalu irit Eunji, yang akhir-akhir ini semakin parah. Kalau dulu Eunji masih memakan bekalnya di kelas tanpa seorang pun boleh minta, kini ia sampai mencari tempat sepi agar teman-temannya tak menemukannya.

“Eoh? Cepat sekali? Sudah selesai?” tanya Nara heran saat melihat Eunji sudah kembali duduk di bangkunya, membanting asal kotak bekalnya, dan langsung menjatuhkan diri di atas meja. Eunji mengangguk sekilas. Wajahnya muram. Nara mengintip bekal yang dibawa Eunji. Masih penuh, berarti gadis itu belum memakannya. Tapi, kenapa banyak butiran pasir?

Tidak tahan, Eunji menggebrak mejanya pelan. “Ahh!! Nara, aku lapar! Apa aku boleh minta punyamu?” pintanya dengan wajah melas. Dengan sigap Nara menyembunyikan bekal yang belum habis ia makan. “Tidak mau~ Kita punya jatah sendiri!” elaknya sambil menjulurkan lidahnya.

Eunji mengerucutkan bibirnya kesal. “Aish! Semua gara-gara orang tadi!”

*****

Eunji menemukan sebuah bangku panjang di belakang perpustakaan. Senyumnya merekah begitu menyadari tempat ini sepi. Ia memutuskan untuk menghabiskan bekalnya di sini. Eunji pun berjalan mendekati bangku itu sambil menatap udang-udang di dalam kotak bekalnya lagi.

“Beruntung sekali! Sepi! Eunji, selamat menik—” Kalimatnya terhenti begitu tiba-tiba seseorang menubruknya dari belakang.

“Ah. Maaf!”

Eunji terdiam. Ia hanya bisa mengerjapkan matanya. Setelah kesadarannya kembali, ia menjerit. “KAU! APA YANG KAU LAKUKAN PADA BEKALKU?!”

Lelaki yang menabraknya dari belakang tadi itu tak menggubris sama sekali. Ia tetap berjalan cepat meninggalkan Eunji yang masih menatap bekalnya yang jatuh berceceran tak percaya.

*****

Selasa. Hari kedua dalam sepekan. Hari dimana kau bisa menemukan seorang Eunji tersenyum dengan manisnya. Seakan-akan hidup ini tak ada masalah baginya. Mengesampingkan apa yang ia alami di hari Senin, Eunji melangkah senang ke bangku perpustakaan. Dengan harapan ia bisa menikmati bekalnya tanpa gangguan seperti kemarin.

“Oh? Siapa kau?” tanya Eunji begitu ia melihat tempat persembunyian barunya sudah ditempati oleh seseorang. Di atas bangku panjang di belakang perpus itu terbaring seorang siswa lelaki. Dilihat dari seragamnya, sepertinya seonbae. Lelaki itu hanya melirik Eunji sekilas kemudian kembali memejamkan matanya.

Seonbae, bisakah kau pergi? Aku ingin makan di sini,” pinta Eunji.

“Kau mengusirku?”

“Eoh,” ucap Eunji sambil mengangguk yakin.

“Tidak mau,” jawab lelaki itu singkat. Bukannnya bangkit, lelaki itu malah semakin memonopoli bangku itu. Diluruskannya kedua kakinya hingga memenuhi hampir seluruh bangku. Eunji mendelik.

“Menyebalkan! Aku sudah memutuskan untuk menggunakan tempat ini setiap hari! Kau pergilah, cari tempat lain!” ujar Eunji. Tak peduli fakta bahwa yang sedang ia ajak bicara saat ini adalah seonbaenya.

Lelaki itu menggeleng. “Kalau kau mau makan, makan saja di sini,” katanya.

“Tidak mau. Nanti pasti kau minta. Aku tidak mau!”

Lelaki itu berdecak pelan. “Cih. Pelit sekali. Siapa juga yang ingin makananmu!”

Seonbae! Karena itu, tolong menyingkirlah!” ujar Eunji kesal. Seonbae itu hanya menggeleng. Eunji baru saja akan mengoceh lagi saat sebuah suara menyelanya.

“Oh? Eunji? Jadi di sini tempat kau bersembunyi?”

Eunji tersentak. Itu Nara. Dan gawatnya, sahabatnya itu tak sendirian, melainkan dengan beberapa teman sekelasnya. Refleks, ia menyembunyikan kotak bekalnya di belakang tubuh. “Sembunyi? Memang kenapa?” tanya Chen, salah seorang teman mereka.

Nara menatap Eunji usil. “Bekal… Ia tak mau bekalnya diminta.”

“Benarkah? Bekal seperti apa sampai tidak boleh diminta? Wah sepertinya enak!” celetuk Kai, teman lainnya, sambil mengintip ke belakang tubuh Eunji.

“HEI!! HEI! Bekalku! Ah! JANGAN!”

Tanpa dikomando, teman-temannya segera merebut kotak bekal itu dari tangannya. Kemudian mengambil satu persatu lauk yang ada di dalamnya. Eunji hanya bisa jatuh terduduk memandangi bekalnya menjadi korban perampasan.

“Apa yang kalian lakukan pada bekalku? Hiks. Udangku…”

Seonbae yang sedari tadi masih berbaring itu kemudian terkekeh. “Sepertinya kau tidak membutuhkan bangku ini lagi sekarang!”

*****

Rabu. Hari ketiga dalam sepekan. Hari di mana kelas Eunji kebagian pelajaran membingungkan dengan seonsaengnim membosankan sekaligus mengerikan. Sebut saja seonsaengnim itu Mr. Crab. Semembosankan apapun Mr. Crab, seberapa membingungkan materi pelajaran hari itu, Eunji masih bisa tersenyum asalkan ia memiliki bekalnya. Asalkan ia memberi makan cacing di perutnya dengan bekal buatan oppanya, semuanya akan baik-baik saja.

Tapi sepertinya hari ini tidak.

Eunji memandang jam dinding di kelasnya untuk kesekian kalinya, kemudian menghela napas. Nara yang jengah melihat kelakuan sahabatnya yang sedari tadi seperti itu menoleh. “Kenapa?” tanyanya pelan. Saat ini pelajaran masih berlangsung. Ia tak mau tertangkap basah tidak memperhatikan pelajaran seonsaengnim yang terkenal galak ini.

“Istirahatnya lama sekali~~! Bukankah seharusnya sudah waktunya?! Aku sudah lapar!” rengek Eunji kemudian menelungkupkan kepalanya di atas meja. Keinginannya untuk menghabiskan udang-udangnya sepertinya harus tertunda lagi setelah di istirahat pertama tadi ia tidak sempat karena mendapat tugas bersih-bersih ruang OSIS.

Nara melengos. Lagi-lagi masalah perut. “Lupakan keinginan makanmu. Kita tidak akan punya waktu istirahat!”

“Apa maksudmu?” tanya Eunji.

“Kau lupa? Kelas kita dihukum minggu ini. Takkan ada istirahat kedua sampai kita pulang nanti.”

Seketika Eunji terbangun. “APA?!”

Nara mencibir. “Makanya perhatikan seonsaengnim bicara, jangan melihat bekalmu terus!”

“Aish. Bagaimana ini?! Aku sudah lapar, Nara~~! Bagaimana dengan udang-udangku? Aku sudah janji akan memakannya secepatnya. Bagaimana ini?” rengek gadis itu agak keras, membuat beberapa pasang mata memandangnya.

Nara meringis melihat kelakuan temannya itu. “Ya! Hentikan tingkah konyolmu itu! Seonsaengnim bisa menegurmu!” bisiknya pelan.

“Tapi Nara, aku lapar~~!”

“Eunji!” panggilan dengan nada tegas itu seketika membuat Eunji terdiam. Gadis itu mendongak. Mr. Crab! Lelaki peruh baya berkumis tebal itu menatapnya tajam. Eunji meringis.

“Perhatikan atau kau berdiri di depan,” ancam seonsaengnim itu tegas. Eunji segera membetulkan posisi duduknya. Berdiri di depan bukan pilihan yang bagus. Apalagi di pelajaran Mr. Crab ini. Bisa menjadi petaka.

Setelah seonsaengnim itu berbalik, Eunji menarik kotak bekalnya keluar dari loker meja. Ia buka tutupnya. Ditatapnya udang-udang yang tertata rapi ditemani sarden dan beberapa kerang dalam.

“Maafkan aku, udang. Aku tak menepati janjiku. Akan ku temui kau setelah pulang sekolah nanti,” ucapnya lembut. Nara yang melihat semua itu hanya bisa bergidik.

“Eunji!”

Panggilan itu lagi. Eunji mendongak. Gawat! Mr. Crab sedang menatapnya!

“Serahkan kotak yang kau bawa! Kuperhatikan sedari tadi fokusmu lebih ke sana dari pada ke peajaran! Bawa kemari!” ujar seonsaengnim berkumis itu tajam. Mata Eunji melebar. Apa maksudnya?! Apa seonsaengnim itu mau menyita kotak bekalnya?! Jangan! Tidak boleh!

“Serahkan padaku sekarang!” ucap seonsaengnim itu keras. Eunji menciut. Hiks. Dengan langkah berat ia berjalan ke depan dan menyerahkannya ke Mr. Crab. “Kau bisa mengambilnya besok,” lanjutnya.

Percuma!

*****

Kamis. Hari keempat dalam sepekan. Hari di mana sebenarnya tidak ada yang spesial. Tapi bagi Eunji, hari apapun akan menjadi spesial. Asalkan ia bersama dengan bekalnya.

“Sempurna! Kenapa dari dulu aku tidak memilih UKS?!” Eunji memandang ruangan di depannya puas. Ruangan yang tepat untuk menghabiskan bekalnya tanpa gangguan orang lain.

“Oh? Ada orang tidur? Tidak apa-apa, Eunji! Ia sedang tidur. Takkan bisa merampas cumimu,” ucapnya pada diri sendiri saat melihat di balik tirai ada seorang sedang berbaring. Tidak enak badan mungkin.

Diletakkannya perlengkapan bekalnya di salah satu meja. Gadis itu tersenyum puas. Udang kecap, cumi goreng tepung, dan sarden. Semuanya mempesona. Senyumannya perlahan luntur begitu menyadari ada sesuatu yang kurang. “Ah, bodoh! Minumku! Tunggu sebentar cumi-cumi. Aku akan segera kembali!” ucapnya sambil menatap kotak bekalnya penuh kasih.

*****

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN PADA BEKALKU?!” jerit Eunji begitu melihat seseorang yang beberapa saat lalu masih tertidur di kasur kini terbangun, dengan sebuah kotak bekal di tangannya.

Lelaki yang sedang menikmati bekalnya itu mendongak. Orang itu lagi. Seonbae yang membuat bekal Eunji direnggut oleh teman-temannya beberapa hari lalu. “Bekalmu?”

Eunji berjalan cepat menghampirinya. Dengan wajah kesal ia berkata, “Yang kau makan itu punyaku!!”

“Eh?”

“Kenapa?” Sebuah suara lain menengahi. Eunji menoleh ke arahnya. Seorang seonbae juga, yang ia ketahui dari  name tag-nya bernama Henry. Mungkin teman lelaki itu.

“Bukankah kau bilang akan memberi bekal untukku?” tanya lelaki itu sambil menunjuk bekal yang baru saja ia makan.

“Memang. Tapi, hei! Bukan yang itu! Yang ini!” jawab Henry sambil mengambil kotak bekal yang semestinya.

“Ups.” Lelaki itu hanya bisa meringis. “Maaf,” ucapnya pelan.

Eunji menggembungkan pipinya kesal. “Bagaimana denganku sekarang?! Aku kelaparan!!” rengeknya.

“Err… Makan saja bekalku sebagai gantinya,” usul lelaki itu yang disetujui oleh kawannya.

Eunji menggeleng keras. “Tidak mau~~!!”

“Kau mau bekalmu? Aku belum menghabiskannya,” ujar lelaki itu lagi sambil menyodorkan bekal milik Eunji yang baru separuh ia makan.

“ITU BEKASMU! Tidak mau!!” jerit Eunji keras, membuat kedua lelaki di depannya menutup telinga. “Aish… Cumiku! Udangku! Bekalku!! Aaa!!!”

*****

Jumat. Hari kelima dalam sepekan. Hari dimana kelas Eunji kebagian pelajaran olahraga, pelajaran yang disukai seluruh temannya, terutama siswa lelaki. Tidak dengan Eunji. Gadis itu membenci olah raga. Namun, tidak ada ‘membenci hari karena sesuatu tak disukai’ dalam kamus Eunji. Karena bagi gadis berponi itu, setiap hari, kecuali Minggu, adalah hari yang menyenangkan. Yap. Karena ada bekalnya.

Kali ini pun demikian. Gadis itu membuka kotak bekalnya setelah selesai berganti pakaian olahraga. Ia tersenyum kecil. Udang saus manis pedas, kentang rebus, dan kacang merah kesukaannya cukup untuk membayar derita yang ia dapat dari olah raga nanti.

Panggilan Nara yang memintanya bergegas membuat Eunji terpaksa mengalihkan perhatiannya dari harta karunnya.

“Setelah ini aku akan memakanmu wahai udang-udang manis…” gumam gadis itu pelan lalu menutup bekalnya. Ia berlari mengejar Nara dan teman-temannya yang sudah lebih dulu ke lapangan.

Memikirkan tentang bagaimana ia akan menyantap bekalnya merupakan salah satu hobi Eunji. Tidak peduli dimana pun dan kapan pun, setiap Eunji membawa bekal dan belum memakannya, bekalnya pasti akan selalu tergiang di pikirannya. Bekalnya adalah segalanya. Selain bekalnya, takkan ada yang bisa menarik perhatiannya seutuhnya.

“EUNJI!!!”

Sebuah terikan keras yang Eunji kenali sebagai suara Nara memasuki telinganya. Gadis itu mendongak mencari Nara yang tadi berada di depannya. “Kenapa, Ra? Pakai teriak se–eh—” Belum sempat Eunji menyelesaikan pertanyaannya, mulutnya seketika terkunci begitu melihat sebuah bola basket melayang tepat ke arahnya.

“AWAS!”

Teriakan Nara satu-satunya suara terakhir yang sempat ia dengar sebelum semuanya gelap.

*****

Eunji mengerjap-ngerjapkan matanya. Gadis itu memicingkan matanya sekilas, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Seketika ia terbangun begitu menyadari saat ini ia terbaring di kasur di kamarnya. Bagaimana bisa? Seingatnya ia tadi berada di sekolah.

“Oh, kau sudah bangun?”

Suara Jino. Eunji menoleh. “Oppa! Apa yang terjadi?! Kenapa aku bisa di rumah?! Bagaimana sekolahku?!” tanyanya panik.

“Oh. Kau pingsan tadi. Kau lupa?”

Ah. Benar. Ia pingsan. Hal terakhir yang ia ingat adalah teriakan Nara dan bola basket yang meluncur cepat itu.

“Apa sesakit itu sampai kau harus terbaring selama itu? Kau tahu ini jam berapa?” tanya Jino sambil mengambil jam beker di atas meja dan melemparkannya ke Eunji.

Eunji menerimanya dan matanya mendelik begitu melihat jarum pendek hampir menyentuh angka 5. Jam 5 kurang 5 menit. “Bagaimana ini?! Bagaimana dengan bekalku?! Aku belum memakannya!!”

“Eiiy… Sudah bau tau!”

“Tidak apa!! Dimana bekalku?! Akan ku makan!” ucap Eunji gelagapan dan segera bangkit dari kasurnya.

Jino menunjuk ke luar jendela. “Bekalmu… Sudah ku berikan pada Chiki.” Eunji mengerjapkan matanya beberapa kali. Apa katanya? Chiki? Kucing peliharaan mereka? Bekalnya dimakan kucingnya? Tidak! Itu… pelecehan!

OPPA!!”

*****

Sabtu. Hari kelima dalam sepekan. Hari yang sebenarnya tidak diharapkan oleh Eunji kehadirannya. Karena apa? Setelah Sabtu adalah Minggu. Hari Minggu sekolah libur. Itu tandanya bekalnya juga libur. Dan Eunji tak menyukai fakta itu.

Eunji berjalan pelan menuju UKS. Layaknya pencuri, ia mengendap perlahan ke dalam, mengintip setiap sisi ruangan, meyakinkan diri bahwa tak ada seorang pun di dalamnya. Ia tak mau kejadian yang lalu terulang kembali.

Ruangan UKS selesai diperiksa, sekarang tinggal mengecek lingkungan luar. Gadis itu berlari pelan ke arah pintu, mengawasi koridor di depannya. Setelah memastikan UKS dan sekitarnya tidak ada orang, Eunji tertawa penuh kemenangan. “AKHIRNYA! TIDAK ADA PENGGANGGU JUGA!”

Ditutupnya pintu UKS kemudian ia tarik sebuah kursi untuknya duduk. Gadis itu menata semua peralatan perangnya untuk makan di atas meja di depannya. Bekalnya, sendok dan garpu, serta botol minumannya tak ketinggalan. Ia tak mau mengulang kesalahan yang lalu. Kali ini ia menyiapkan segalanya dengan sempurna. Gadis itu tersenyum puas begitu melihat udang, belut, dan tumis kacang panjang berjajar rapi, siap untuk berpindah tempat ke perutnya.

“Selamat makan…” Ia mengambil sendok dan mulai menyendokkan udang ke mulutnya. Gerakan tangannya terhenti begitu terdengar suara orang terbatuk-batuk. Gadis itu menoleh, tidak ada siapapun. Ia mengedikkan bahunya dan kembali focus pada bekalnya.

“Selamat makan…” ucapnya lagi sambil kembali mengambil udang dan menyendokkannya ke mulut. Lagi-lagi gerakannya terhenti karena suara orang terbatuk. Eunji menoleh. Tidak ada siapapun. Gadis itu menggeleng. Mungkin suara itu hanya halusinasinya saja.

“Selamat makan…” ucapnya sekali lagi. Kali ini ia baru menyendok udang dan suara batuk itu terdengar lagi. Gadis itu membanting sendoknya pelan. Ia berdecak kesal. Ia pikir akhir pekannya bisa berjalan lancar. Sepertinya kembali akan gagal.

“Aish. Apa lagi kali ini?!” desisnya pelan sambil bangkit dari kursi dan mencari sumber suara. Tidak mungkin di dalam UKS, karena tadi sudah ia cek dan tidak ada orang. Apa mungkin di luar?

Gadis itu berjalan menuju pintu. Ia melongokkan kepalanya ke luar, dan kosong. Lalu dimana penganggu itu?

Uhuk. Uhuk. Terdengar lagi. Eunji berjalan pelan mengikuti sumber suara. Dahinya mengernyit. Di balik jendela, kah? Dibukanya gorden yang menutup jendela itu.

Seonbae?! Apa yang kau lakukan di sana?”

Di luar, tepatnya di belakang jendela UKS, seonbae yang akhir-akhir ini berseliweran di hadapannya meringkuk menekuk lututnya. Lelaki itu terbatuk. Ia bahkan tak menggubris panggilan Eunji.

Sejenak Eunji merasa kasihan. Sepertinya seonbaenya itu sakit. Tapi kenapa di luar? Ia menatap lelaki itu, kemudian beralih ke bekalnya yang belum ia makan sama sekali, dan kembali menatap seonbaenya.

Gadis itu mendesah. Dihampirinya meja tempat kotak bekalnya berada. “Udang, sepertinya banyak sekali rintangan kita. Tunggu sebentar lagi, yah. Aku akan segera kembali,” ucap Eunji sambil menutup kotak bekalnya. Kemudian ia berlari kecil meninggalkan UKS, menuju ke tempat seonbae itu berada.

*****

“Oh? Kau. Gadis pelit,” ucap lelaki itu terpatah-patah begitu melihat Eunji berdiri di hadapannya. Eunji menatap lelaki itu kesal.

“Suara batukmu menggangguku! Kau tau? Aku baru saja akan makan saat kau batuk batuk dan— KYAA! SEONBAE?! KAU KENAPA?!” jerit Eunji begitu melihat bekas-bekas tisu dengan bercak darah tersebar di sekeliling tubuh seonbae yang sampai sekarang belum ia ketahui namanya itu. Tidak ada name-tag yang bisa memberitahu identitasnya dan Eunji sendiri tidak berniat untuk bertanya. Ingat, gara-gara seonbae itu bekalnya raup oleh teman-temannya.

Lelaki itu terkekeh. “Wajahmu menakutkan! Aku tidak apa-apa!”

“Lalu itu?” tanya Eunji takut sembari menunjuk tisu-tisu yang berterbaran.

“Alergi. Sudah biasa. Karena itu aku di luar. Aku tidak mau mengotori UKS,” jawab lelaki itu. Eunji mengangguk sekilas. Karena alergi ternyata. Tapi kenapa sampai separah itu? “Daripada kau memandangku seperti itu, lebih baik bantu aku mencari obat. Obatku terjatuh di sini.”

“Ah. Obat. Baiklah…” Baru selangkah ia mencari, tangannya terdiam.

“Kenapa?” tanya seonbae itu heran.

“Aku berjanji pada udangku untuk kembali secepat mungkin. Jika aku membantu mencari obatmu, itu akan memakan waktu. Udangku akan menunggu lama,” jawabnya polos. Lelaki itu menatap Eunji tak percaya.

Eunji menggigit bibir bawahnya. “Aish. Baiklah, baiklah. Udangku bisa menunggu!” ujarnya sambil mulai membantu mencari. Selang beberapa menit, gadis itu merengek, “Seonbae… kenapa aku selalu gagal makan bekal setiap ada kau? Apa aku kena kutukan?!”

*****

“Oh? Kau datang lagi!” sapa Henry begitu melihat Eunji berjalan masuk ke UKS. “Eung? Kau? Dari mana saja?” tanyanya kemudian saat melihat teman yang ia tunggu itu berjalan di belakang Eunji. Yang ditanya malah mengabaikan dan melangkah santai ke kursi di sudut ruangan, mengambil botol air minumnya yang sengaja ia tinggal di UKS, lalu meneguknya. Batuknya masih mengganggu.

Seonbae batuk-batuk di luar. Parah. Sangat parah,” jawab Eunji dramatis.

Henry menggeleng. “Tidak. Itu biasa. Itu juga alasan kenapa dia sering ke UKS. Sudah kuperingatkan untuk tidak makan yang aneh-aneh tapi tetap saja.”

Eunji menggedikkan bahunya tak peduli. Sekarang ia hanya ingin makan. Melihat Henry memakan sesuatu dengan lahapnya, ia bertanya, “Seonbae, apa yang kau makan?”

“Ah. Ini, enak sekali. Karena ditinggal begitu saja, aku jadi tertarik,” jawab Henry sambil menunjukkan sebuah kotak makan yang sudah berkurang setengahnya.

“UDANGKU!!” jerit Eunji.

“Err… Milikmu?!”

“AH! BAGAIMANA INI?! UDANGKU!!”

“Maaf. Aku pikir ia terlantar. Jadi aku makan.”

“Tidak… Udangku…”

*****

Senin. Hari dimana kau bisa menemukan seorang Eunji tersenyum dengan lebarnya. Awal pekan yang sangat dinanti kehadirannya oleh gadis itu… dulu. Sekarang, tidak ada lagi Eunji yang tersenyum dengan lebarnya. Tidak ada lagi bekal yang selalu gadis itu banggakan pada Nara. Tidak ada lagi penyemangat dalam menjalani hari-harinya. Yang ada hanya wajah muram, tidak bersemangat, dan… kelaparan. Senin baginya kini sama seperti Senin bagi orang lain. Tidak ada yang special. Jika bukan karena keteledoran oppanya yang… euh. Tidak. Eunji bahkan tidak tega mengingatnya. Bagaimana bisa oppanya seceroboh itu?!

Nara terkikik pelan melihat sahabatnya yang dulu selalu ribut dengan bekalnya itu kini terdiam. Eunji sudah menceritakan semuanya lewat telpon semalam. Alasan kenapa ia menjadi seperti ini.

“Kau yakin tidak mau membawa bekal lagi?” tanya Nara.

Eunji mengangguk pelan. “Eoh. Aku trauma! Bagaimana bisa ia membuatkanku bekal seperti itu?! Beruntung aku tidak memakannya minggu lalu. Jika bukan oppaku yang membuatnya aku mau.”

“Lalu bagaimana nasib perutmu? Mulai sekarang kau akan membeli makanan di kafe?” tanya Nara kemudian. Kasihan juga melihat Eunji hanya meletakkan kepalanya di atas meja tanpa semangat sedari tadi.

Eunji menggeleng pelan.“Tidak. Itu akan membuang uang,” jawabnya pelan.

Nara melengos. Sepertinya sifat irit lebih ke pelit itu takkan bisa dihilangkan dari diri Eunji. Tidak bisa berubah. Nara menghela napas. “Terserah kau sajalah.”

Eunji hanya berdeham pelan. Pikirannya kini sibuk mencari cara bagaimana ia bisa berdamai dengan cacing perutnya tanpa kehadiran bekal oppanya. Tiba-tiba matanya menangkap keberadaan sebuah kotak di atas meja Nara. Sebuah ide cemerlang terlintas di benaknya. Gadis itu tersenyum kecil.

“Ada apa? Kenapa kau tersenyum sendiri?” tanya Nara saat mengetahui teman sebangkunya itu terus tersenyum sedari tadi.

“Nara, kau temanku, kan?” ucap Eunji dengan nada imut. Nara menelan ludah. Firasatnya mengatakan akan terjadi hal buruk. Ragu, ia mengangguk.

“Nara… Bagaimana kalau mulai sekarang kau berbagi bekal denganku?! Ide bagus, bukan?”

*****

-Sabtu, setelah pulang sekolah-

Jino melongokkan kepalanya ke dalam UKS, mencari sosok seseorang. Ia tersenyum begitu mendapati apa yang ia cari. “HOY!” sapanya.

Seseorang yang sedang bersandar di kursi di sudut ruangan itu menoleh. “Oh. Kau, Jino.”

“Bagaimana? Sukses?” tanya Jino sambil menghampiri tempat kawannya itu duduk.

Lelaki itu mengangguk. “Eoh! Kau ganti berhutang padaku! Lihat! Aku sampai berdarah-darah gara-gara udangmu itu!” ucapnya kesal sambil menunjukkan bekas tisunya yang masih terdapat bercak merah.

Jino terkekeh. Ia menepuk bahu temannya itu pelan. “Kau berlebihan, teman! Tapi… terima kasih. Kau sangat membantu!”

“Kau tau? Adikmu itu hampir lebih memilih udang-udangnya daripada membantuku mencari obat. Gadis macam apa itu?!”

Jino terkikik. Adiknya memang seperti itu. Terlalu menyukai makan. Apalagi yang berhubungan dengan seafood favoritnya. “Maafkan dia. Memang seperti itulah. Karena itu aku meminta bantuanmu! Setidaknya seminggu ini ia tidak memakan bekalnya untuk dirinya sendiri,” kata Jino senang.

Lelaki itu berdeham. “Gara-gara kau aku yang harus memakan udang-udang menjijikkan itu! Kalau bukan karena aku berhutang budi padamu, aku takkan sudi melakukan ini,” protesnya. Jino hanya meringis sambil membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan tengahnya. “Ngomong-ngomong, apa bahan-bahan yang kau masukkan ke bekal adikmu? Kalau hanya udang aku takkan separah ini!” adunya sambil menunjukkan tisu yang masih ia pegang. Masih dengan bercak merahnya.

“Makanan wajibnya udang atau cumi. Emm… Kemudian minggu ini aku tambah sarden, kerang, atau belut,” jawabnya santai.

“Sarden?”

Jino menangguk. “Eoh. Sarden buatan pabrik!” jawabnya pasti.

“Harusnya tidak apa-apa. Aku hanya alergi udang. Kenapa sampai seperti ini? Kau yakin tidak memasukkan bahan-bahan berbahaya di dalamnya?”

Dahi Jino mengerut. Tak lama berselang, wajahnya menegang.

“Ada apa?”

“Hari apa kau memakan bekal adikku?!” tanya Jino panik.

“Sepertinya Kamis. Kenapa?” ia balik bertanya. Diambilnya botolnya dan diteguknya pelan. Batuknya belum juga berhenti.

“ASTAGA! AKU TAHU KENAPA KAU SAMPAI BATUK SEPARAH ITU! MAAFKAN AKU! AKU SALAH AMBIL! SARDEN YANG KU PAKAI ITU SEHARUSNYA UNTUK MAKANAN KUCINGKU! DAN PARAHNYA… MAKANAN ITU SUDAH KADALUARSA!

Lelaki itu tersedak.

***** END *****

[KaSoo] When I Was The Prettist

Fanfiction, Oneshoot

wheniwas

Title       : When I Was The Prettist

Author  : Kira

Cast        : Kim Myungsoo (Infinite), Yang Kahee (OC)

Genre    : Romance, School

Length  : 3300~ words

Rating   : PG-15

 *****

Annyeong! Aku bawa fanfict gaje lagi. ini lanjutan seriesnya Kahee n Myungsoo alias KaSoo couple yah. Biasa sih kalau nggak jelas, nggak runtut, nggak ada feel, dan typo. maklum masih belajar XD Ini murni ide saya. dapet inspirasi dari pengalaman temen, kekeke. Posternya rada gaje, yah? Maklum. itu juga baru latian XD

Please Read, Like, and Comment, okeeh? Don’t be a Plagiator!

*****